Bagi kebanyakan orang, temuan penelitian tersebut bukan alasan untuk berhenti berlari. Pelari sehat tanpa gejala juga tidak perlu langsung melakukan CT scan jantung hanya karena rutin berolahraga.
Pemeriksaan jantung perlu disesuaikan dengan risiko masing-masing. Pelari paruh baya atau lebih tua yang berlatih dalam volume sangat tinggi sebaiknya tidak menganggap kebugaran sebagai jaminan bahwa pembuluh darahnya pasti bersih.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain:
Kolesterol LDL dan tekanan darah tinggi.
Diabetes atau penyakit ginjal.
Riwayat merokok.
Riwayat serangan jantung pada usia muda dalam keluarga.
Pola makan tinggi lemak jenuh dan makanan ultraproses.
Penggunaan obat atau zat peningkat performa.
Gejala yang muncul saat berlari.
Pemeriksaan faktor risiko merupakan bagian terpenting dalam menilai atlet paruh baya. Pada mayoritas atlet yang tidak memiliki gejala atau gangguan aliran darah ke jantung, dokter umumnya tetap menganjurkan olahraga dilanjutkan dengan pengendalian faktor risiko secara individual.
Pelari juga sebaiknya meningkatkan jarak dan intensitas secara bertahap. Selingi latihan berat dengan sesi ringan, beri waktu cukup untuk pemulihan, dan jangan menganggap banyaknya kilometer dapat menghapus dampak kolesterol tinggi, merokok, atau pola makan yang buruk.
Hentikan latihan dan segera cari pertolongan medis jika muncul tekanan atau nyeri di dada, sesak yang tidak biasa, keringat dingin, mual, pusing, atau nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang. Gejala tersebut perlu dinilai meskipun orang yang mengalaminya terlihat sangat bugar.
Apabila pemeriksaan menemukan plak, jangan langsung menghentikan olahraga atau mengubah latihan sendiri. Dokter perlu menilai jumlah plak, ada atau tidaknya penyempitan, gejala, kemampuan aliran darah, serta faktor risiko lainnya.
Penanganannya dapat mencakup perubahan pola makan, berhenti merokok, pengendalian tekanan darah dan diabetes, serta obat penurun kolesterol jika diperlukan.
Kesimpulannya, lari rutin tidak terbukti meningkatkan risiko plak pada kebanyakan orang. Temuan yang menjadi perhatian berasal dari kelompok yang jauh lebih spesifik, terutama atlet endurance laki-laki yang telah melakukan latihan sangat intens selama bertahun-tahun.
Referensi
Ruben De Bosscher et al., “Lifelong Endurance Exercise and Its Relation with Coronary Atherosclerosis,” European Heart Journal 44, no. 26 (2023): 2388–99, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehad152.
Vincent L. Aengevaeren et al., “Exercise Volume Versus Intensity and the Progression of Coronary Atherosclerosis in Middle-Aged and Older Athletes: Findings from the MARC-2 Study,” Circulation 147, no. 13 (2023): 993–1003, https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.122.061173.
Laura F. DeFina et al., “Association of All-Cause and Cardiovascular Mortality with High Levels of Physical Activity and Concurrent Coronary Artery Calcification,” JAMA Cardiology 4, no. 2 (2019): 174–81, https://doi.org/10.1001/jamacardio.2018.4628.
Guido Claessen et al., “Coronary Atherosclerosis in Athletes: Emerging Concepts and Preventive Strategies,” European Heart Journal 46, no. 10 (2025): 890–903, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehae927.
World Health Organization, "WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour: At a Glance," diakses Juli 2026.
American Heart Association, “Warning Signs of a Heart Attack,” diakses Juli 2026.