"Tidak adanya kepastian mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya dapat membuat situasi yang sudah sulit menjadi makin berat,” ujarnya dalam acara 'Memahami Pentingnya Akurasi dalam Kanker Payudara' di Jakarta, pada Jumat (28/08/2026).
Ketidakpastian Diagnosis Kanker Payudara Bebani Pasien

Kanker payudara menjadi kanker terbanyak pada perempuan Indonesia, dengan 66.271 kasus baru dan 22.598 kematian pada 2022; lebih dari separuh kasus terdiagnosis saat stadium lanjut.
Proses pemeriksaan yang terpisah antar layanan dapat memperpanjang kepastian diagnosis, membebani pasien, dan membuat hasil klinis, pencitraan, serta biopsi kurang terintegrasi.
Diagnosis membutuhkan penilaian bersama dari pemeriksaan klinis, pencitraan, dan biopsi; model layanan terintegrasi memungkinkan investigasi abnormal selesai dalam satu kunjungan.
Kanker payudara masih menjadi jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan di Indonesia. Merujuk laporan GLOBOCAN, pada 2022 tercatat 66.271 kasus baru dengan angka kematian mencapai 22.598 jiwa, rata-rata sekitar 62 meninggal setiap hari akibat penyakit ini.
Angka tersebut tidak terlepas dari kenyataan bahwa lebih dari 50 persen kasus kanker payudara di Indonesia baru terdiagnosis pada stadium lanjut, ketika pilihan penanganan menjadi lebih terbatas dan peluang keberhasilan pengobatan menurun.
Karena itu, deteksi dini menjadi prioritas kesehatan masyarakat. Sejalan dengan target pemerintah, agar 60 persen kasus dapat dideteksi sejak dini. Namun deteksi dini sesungguhnya baru langkah pertama.
Table of Content
Pasien butuh kepastian
Bagi banyak pasien, tantangan dalam pemeriksaan payudara bukan pemeriksaannya, melainkan proses yang harus dilalui dari satu tahap ke tahap berikutnya. Di rumah sakit pada umumnya, setiap departemen menangani berbagai kebutuhan medis, bukan hanya kondisi payudara.
Departemen radiologi misalnya, melayani pemeriksaan untuk pasien dengan berbagai kondisi di seluruh rumah sakit, sehingga jadwal pemeriksaan seperti mamografi, USG atau MRI mungkin perlu menunggu ketersediaan slot.
Hal yang sama dapat terjadi ketika pasien memerlukan pemeriksaan lanjutan, seperti biopsi, maupun konsultasi dengan dokter spesialis, yang masing-masing mengikuti alur dan jadwal layanan tersendiri.
Bagi pasien, rangkaian proses ini dapat terasa panjang dan terpisah-pisah sebelum mendapatkan gambaran yang lengkap. Ketidakpastian itu memiliki biaya yang jarang dihitung. Secara medis, diagnosis yang tersusun terpisah-pisah cenderung kurang presisi dibandingkan diagnosis yang ditinjau bersama oleh satu tim.
Senior konsultan dan dokter spesialis bedah payudara di Solis Breast Care & Surgery Centre, Singapura, dr. Lim Sue Zann, menyebut bahwa banyak pasien datang dengan kekhawatiran akan kabar terburuk. Namun, kemungkinan kabar terburuk ini sering kali diikuti oleh tantangan lain yakni ketidakpastian.
Pertanyaannya bukan hanya apakah diagnosisnya tepat, tetapi berapa lama pasien harus menunggu untuk mengetahuinya, berapa kali ia harus mengulang riwayat kesehatannya dan apakah para dokter yang mengambil keputusan benar-benar telah berbicara satu sama lain.
Tahapan pemeriksaan butuh keahlian berbeda

ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama) Ketika seseorang menemukan perubahan pada payudaranya, wajar jika langsung merasa khawatir. Namun, tidak semua perubahan pada payudara berarti kanker. Salah satu temuan yang paling sering membuat pasien khawatir adalah benjolan payudara.
Benjolan payudara merupakan temuan fisik, bukan diagnosis. Sebagian besar bersifat jinak, seperti kista, fibroadenoma, atau perubahan fibrokistik. Namun, meraba tidak bisa memastikan jenis benjolan tersebut. Pemeriksaan lebih lanjut dengan pencitraan, seperti USG atau mamografi, diperlukan untuk memahami karakteristiknya.
Jika hasil pencitraan menunjukkan sesuatu yang mencurigakan, dokter mungkin merekomendasikan biopsi untuk mendapatkan diagnosis berdasarkan pemeriksaan jaringan.
Ketiga tahapan tersebut—pemeriksaan klinis, pencitraan, dan biopsi—melibatkan keahlian yang berbeda. Dalam alur layanan yang terpisah, informasi dari masing-masing tahap tidak selalu dapat ditinjau secara langsung dan terintegrasi oleh seluruh tim yang menangani pasien.
Setiap tahap pemeriksaan memiliki fungsi masing-masing. Diagnosis kanker payudara tidak bisa hanya mengandalkan hasil pemeriksaan yang berdiri sendiri. Hasil pencitraan, pemeriksaan klinis, dan biopsi perlu dinilai bersama. Jika hasilnya tidak sesuai satu sama lain, pemeriksaan ulang atau pemeriksaan tambahan mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Seharusnya skrining bisa selesai lebih cepat
Di Solis Breast Care & Surgery Centre, pasien menjalani konsultasi, evaluasi klinis, dan perencanaan penanganan bersama dokter spesialis bedah payudara. Apabila diperlukan investigasi lanjutan, scan payudara khusus dan prosedur diagnostik berbasis pencitraan yang termasuk mamografi 3D, USG, MRI, dan biopsi dapat dilakukan melalui Luma Women’s Imaging Centre, Singapura.
Hasil dari kedua pusat tersebut kemudian ditinjau secara bersama oleh dokter spesialis bedah payudara, radiolog dan ahli patologi untuk mendukung diagnosis yang akurat dan menentukan rekomendasi penanganan yang sesuai bagi setiap pasien.
Pada praktiknya, serangkaian proses pemeriksaan temuan abnormal yang biasanya butuh waktu berminggu-minggu, bisa diselesaikan hanya dalam satu kali kunjungan saja.
"Bagi pasien, pendekatan seperti ini bukan hanya soal mempercepat proses. Pemeriksaan yang terintegrasi juga dapat mengurangi beban untuk berpindah-pindah fasilitas kesehatan, sekaligus membantu pasien mendapatkan kepastian diagnosis dan memahami pilihan pengobatan dengan lebih cepat," kata dr. Lim.








![[QUIZ] Dari Bentuk Feses, Ini Kondisi Kesehatan Kamu yang Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)




![[QUIZ] Tebak Mana Olahraga Low Impact dan High Impact](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)



![[QUIZ] Mana yang Lebih Tinggi Natrium? Kamu Bisa Tebak?](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)


