Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bolehkah Pap Smear Jika Belum Pernah Berhubungan Seksual?
ilustrasi pemeriksaan ginekologi, mencakup Pap smear (magnific.com/ArtPhoto_studio)
  • Para prinsipnya, Pap smear dapat dilakukan pada orang yang belum pernah berhubungan seksual penetratif, tetapi kenyamanan dan pilihan pemeriksaan perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

  • Riwayat seksual saja tidak menentukan kapan skrining dimulai. Usia dan pedoman yang berlaku juga perlu dipertimbangkan.

  • Pap smear bukan pemeriksaan untuk membuktikan riwayat seksual. Jika ada keluhan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan tanpa menunggu jadwal skrining.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pap smear merupakan salah satu pemeriksaan untuk mendeteksi perubahan sel pada leher rahim yang dapat berkembang menjadi kanker serviks. Karena pemeriksaan ini sering dikaitkan dengan infeksi HPV yang umumnya ditularkan melalui hubungan seksual, tidak sedikit orang yang bertanya-tanya apakah Pap smear tetap perlu atau boleh dilakukan jika belum pernah berhubungan seksual.

Pertanyaan tersebut cukup umum. Sebagian orang khawatir pemeriksaan ini tidak diperlukan, sementara yang lain ragu karena alasan kenyamanan atau kondisi fisik tertentu.

Untuk memahaminya, penting mengetahui tujuan Pap smear, siapa yang biasanya dianjurkan menjalani pemeriksaan ini, dan bagaimana riwayat aktivitas seksual memengaruhi risiko kanker serviks.

1. Belum pernah berhubungan seksual penetratif tidak berarti Pap smear dilarang

Pap smear secara teknis bisa dilakukan pada orang yang belum pernah berhubungan seksual penetratif. Namun, pemeriksaan melalui vagina bisa terasa tidak nyaman bagi sebagian orang.

Sampaikan riwayat dan kekhawatiran kepada tenaga kesehatan sebelum pemeriksaan. Mereka dapat menjelaskan pilihan yang tersedia dan menyesuaikan pemeriksaan jika memungkinkan.

2. Perlu atau tidaknya skrining bergantung pada usia dan pedoman

ilustrasi pemeriksaan ginekologi menggunakan spekulum yang dilakukan oleh OBGYN atau dokter kandungan (magnific.com/stefamerpik)

Pap smear adalah salah satu cara skrining kanker serviks. Skrining ditujukan untuk menemukan perubahan pada leher rahim sebelum berkembang menjadi kanker. Pap smear memeriksa perubahan sel, sedangkan tes HPV mencari virus HPV berisiko tinggi yang dapat menyebabkan perubahan tersebut.

Sebagian besar kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV yang menetap. HPV terutama menular melalui kontak seksual, termasuk kontak intim kulit ke kulit. Penetrasi tidak selalu diperlukan untuk penularan. Karena itu, seseorang yang belum pernah melakukan hubungan seks penetrasi dapat memiliki risiko lebih rendah, tetapi riwayat penetrasi saja mungkin tidak cukup untuk menentukan kebutuhan skrining.

Rekomendasi usia dapat berbeda antar pedoman. WHO merekomendasikan skrining bagi populasi umum mulai usia 30 tahun dan mengutamakan tes HPV DNA jika tersedia.

Hubungi puskesmas atau fasilitas kesehatan mengenai usia mulai skrining dan metode yang digunakan dalam layanan setempat.

3. Keluhan tetap perlu diperiksa, meski belum waktunya skrining

Pap smear merupakan pemeriksaan skrining, bukan satu-satunya pemeriksaan untuk mencari penyebab keluhan. Perdarahan di luar menstruasi, perdarahan setelah berhubungan seksual, atau keputihan yang menetap dan tidak biasa sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter. Keluhan seperti ini bisa memiliki banyak penyebab, sehingga dokter akan menentukan pemeriksaan yang sesuai.

Vaksin HPV dapat membantu melindungi dari beberapa tipe HPV penyebab kanker serviks, tetapi vaksinasi tidak menggantikan skrining bagi orang yang sudah memasuki usia skrining. Jika ragu, sampaikan riwayat kesehatan dan vaksinasi saat berkonsultasi.

Jadi, bolehkah Pap smear jika belum aktif secara seksual? Pada prinsipnya, boleh jika memang ada indikasi medis, sudah waktunya menjalani skrining berdasarkan pedoman yang digunakan, atau pasien ingin menjalani pemeriksaan setelah berdiskusi dengan dokter.

Dalam praktiknya, tidak semua dokter akan langsung menganjurkan Pap smear pada perempuan yang belum pernah berhubungan seksual karena risiko kanker serviks umumnya lebih rendah pada kelompok ini dan pemeriksaannya bisa lebih tidak nyaman. Karena itu, keputusan untuk melakukan Pap smear biasanya mempertimbangkan keluhan, faktor risiko, kondisi pasien, serta pertimbangan klinis dokter.

Referensi

National Cancer Institute, “Cervical Cancer Screening (PDQ®)–Patient Version,” diakses 30 Oktober 2026.

World Health Organization, "Eliminating Virginity Testing: An Interagency Statement," diakses 30 Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “About Genital HPV Infection,” diakses 30 Oktober 2026.

World Health Organization, "WHO Guideline for Screening and Treatment of Cervical Pre-Cancer Lesions for Cervical Cancer Prevention, ed. ke-2," diakses 30 Oktober 2026.

World Health Organization, “Cervical Cancer,” diakses 30 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article