Janam Patel et al., “Characterization of Neurological Injuries from Roller Coaster Rides among Minors,” American Journal of Emergency Medicine 98 (2025): 309–314, https://doi.org/10.1016/j.ajem.2025.08.035.
Robert J. Braksiek and David J. Roberts, “Amusement Park Injuries and Deaths,” Annals of Emergency Medicine 39, no. 1 (2002): 65–72.
David J. Freeman et al., “Significant Spinal Injury Resulting from Low-Level Accelerations: A Case Series of Roller Coaster Injuries,” Archives of Physical Medicine and Rehabilitation 86, no. 11 (2005): 2126–2130.
Ernesto Roldan-Valadez, M. T. Facha, Manuel Martinez-Lopez, and Patricia Herrera-Mora, “Subdural Hematoma in a Teenager Related to Roller-Coaster Ride,” European Journal of Paediatric Neurology 10, no. 4 (2006): 194–196, https://doi.org/10.1016/j.ejpn.2006.07.001.
Sebastian Rutsch, Wolf-Dirk Niesen, Stephan Meckel, and Matthias Reinhard, “Roller Coaster-Associated Subarachnoid Hemorrhage—Report of 2 Cases,” Journal of the Neurological Sciences 315, nos. 1–2 (2012): 164–166, https://doi.org/10.1016/j.jns.2011.11.026.
Douglas H. Smith and David F. Meaney, “Roller Coasters, G Forces, and Brain Trauma: On the Wrong Track?,” Journal of Neurotrauma 19, no. 10 (2002): 1117–1120, https://doi.org/10.1089/08977150260337921.
Davi Sa Leitao, Dercio Mendonca, Harish Iyer, and Cheng-Kai Kao, “Neurologic Complication after a Roller Coaster Ride,” American Journal of Emergency Medicine 30, no. 1 (2012): 249.e5–249.e7, https://doi.org/10.1016/j.ajem.2010.09.026.
Lauren Pickel et al., “Roller Coasters and Retinal Detachment: Case Series and Review of Acceleration-Deceleration Retinal Injury,” Case Reports in Ophthalmology 15, no. 1 (2024): 689–695, https://doi.org/10.1159/000540878.
Leon S. Moskatel and Liza Smirnoff, “Headache and Dizziness after Roller Coaster Rides: A Case Series of 31 Patients,” Canadian Journal of Neurological Sciences 50, no. 6 (2023): 914–917, https://doi.org/10.1017/cjn.2022.315.
Guido E. Pieles et al., “High g-Force Rollercoaster Rides Induce Sinus Tachycardia but No Cardiac Arrhythmias in Healthy Children,” Pediatric Cardiology 38, no. 1 (2017): 15–19, https://doi.org/10.1007/s00246-016-1477-5.
Centers for Disease Control and Prevention, “Symptoms of Mild TBI and Concussion,” diakses Agustus 2026.
American Stroke Association, “Stroke Symptoms and Warning Signs,” diakses Agustus 2026.
Roller Coaster Bisa Picu Perdarahan Otak? Ini Penjelasannya

Cedera serius akibat roller coaster tergolong jarang, tetapi percepatan, perlambatan, putaran, dan gerakan kepala yang mendadak dapat menyebabkan cedera pada sebagian orang.
Cedera yang pernah dilaporkan meliputi cedera leher, gegar otak, perdarahan otak, robekan pembuluh darah leher, hingga pelepasan retina.
Sakit kepala yang sangat berat atau memburuk, muntah berulang, gangguan keseimbangan, kelemahan tubuh, atau perubahan penglihatan setelah naik roller coaster perlu segera diperiksa.
Tubuh berkali-kali meluncur turun dengan kecepatan tinggi, berputar, lalu menanjak saat roller coaster. Sensasi tersebut memang menjadi daya tariknya. Namun, di balik wahana yang menantang itu, tubuh juga harus menghadapi percepatan, perlambatan, serta perubahan arah yang berlangsung sangat cepat.
Bagi sebagian besar orang sehat, roller coaster dapat dinaiki tanpa mengalami cedera serius. Kasus neurologis berat tergolong jarang dibandingkan banyaknya orang yang menaiki wahana. Namun, literatur medis tetap mencatat kasus cedera pada kepala, leher, pembuluh darah, dan mata setelah menaiki roller coaster.
Perhatian terhadap risiko tersebut kembali muncul pada Agustus 2026 setelah dua pengunjung Six Flags Magic Mountain di California mengalami perdarahan otak berat setelah menaiki roller coaster X2 pada Juli. Menurut investigasi CNN, keduanya membutuhkan operasi otak darurat.
Dokter yang merawat menyatakan cedera tersebut konsisten dengan peristiwa percepatan-perlambatan traumatis selama wahana. Six Flags, melalui dokumen pengadilan yang dikutip CNN, menyatakan X2 menjalani inspeksi harian dan bahwa pengendara normal yang menggunakan wahana sesuai petunjuk seharusnya tidak mengalami cedera otak traumatis.
Walaupun secara umum naik roller coaster tidak menyebabkan perdarahan otak, tetapic cedera serupa memang pernah dilaporkan dalam jurnal medis jauh sebelum insiden Six Flags baru-baru ini.
Table of Content
1. Cedera leher dan kepala termasuk yang paling sering dilaporkan
Gerakan mendadak dapat membuat kepala bergerak maju, mundur, atau berputar dengan cepat sementara tubuh ditahan oleh kursi dan restraint.
Studi 2025 menggunakan data kunjungan IGD di Amerika Serikat (AS) selama 2004–2023 memperkirakan sekitar 6.382 kunjungan IGD terkait cedera neurologis akibat roller coaster pada anak dan remaja selama 20 tahun, atau sekitar 319 per tahun.
Cedera pada tulang belakang leher menyumbang sekitar 44,6 persen, diikuti cedera kepala sekitar 30,6 persen. Cedera paling umum adalah ketegangan otot, terutama pada leher. Dari cedera kepala yang tercatat, sekitar 37 persen berupa gegar otak.
Walaupun angka tersebut cuma menghitung orang yang datang ke IGD, tetapi itu menunjukkan bahwa leher dan kepala merupakan bagian tubuh yang cukup rentan ketika cedera terjadi.
Penelitian yang lebih lama terhadap salah satu wahana roller coaster di Texas, AS, juga mendokumentasikan herniasi diskus servikal, penonjolan diskus, hingga fraktur kompresi pada sebagian pengendara yang mengalami cedera signifikan.
2. Perdarahan otak bisa terjadi, tetapi sangat jarang
Salah satu cedera paling serius yang pernah dikaitkan dengan roller coaster adalah hematoma subdural, yaitu terkumpulnya darah di antara permukaan otak dan lapisan dura yang menyelubunginya.
Pada 2006, dokter melaporkan seorang remaja yang mengalami hematoma subdural dan baru datang berobat 14 hari setelah menaiki roller coaster. Peneliti menduga percepatan, perlambatan, serta gerakan rotasi dapat menghasilkan gaya tarik dan geser yang cukup untuk merobek bridging veins, yaitu pembuluh vena yang melintasi ruang di sekitar otak.
Kasus serupa telah dilaporkan pada orang dewasa sehat maupun individu dengan faktor predisposisi. Selain hematoma subdural, laporan medis juga mencatat perdarahan subaraknoid, yaitu perdarahan di ruang sekitar otak.
Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa tingginya G-force (ukuran seberapa besar gaya percepatan yang dirasakan tubuh dibandingkan gravitasi bumi) otomatis menyebabkan cedera otak.
Sebuah analisis biomekanik menjelaskan bahwa angka G-force saja merupakan ukuran yang kurang baik untuk memperkirakan cedera otak. Yang lebih penting adalah bagaimana gaya tersebut menyebabkan percepatan linear dan terutama rotasi kepala.
Posisi kepala, desain wahana, gerakan yang terjadi, serta kerentanan individu dapat ikut menentukan risiko.
3. Gerakan leher ekstrem dapat dikaitkan dengan stroke

ilustrasi roller coaster Six Flags di Texas, Amerika Serikat (unsplash.com/Zachariah Aussi) Cedera serius lain yang sangat jarang namun pernah dilaporkan adalah diseksi arteri servikal.
Diseksi terjadi ketika terdapat robekan pada lapisan dalam arteri karotis atau vertebralis yang membawa darah ke otak. Robekan dapat memicu pembentukan bekuan darah dan pada akhirnya menyebabkan stroke.
Sebuah laporan kasus menggambarkan laki-laki sehat berusia 22 tahun yang mengalami sakit kepala bagian belakang, vertigo, mual, muntah, dan kesulitan berjalan. Pemeriksaan menunjukkan ia mengalami diseksi arteri vertebralis dan stroke di otak kecil. Ia kemudian diketahui menaiki roller coaster sekitar dua minggu sebelum gejala muncul.
Kasus lain melaporkan diseksi pada kedua arteri karotis dan vertebralis setelah roller coaster, disertai gangguan aliran darah ke retina dan kehilangan penglihatan sementara.
Kasus-kasus tersebut sangat jarang dan tidak membuktikan bahwa roller coaster merupakan penyebab umum stroke. Namun, sakit kepala atau nyeri leher baru setelah gerakan ekstrem—terutama jika disertai vertigo, kelemahan anggota tubuh, bicara pelo, atau gangguan penglihatan—sebaiknya tidak diabaikan.
4. Retina juga bisa terdampak pada orang yang rentan
Gaya percepatan-perlambatan juga pernah dikaitkan dengan cedera mata. Pada 2024, sebuah seri kasus melaporkan dua perempuan muda mengalami retinal detachment atau lepasnya retina setelah menaiki roller coaster. Salah satu memiliki riwayat keluarga dengan lepasnya retina, sementara yang lain mengalami miopia tinggi dan kelainan retina sebelumnya.
Setelah meninjau kasus-kasus sebelumnya, para peneliti menyimpulkan bahwa predisposisi struktural tampaknya diperlukan agar gaya percepatan-perlambatan memicu pelepasan retina. Semua kasus yang diketahui memiliki faktor risiko, termasuk miopia tinggi atau riwayat keluarga.
Karena itu, munculnya banyak floaters baru, kilatan cahaya, atau sensasi seperti tirai menutupi sebagian penglihatan setelah menaiki wahana perlu segera dinilai dokter mata.
5. Sakit kepala, pusing, dan mual lebih mungkin terjadi
Dalam seri kasus terhadap 31 pasien dewasa yang mencari pertolongan karena sakit kepala atau pusing setelah naik roller coaster, 25 orang mengalami sakit kepala baru atau memburuk. Migrain menjadi diagnosis paling sering. Lima pasien juga diketahui mengalami kebocoran cairan serebrospinal.
Studi ini hanya mengamati orang yang memang sudah mencari pengobatan sehingga tidak menggambarkan seberapa sering keluhan tersebut terjadi pada seluruh pengendara.
Roller coaster juga dapat meningkatkan denyut jantung karena kombinasi rasa takut, adrenalin, kecepatan, dan gaya percepatan.
Studi terhadap 20 anak sehat yang menaiki empat roller coaster berkecepatan tinggi menemukan rata-rata denyut jantung meningkat dari 81 menjadi 158 kali per menit. Meski begitu, para peneliti tidak menemukan aritmia patologis selama pemantauan.
Hasil tersebut tidak dapat menyimpulkan keamanan pada orang dengan penyakit jantung tertentu.
Kapan keluhan setelah naik roller coaster harus diperiksa?

ilustrasi sakit kepala (pexels.com/Pavel Danilyuk) Sebaiknya segera cari pertolongan medis darurat setelah cedera atau hentakan pada kepala jika muncul sakit kepala yang makin berat dan tidak hilang, muntah berulang, kejang, kelemahan atau mati rasa, bicara pelo, kebingungan, kehilangan kesadaran, sulit dibangunkan, atau ukuran pupil yang berbeda.
Gangguan keseimbangan mendadak, penglihatan kabur atau ganda, wajah mencong, kelemahan satu sisi tubuh, sulit berbicara, dan sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba juga merupakan tanda stroke butuh penanganan sesegera mungkin.
Cedera berat setelah naik roller coaster memang pernah terjadi, tetapi secara keseluruhan relatif jarang. Yang penting adalah mengenali gejala yang tidak biasa, dan segera cari pertolongan medis jika muncul tanda bahaya.
Referensi


![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan NPD? Coba Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250625/freepik-29_eed1cb7e-fddb-49f3-a569-893aef034aa0.jpg)







![[QUIZ] Dari Bentuk Feses, Ini Kondisi Kesehatan Kamu yang Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)




![[QUIZ] Tebak Mana Olahraga Low Impact dan High Impact](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)


