ilustrasi makan steak (pexels.com/Nadin Sh)
Banyak orang langsung mencoret daging merah dari menu harian setelah mendengar kaitannya dengan kanker. Padahal, makanan ini juga menjadi sumber protein, zat besi, vitamin B12, dan berbagai nutrisi penting yang berperan dalam menjaga fungsi tubuh. Alih-alih menghindarinya sepenuhnya, yang lebih penting adalah memperhatikan porsi, frekuensi konsumsi, dan cara mengolahnya agar manfaatnya tetap bisa dinikmati dengan aman.
Mengombinasikan daging merah dengan sayuran, buah-buahan, dan sumber serat lainnya dapat membantu menciptakan pola makan yang lebih seimbang. Selain itu, membatasi porsi dan tidak menjadikannya menu utama setiap hari juga menjadi langkah yang disarankan banyak ahli. Jadi, daripada takut berlebihan, lebih baik fokus pada kebiasaan makan yang sehat, beragam, dan sesuai kebutuhan tubuh.
Daging merah tidak otomatis menyebabkan kanker, tetapi konsumsinya yang berlebihan serta cara pengolahan tertentu memang dapat meningkatkan risiko. Karena itu, yang paling penting bukan menghindarinya sepenuhnya, melainkan mengatur porsi, frekuensi konsumsi, dan menjaga pola makan tetap seimbang. Jadi, kamu tetap bisa menikmati hidangan favorit berbahan daging merah selama dikonsumsi dengan bijak dan tidak berlebihan.
Referensi
“Q&A on the Carcinogenicity of the Consumption of Red Meat and Processed Meat.” World Health Organization (WHO). Diakses Juni 2026.
“Carcinogenicity of Consumption of Red and Processed Meat.” International Agency for Research on Cancer (IARC). Diakses Juni 2026.
“Hubungan Konsumsi Daging Merah dengan Kanker Kolorektal.” Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine. Diakses Juni 2026.
“Pengaruh Konsumsi Daging Merah terhadap Kejadian Kanker Payudara: Tinjauan Pustaka.” Jurnal Kedokteran YARSI. Diakses Juni 2026.
“Hubungan Konsumsi Daging Merah dan Gaya Hidup Terhadap Risiko Kanker Kolon.” Kutubkhanah. Diakses Juni 2026.