Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Orang dengan Diabetes Boleh Ikut Puasa Ramadan?

Ilustrasi pasien diabetes.
ilustrasi orang dengan diabetes (IDN Times/Novaya Siantita)
Intinya sih...
  • Orang dengan diabetes boleh berpuasa dalam kondisi tertentu, tetapi harus melalui penilaian risiko medis.
  • Risiko utama saat puasa adalah hipoglikemia, hiperglikemia, dehidrasi, dan ketoasidosis.
  • Pemantauan gula darah dan penyesuaian obat adalah kunci keamanan selama Ramadan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan adalah momen spiritual yang sangat dinanti. Namun, bagi orang dengan diabetes, bulan puasa juga membawa pertanyaan besar, apakah aman menahan makan dan minum lebih dari 12 jam setiap hari?

Diabetes adalah kondisi kronis yang memengaruhi cara tubuh mengatur gula darah. Ketika pola makan berubah drastis, seperti saat puasa Ramadan, keseimbangan ini bisa terganggu. Perubahan waktu makan, jumlah asupan, serta jadwal obat berpotensi memengaruhi kadar glukosa secara signifikan.

Organisasi kesehatan global seperti International Diabetes Federation (IDF) dan Diabetes and Ramadan International Alliance (DAR) telah menyusun panduan khusus terkait puasa Ramadan bagi orang dengan diabetes.

1. Bolehkah orang dengan diabetes berpuasa?

Jawabannya: boleh, tetapi tidak untuk semua orang dan tidak tanpa persiapan.

Menurut pedoman IDF-DAR Practical Guidelines, orang dengan diabetes dikategorikan ke dalam kelompok risiko rendah, sedang, tinggi, atau sangat tinggi berdasarkan jenis diabetes, kontrol gula darah, riwayat komplikasi, penggunaan insulin, dan kondisi kesehatan lain.

  • Risiko rendah–sedang: sebagian pasien dengan diabetes tipe 2 yang terkontrol baik mungkin dapat berpuasa dengan pemantauan ketat.
  • Risiko tinggi–sangat tinggi: termasuk mereka dengan riwayat hipoglikemia berat, ketoasidosis, komplikasi ginjal, atau kontrol gula darah buruk—umumnya tidak disarankan berpuasa.

Studi besar EPIDIAR yang melibatkan lebih dari 12.000 pasien di 13 negara menunjukkan bahwa selama Ramadan terjadi peningkatan kejadian hipoglikemia berat, terutama pada pasien diabetes tipe 1. Data ini memperkuat pentingnya stratifikasi risiko sebelum berpuasa.

2. Pentingnya konsultasi dulu dengan dokter sebelum puasa

Ilustrasi bulan Ramadan.
ilustrasi bulan Ramadan (pexels.com/Thirdman)

Konsultasi medis sebelum Ramadan bukan formalitas. Dokter perlu melakukan evaluasi menyeluruh, meliputi:

  • HbA1c (kontrol gula darah 2–3 bulan terakhir).
  • Frekuensi hipoglikemia sebelumnya.
  • Fungsi ginjal dan hati.
  • Tekanan darah dan profil lipid.
  • Jenis serta dosis obat atau insulin.

Menurut American Diabetes Association (ADA), perubahan jadwal makan memerlukan penyesuaian terapi, terutama pada pasien yang menggunakan insulin atau sulfonilurea.

Dokter juga akan memberikan edukasi tentang kapan harus membatalkan puasa, misalnya jika gula darah <70 mg/dL atau >300 mg/dL.

3. Risiko pada orang dengan diabetes saat berpuasa

Puasa dapat memicu beberapa risiko utama:

  • Hipoglikemia

Penurunan gula darah terlalu rendah akibat tidak makan dalam waktu lama, terutama pada pengguna insulin atau obat tertentu.

Lonjakan gula darah setelah berbuka jika konsumsi makanan tinggi gula berlebihan.

  • Dehidrasi dan trombosis

Kurangnya cairan dapat memperburuk viskositas darah (ukuran kekentalan atau resistansi darah terhadap aliran—makin tinggi viskositas, makin sulit darah mengalir dan makin besar beban kerja jantung), terutama pada suhu panas.

  • Ketoasidosis diabetik (terutama tipe 1)

Kondisi serius akibat kekurangan insulin yang memicu produksi keton berlebihan.

Studi menunjukkan peningkatan risiko hipoglikemia berat hingga beberapa kali lipat selama Ramadan dibanding bulan biasa. Bukannya menakut-nakuti, tetapi agar keputusan berpuasa dilakukan secara sadar dan terukur.

4. Pentingnya memantau kadar gula darah

Ilustrasi orang dengan diabetes.
ilustrasi diabetes (IDN Times/Novaya Siantita)

Salah satu kesalahpahaman yang masih beredar adalah anggapan bahwa cek gula darah membatalkan puasa. Secara medis dan berdasarkan banyak otoritas keagamaan, pemeriksaan gula darah melalui tusuk jari tidak membatalkan puasa.

Jika dokter memperbolehkan untuk berpuasa, penting untuk memantau kadar gula darah lebih sering. Orang dengan diabetes harus cek kadar gula darah selama dan setelah berpuasa sehingga kadar gula darahnya terpantau. Tujuannya untuk menghindari kondisi kadar gula darah terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Pemantauan rutin gula darah sangat penting, terutama pada waktu:

  • Sebelum sahur.
  • Siang hari.
  • Sebelum berbuka.
  • Dua jam setelah berbuka.

Pemantauan ini membantu mencegah komplikasi serius dan menentukan kapan puasa harus dihentikan demi keselamatan.

Sebagian orang dengan diabetes bisa menjalani puasa Ramadan dengan aman, tetapi sebagian lain justru berisiko tinggi mengalami komplikasi. Kuncinya adalah evaluasi medis, edukasi yang memadai, dan disiplin memantau gula darah. Ibadah idealnya tidak mengorbankan keselamatan. Dengan pendampingan dokter, keputusan berpuasa dapat dilakukan secara bijak.

Referensi

Mohamed Hassanein et al., “Diabetes and Ramadan: Practical Guidelines 2021,” Diabetes Research and Clinical Practice 185 (January 8, 2022): 109185, https://doi.org/10.1016/j.diabres.2021.109185.

Ibrahim Salti et al., “A Population-Based Study of Diabetes and Its Characteristics During the Fasting Month of Ramadan in 13 Countries,” Diabetes Care 27, no. 10 (October 1, 2004): 2306–11, https://doi.org/10.2337/diacare.27.10.2306.

Benjamin Page, “About the Artist: Eleonora Nigro, MSc,” Diabetes Care 49, no. 2 (January 20, 2026): 213, https://doi.org/10.2337/dci25-0138.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

5 Alasan Pekerja Kantoran Rentan Terkena Hipertensi, Wajib Diwaspadai!

16 Feb 2026, 06:08 WIBHealth