Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengunyah Es Batu, Apakah Aman untuk Kesehatan?

Mengunyah Es Batu, Apakah Aman untuk Kesehatan?
ilustrasi mengunyah es batu (unsplash.com/Tuccera LLC)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Mengunyah es batu bisa merusak gigi, terutama enamel dan struktur gigi.

  • Kebiasaan ini dapat terkait kondisi medis tertentu, seperti anemia defisiensi besi.

  • Sesekali tidak berbahaya, tetapi jika sering dilakukan perlu perhatian lebih.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Minuman sudah habis diseruput, sisa es batunya saja. Karena sayang, banyak orang yang menghabiskannya. Memang tidak ada rasanya, tapi mengunyah es batu bisa memberikan keasyikan tersendiri. Apakah kamu sering melakukan hal yang sama?

Makan es batu memang terdengar sangat sepele. Namun, bagaimanapun juga, itu hanyalah air putih yang dibekukan, kan? Terlebih lagi, air baik untuk kesehatan. Lalu kenapa dipersoalkan?

Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Faktanya, kebiasaan tersebut bisa mendatangkan keburukan untuk kesehatan. Bagaimana bisa? Simak penjelasannya berikut ini sampai habis, ya!

Table of Content

1. Dampaknya terhadap kesehatan gigi

1. Dampaknya terhadap kesehatan gigi

Gigi dirancang untuk mengunyah makanan dengan tekstur tertentu, bukan benda keras seperti es batu. Enamel, lapisan terluar gigi yang berfungsi melindungi struktur di dalamnya, memang kuat, tetapi tidak kebal terhadap tekanan ekstrem berulang.

Mengunyah es batu dapat menyebabkan retakan mikro pada enamel. Kerusakan ini mungkin tidak langsung terasa, tetapi seiring waktu dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius, seperti gigi retak atau patah.

Selain itu, suhu dingin ekstrem dari es batu dapat meningkatkan sensitivitas gigi, terutama jika enamel sudah mulai menipis. Kombinasi tekanan mekanis dan perubahan suhu membuat kebiasaan ini berisiko tinggi bagi kesehatan gigi jangka panjang.

2. Risiko kerusakan jaringan mulut

Ilustrasi es batu.
ilustrasi es batu (pixabay.com/hans)

Tidak hanya gigi, jaringan lunak di dalam mulut juga bisa terdampak. Mengunyah es batu dapat melukai gusi, lidah, atau bagian dalam pipi, terutama jika es batunya tajam atau tidak rata.

Luka kecil yang terjadi berulang dapat meningkatkan risiko infeksi, terutama jika kebersihan mulut tidak optimal. Dalam beberapa kasus, trauma berulang juga dapat menyebabkan peradangan kronis pada jaringan mulut.

Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan oral yang melibatkan tekanan berlebih dapat memengaruhi kesehatan jaringan mulut secara keseluruhan, termasuk meningkatkan risiko gangguan temporomandibular (TMJ).

3. Hubungan dengan anemia defisiensi besi

Fakta menarik, ternyata ada hubungan antara kebiasaan mengunyah es batu dan anemia defisiensi besi. Kondisi ini sering ditemukan pada individu dengan pagofagia (konsumsi es atau minuman dingin secara kompulsif).

Menurut sebuah penelitian, mengunyah es dapat meningkatkan kewaspadaan pada orang dengan anemia. Hal ini diduga karena efek stimulasi pada aliran darah ke otak.

Namun, ini bukan solusi untuk anemia. Justru, kebiasaan ini sering menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengalami kekurangan zat besi. Jadi, jika kamu atau orang yang kamu kenal memiliki dorongan kuat untuk mengunyah es secara terus-menerus, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

4. Potensi gangguan pada sendi rahang (TMJ)

Ilustrasi es batu.
ilustrasi es batu (pexels.com/Srattha Nualsate)

Mengunyah es batu memberikan tekanan berlebih pada sendi rahang atau temporomandibular joint (TMJ). Sendi ini bertanggung jawab atas pergerakan membuka dan menutup mulut.

Tekanan berulang dari benda keras dapat menyebabkan ketegangan pada otot dan sendi, yang dalam jangka panjang bisa memicu gangguan TMJ. Gejalanya meliputi nyeri rahang, bunyi "klik", hingga kesulitan membuka mulut.

Kebiasaan seperti menggemeretakkan gigi atau mengunyah benda keras merupakan faktor risiko utama gangguan TMJ.

5. Risiko tersedak dan cedera

Mengunyah es batu juga memiliki risiko fisik yang lebih langsung, seperti tersedak atau melukai tenggorokan. Potongan es yang tidak sengaja tertelan bisa menyebabkan ketidaknyamanan atau bahkan cedera ringan.

Walaupun jarang, tetapi risiko ini tetap ada, terutama jika mengunyah dilakukan dengan terburu-buru atau sedang tidak fokus.

Selain itu, kebiasaan ini juga dapat mengganggu pola makan jika dilakukan secara berlebihan, meskipun dampaknya tidak sebesar faktor lain.

6. Apakah aman jika dilakukan sesekali?

Ilustrasi es batu.
ilustrasi es batu (freepik.com/freepik)

Mengunyah es batu sesekali biasa tidak menimbulkan masalah serius pada individu dengan gigi dan kesehatan mulut yang baik. Namun, frekuensi dan intensitas menjadi faktor penentu utama risiko.

Jika dilakukan secara rutin atau menjadi kebiasaan, risiko kerusakan gigi dan masalah kesehatan lain meningkat secara signifikan. Dalam konteks ini, penting untuk membedakan antara kebiasaan ringan dan perilaku kompulsif.

Pendekatan terbaik adalah memperhatikan sinyal tubuh. Jika keinginan mengunyah es terasa terus-menerus atau tidak terkendali, sebaiknya temui dokter untuk memastikan tidak ada kondisi yang mendasarinya.

Mengunyah es batu tampaknya sepele, tetapi dampaknya terhadap kesehatan tidak bisa diabaikan. Dari kerusakan gigi hingga kemungkinan menjadi tanda anemia.

Sesekali dilakukan risikonya relatif kecil. Namun, jika menjadi kebiasaan, penting untuk mulai memperhatikan dan mencari tahu penyebabnya. Mengetahuinya bisa menjadi langkah awal menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More