Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Pneumonia Bisa Kambuh setelah Sembuh? Ini Faktanya
ilustrasi pneumonia (freepik.com/benzoix)
  • Pneumonia dapat terjadi lagi setelah sembuh, umumnya akibat infeksi baru oleh virus atau bakteri yang berbeda, bukan selalu kambuhnya infeksi sebelumnya.
  • Risiko pneumonia berulang meningkat pada bayi, anak-anak, lansia, orang dengan imun lemah, serta penderita asma, PPOK, diabetes, dan gangguan jantung.
  • Gejala yang kembali muncul perlu diperiksa dokter; pencegahan meliputi kebersihan tangan, menghindari asap rokok, pola hidup sehat, vaksinasi sesuai anjuran, dan pengelolaan penyakit kronis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah sembuh dari pneumonia, tetapi khawatir penyakit ini bisa muncul lagi di kemudian hari? Wajar kalau kamu merasa waswas, apalagi jika sebelumnya sempat mengalami batuk, sesak napas, atau demam yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Meski gejalanya sudah mereda, bukan berarti seseorang gak mungkin terkena pneumonia lagi, lho.

Pneumonia bisa disebabkan oleh berbagai jenis kuman, seperti bakteri dan virus, yang menginfeksi paru-paru. Meski sudah sembuh, seseorang tetap bisa terkena pneumonia lagi, terutama jika memiliki kondisi tertentu yang membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi. Nah, sebenarnya apa yang membuat pneumonia bisa kambuh setelah sembuh, dan siapa saja yang lebih berisiko mengalaminya? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

1. Pneumonia bisa terjadi lagi meski sebelumnya sudah sembuh

ilustrasi batuk (magnific.com/8photo)

Setelah menjalani pengobatan dan merasa kondisi tubuh kembali bugar, kamu mungkin berpikir pneumonia gak akan muncul kembali. Namun, seseorang masih bisa mengalami pneumonia untuk kedua kalinya, meskipun sebelumnnya sudah dinyatakan sembuh. Situasi ini mungkin terjadi akibat infeksi baru, bukan berarti penyakit yang dulu akan selalu muncul lagi.

Pneumonia bisa disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, seperti virus dan bakteri, sehingga seseorang masih memiliki kemungkinan terinfeksi dikemudian hari. Selain itu, faktor penyebab pneumonia yang pertama gak selalu sama dengan infeksi selanjutnya. Jadi, kalau muncul gejala seperti demam, batuk, atau sesak napas, segeralah konsultasi ke dokter untuk mengetahui penyebab yang pasti.

2. Daya tahan tubuh ikut memengaruhi risiko pneumonia berulang

ilustrasi mudah lelah (magnific.com/stockking)

Pernah merasa gampang sakit saat tubuh sedang kelelahan atau setelah kurang tidur? Kondisi tubuh dapat memengaruhi kemampuan sistem kekebalan dalam melawan infeksi, termasuk yang menyerang paru-paru. Oleh karena itu, orang yang memiliki sistem imun lemah cenderung lebih rentan mengalami pneumonia.

Risiko ini juga meningkat pada orang yang mengidap penyakit kronis, menjalani terapi tertentu yang melemahkan sistem imun, atau memiliki masalah kesehatan lainnya. Namun, orang yang sepenuhnya sehat pun gak terhindar dari risiko pneumonia. Mempertahankan pola makan yang baik, cukup tidur, dan aktif bergerak dapat membantu menjaga kesehatan, meskipun gak menjamin bahwa seseorang akan bebas dari infeksi.

3. Usia dan penyakit tertentu bisa meningkatkan risiko

ilustrasi lansia yang batuk (magnific.com/magnific)

Pneumonia gak hanya menyerang orang yang sedang sakit atau memiliki sistem kekebalan yang lemah. Bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia juga berada pada risiko lebih tinggi untuk terinfeksi karena karakteristik sistem kekebalan tubuh mereka yang berbeda. Dalam kelompok usia ini, pneumonia dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius sehingga memerlukan perhatian lebih.

Selain usia, kondisi kesehatan seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), diabetes, dan gangguan jantung dapat turut meningkatkan kemungkinan terkena pneumonia. Kondisi-kondisi ini dapat menjadikan tubuh lebih rentan terhadap infeksi atau memperberat dampak jika pneumonia menyerang. Kalau kamu memiliki kondisi kesehatan tertentu dan pernah mengalami pneumonia, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk memahami langkah pencegahan yang diperlukan.

4. Gejala yang muncul kembali belum tentu berarti pneumonia kambuh

ilustrasi sakit flu dan batuk (magnific.com/benzoix)

Batuk yang tidak sepenuhnya hilang setelah mengalami pneumonia dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama kalau kamu sudah menjalani pengobatan. Namun, batuk dan rasa lelah terkadang masih ada selama masa pemulihan, meskipun infeksi telah membaik. Jadi, kemunculan gejala tersebut gak selalu menandakan bahwa pneumonia sudah kambuh, lho.

Meski begitu, tetaplah waspada jika batuk semakin parah, demam muncul lagi, napas terasa lebih pendek, atau nyeri dada semakin mengganggu. Gejala-gejala ini bisa menunjukkan infeksi yang belum sembuh, infeksi baru, atau isu kesehatan lain yang perlu ditangani. Sebaiknya jangan angsung menyimpulkan penyebabnya sendiri, ya, karena dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan fisik dan tes tambahan untuk memastikan diagnosis.

5. Pneumonia berulang perlu diperiksa untuk mencari penyebabnya

ilustrasi periksa ke dokter (magnific.com/freepik)

Kalau pneumonia terjadi lebih dari sekali, tentu wajar jika muncul pertanyaan mengapa kondisi ini terjadi berulang. Terutama ketika infeksi muncul dalam waktu yang dekat atau menyerang bagian paru-paru yang sama. Dalam keadaan seperti ini, mungkin dokter harus mencari faktor yang menjadi penyebab, bukan hanya meredakan gejalanya.

Pemeriksaan lanjutan bisa dipertimbangkan sesuai dengan keadaan pasien, seperti rontgen dada, pemeriksaan darah, atau tes lain jika dianggap perlu. Tujuan dari langkah ini adalah untuk mengonfirmasi diagnosis sekaligus menemukan kemungkinan penyebab, misalnya penyakit paru yang mendasari atau masalah pada sistem imun. Dengan memahami alasan di baliknya, penanganan dan langkah pencegahan bisa disesuaikan untuk mengurangi risiko terulangnya pneumonia.

6. Ada beberapa cara untuk membantu mengurangi risiko pneumonia

ilustrasi pola hidup sehat (freepik.com/schantalao)

Pneumonia memang bisa terjadi lagi, tetapi ada beberapa pendekatan yang dapat membantu mengurangi risikonya. Salah satunya adalah dengan menjaga kebersihan tangan, menghindari paparan asap rokok, serta menerapkan pola hidup sehat dalam keseharian. Tindakan sederhana ini mungkin terlihat sepele, namun tetap penting untuk menjaga kesehatan sistem pernapasan.

Di samping itu, mendapatkan vaksin yang sesuai, termasuk vaksin influenza, COVID-19, dan pneumokokus jika disarankan sesuai usia dan kondisi kesehatan, bisa membantu mencegah beberapa infeksi yang berhubungan dengan pneumonia. Jika kamu memiliki kondisi penyakit kronis, pastikan keadaan tersebut terkelola dengan baik serta ikuti saran dokter mengenai perawatan yang diperlukan. Jangan sampai terlupa untuk segera mencari bantuan medis apabila mengalami sesak napas berat, bibir kebiruan, kebingungan, atau penurunan kesadaran, ya.

Pneumonia memang bisa terjadi lagi meski seseorang sudah dinyatakan sembuh, terutama jika ada faktor yang meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, penting untuk menjaga kesehatan tubuh, mengenali gejala yang muncul kembali, dan segera memeriksakan diri jika kondisi terasa mengkhawatirkan. Nah, jangan abaikan tanda-tanda yang muncul, ya, supaya pneumonia bisa ditangani dengan tepat sejak awal!

Referensi

“Recurrent pneumonia among Japanese adults: disease burden and risk factors.” BMC Pulmonary Medicine. Diakses Oktober 2026.

“Rates and Risk Factors for Recurrent Pneumonia in Patients Hospitalized With Community-Acquired Pneumonia: Population-Based Prospective Cohort Study With 5 Years of Follow-up.” Clinical Infectious Diseases. Diakses Oktober 2026.

“Study of factors related to recurrence within 30 days after pneumonia treatment for community-onset pneumonia.” Journal of Infection and Chemotherapy. Diakses Oktober 2026.

“Prognostic implications of aspiration pneumonia in patients with community acquired pneumonia: A systematic review with meta-analysis.” PLOS ONE. Diakses Oktober 2026.

“Pneumonia.” World Health Organization (WHO). Diakses Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article