Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Tubuh Membersihkan Virus dari Saluran Pernapasan?
ilustrasi partikel virus (pexels.com/Daniel Dan)
  • Rambut hidung dan lendir menangkap virus sejak masuk, lalu silia mendorong lendir ke tenggorokan untuk ditelan atau dikeluarkan melalui batuk dan bersin.
  • Jika virus menginfeksi sel saluran napas, imun bawaan mengaktifkan interferon, makrofag, sel NK, dan neutrofil untuk menekan penyebaran serta membersihkan partikel asing.
  • Imun adaptif memakai antibodi dan sel T untuk menetralkan virus serta menghancurkan sel terinfeksi; setelahnya, peradangan mereda dan jaringan saluran napas diperbaiki.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu bertanya-tanya ke mana perginya virus setelah tubuh berhasil melawan infeksi?

Saat mengalami pilek, batuk, atau infeksi saluran pernapasan, sebenarnya tubuh tidak hanya mengandalkan sistem kekebalan untuk membasmi virus.

Sejak virus masuk melalui hidung atau mulut, tubuh sudah memiliki berbagai mekanisme pertahanan untuk menangkap, mengeluarkan, dan menghancurkan virus tersebut.

Prosesnya berlangsung secara bertahap, mulai dari lendir dan rambut halus di hidung, gerakan silia di saluran pernapasan, hingga kerja antibodi dan sel-sel kekebalan tubuh.

1. Lendir dan rambut hidung menangkap virus sejak awal

Hidung merupakan salah satu pintu pertama yang harus dilewati virus sebelum masuk lebih jauh ke saluran pernapasan.

Untungnya, tubuh sudah memiliki sistem pertahanan sederhana tetapi cukup efektif. Rambut-rambut halus di dalam hidung dapat membantu menyaring sebagian partikel yang ikut terhirup saat bernapas.

Sementara itu, lendir atau mukus yang melapisi saluran pernapasan berfungsi seperti perangkap.

Virus dan berbagai partikel asing yang ikut masuk bersama udara dapat menempel pada lendir tersebut. Dengan begitu, tidak semuanya langsung mencapai bagian saluran pernapasan yang lebih dalam.

Setelah terperangkap, lendir yang membawa partikel asing ini kemudian akan dipindahkan keluar melalui mekanisme pembersihan alami saluran pernapasan.

2. Silia bekerja seperti sapu yang mengeluarkan lendir

Di sepanjang saluran pernapasan terdapat struktur mikroskopis menyerupai rambut yang disebut silia. Jangan bayangkan silia hanya diam menempel di permukaan saluran napas. Struktur kecil ini terus bergerak secara terkoordinasi untuk membantu membersihkan saluran pernapasan.

Bersama lendir, silia membentuk mekanisme yang dikenal sebagai mucociliary clearance atau sering disebut juga mucociliary escalator. Cara kerjanya cukup menarik. Lendir menangkap virus, debu, dan partikel asing, kemudian gerakan silia secara perlahan mendorong lendir tersebut ke arah tenggorokan.

Sesampainya di tenggorokan, lendir dapat ditelan atau dikeluarkan melalui batuk. Dengan mekanisme ini, saluran pernapasan sebenarnya memiliki sistem pembersihan otomatis yang bekerja terus-menerus.

Namun, mekanisme tersebut butuh kondisi saluran pernapasan yang baik. Kebiasaan merokok maupun kondisi kesehatan tertentu dapat mengganggu fungsi silia dan membuat proses pembersihan virus menjadi kurang efektif.

3. Batuk dan bersin membantu mengeluarkan virus

ilustrasi batuk (pexels.com/cottonbro studio)

Batuk dan bersin sering dianggap sebagai gejala yang mengganggu ketika sedang sakit. Padahal, keduanya juga merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh.

Ketika saluran pernapasan mengalami iritasi akibat virus atau partikel asing, tubuh dapat memicu refleks batuk atau bersin. Udara kemudian dikeluarkan dengan kuat sehingga membantu membawa lendir dan berbagai partikel yang terperangkap keluar dari saluran pernapasan.

Itulah sebabnya batuk, dalam kondisi tertentu, justru merupakan salah satu cara tubuh membersihkan saluran pernapasan.

4. Sistem imun bawaan mulai menyerang virus

Tidak semua virus berhasil dikeluarkan melalui lendir, silia, batuk, atau bersin. Sebagian virus dapat melewati pertahanan tersebut dan menginfeksi sel-sel di saluran pernapasan. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh mulai mengambil alih.

Pertahanan pertama yang aktif adalah sistem imun bawaan atau innate immunity. Respons ini dapat bekerja dalam waktu relatif cepat dan tidak membutuhkan tubuh untuk mengenali virus secara sangat spesifik terlebih dahulu.

Sel-sel di lapisan saluran pernapasan dapat mendeteksi adanya komponen virus. Setelah itu, sel tersebut mengirimkan sinyal peringatan, salah satunya melalui protein yang disebut interferon.

Interferon membantu memberi tahu sel-sel di sekitarnya bahwa sedang terjadi infeksi. Sinyal ini dapat membuat sel lain menjadi lebih siap menghadapi virus sehingga penyebaran infeksi bisa ditekan.

Tubuh juga memiliki berbagai protein dan peptida antimikroba di dalam lendir dan cairan yang melapisi saluran pernapasan. Zat-zat tersebut dapat membantu menghambat atau menetralkan mikroorganisme tertentu.

5. Makrofag dan sel NK ikut memburu sel yang terinfeksi

Selain sel-sel saluran pernapasan, berbagai sel imun juga ikut bekerja:

  • Misalnya, makrofag dapat ditemukan di saluran pernapasan dan bagian paru-paru. Sel ini bertugas menelan atau menghancurkan partikel asing, termasuk sisa-sisa sel yang telah rusak akibat infeksi.

  • Ada pula natural killer (NK) cells. Sel NK dapat mengenali sejumlah sel tubuh yang telah terinfeksi virus dan kemudian menghancurkannya.

  • Neutrofil juga dapat dikerahkan ke lokasi infeksi. Sel ini membantu melawan patogen, meskipun aktivitasnya yang berlebihan juga dapat memicu peradangan pada jaringan.

Semua mekanisme tersebut bertujuan untuk memperlambat perkembangbiakan virus dan mencegahnya menyebar terlalu luas sambil memberi waktu bagi sistem imun yang lebih spesifik untuk bekerja.

6. Antibodi mulai memburu virus secara lebih spesifik

ilustrasi antibodi (pixabay.com/Shafin Al Asad Protic)

Setelah beberapa hari, sistem imun adaptif mulai memberikan respons yang lebih terarah terhadap virus yang sedang menginfeksi tubuh. Salah satu senjata pentingnya adalah antibodi.

Di permukaan saluran pernapasan terdapat antibodi yang disebut secretory IgA (SIgA). Antibodi ini dapat menempel pada virus yang berada di dalam lendir sehingga virus lebih sulit menempel dan masuk ke sel-sel saluran pernapasan.

Sementara itu, antibodi seperti IgG yang berada di jaringan dan aliran darah dapat membantu menetralkan virus yang sudah masuk lebih jauh ke dalam tubuh.

Dengan kata lain, antibodi tidak hanya membantu menghancurkan virus, tetapi juga mencegah virus menginfeksi lebih banyak sel.

7. Sel T menghancurkan sel yang sudah terinfeksi

Antibodi memang penting, tetapi tubuh juga harus menghadapi sel yang sudah terlanjur menjadi “pabrik” virus. Di sinilah sel T berperan.

Sel T sitotoksik atau CD8+ dapat mengenali potongan protein virus yang ditampilkan oleh sel tubuh yang terinfeksi. Setelah mengenalinya, sel T dapat menghancurkan sel tersebut.

Mengapa sel yang terinfeksi harus dihancurkan? Karena selama sel tersebut masih hidup dan terinfeksi, virus dapat terus menggunakan mesin sel untuk memperbanyak diri.

Ada pula sel T CD4+ yang membantu mengatur dan memperkuat respons imun. Beberapa di antaranya membantu mengaktifkan sel imun lain sehingga proses melawan infeksi menjadi lebih efektif.

Pada infeksi virus saluran pernapasan tertentu, mekanisme yang melibatkan sel T bahkan menjadi bagian penting dalam menghentikan fase ketika virus masih aktif menular.

8. Setelah virus berkurang, tubuh mulai memperbaiki saluran pernapasan

Perlawanan terhadap virus tidak berhenti ketika jumlah virus mulai turun. Tubuh juga harus membereskan sisa-sisa "pertempuran."

Ketika infeksi mulai terkendali, respons peradangan secara perlahan diturunkan. Ini penting karena peradangan memang membantu melawan infeksi, tetapi jika berlangsung terlalu lama atau terlalu kuat, jaringan tubuh sendiri bisa ikut mengalami kerusakan.

Makrofag kemudian membantu membersihkan sel-sel yang mati dan berbagai sisa jaringan. Pada saat yang sama, sel-sel pada lapisan saluran pernapasan mulai melakukan regenerasi untuk memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan.

Pada sebagian besar orang sehat, virus penyebab infeksi saluran pernapasan dapat dibersihkan dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, materi genetik virus kadang masih dapat terdeteksi lebih lama meskipun virus yang masih mampu menginfeksi sudah tidak ada atau jumlahnya telah sangat berkurang.

Jadi, ketika pilek atau batuk akhirnya membaik, ada proses biologis kompleks di baliknya. Tubuh secara bertahap menangkap, mengeluarkan, menghambat, dan menghancurkan virus sampai saluran pernapasan kembali berfungsi dengan normal.

Referensi

American Medical Journal. Diakses pada Agustus 2026. "RSV Infection Window Defined by New Viral Data."

Global Biodefense. Diakses pada Agustus 2026. "How the Body Battles Against Viruses Like Influenza, RSV and SARS-CoV-2."

Heightech. Diakses pada Agustus 2026. "How The Respiratory System Defends Against Infections."

NationWide Laboratories. Diakses pada Agustus 2026. "Immune Responses in Health, Disease and Diagnosis."

Curated For You

Editorial Team

Related Article