Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bolehkah Vaksin HPV Diberikan Bersamaan dengan Vaksin Lain?
ilustrasi anak laki-laki mendapatkan vaksinasi (pexels.com/CDC)
  • Vaksin HPV boleh diberikan pada hari yang sama dengan vaksin lain. WHO menyatakan vaksin HPV dapat dikoadministrasikan dengan vaksin hidup maupun non hidup.

  • Pemberiannya tetap menggunakan syringe terpisah dan lokasi suntikan yang berbeda. Vaksin HPV tidak boleh dicampurkan dengan vaksin lain dalam satu alat suntik.

  • Penelitian pada ribuan anak, remaja, dan dewasa muda menunjukkan pemberian bersamaan tidak mengurangi respons imun terhadap HPV, meskipun beberapa reaksi ringan di tempat suntikan bisa lebih sering terjadi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jadwal imunisasi kadang melibatkan dua jenis vaksin. Pada anak usia sekolah, jadwal vaksin HPV bisa saja bertepatan dengan vaksin lain yang juga dibutuhkan sesuai usia atau riwayat imunisasinya. Orang tua mungkin bertanya-tanya apakah itu aman.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan vaksin HPV dapat diberikan bersamaan dengan vaksin hidup maupun non hidup, asalkan masing-masing menggunakan jarum suntik dan lokasi penyuntikan yang berbeda.

1. Vaksin HPV boleh diberikan bersama vaksin lain

Vaksin HPV yang digunakan saat ini bukan vaksin hidup. Vaksin HPV 9-valen, misalnya, merupakan vaksin rekombinan noninfeksius yang dibuat menggunakan virus-like particles (VLP). Partikel tersebut menyerupai bagian luar HPV sehingga dapat melatih sistem imun, tetapi tidak mengandung virus yang dapat bereplikasi dan menyebabkan infeksi HPV.

Vaksin non hidup tidak terbukti mengganggu respons imun terhadap vaksin non hidup lain maupun vaksin hidup. Karena itu, vaksin non hidup bisa diberikan pada saat bersamaan ataupun pada interval berapa pun sebelum atau sesudah vaksin lain.

2. Penelitian menunjukkan respons imun tetap baik

Sebuah uji klinis melibatkan 1.241 anak perempuan dan laki-laki usia 11–15 tahun. Sebanyak 621 peserta mendapat vaksin HPV 9-valen bersamaan dengan vaksin meningokokus kuadrivalen (MenACWY) dan Tdap, sedangkan kelompok lainnya menerima vaksin tersebut pada kunjungan berbeda.

Hasilnya, respons antibodi terhadap seluruh sembilan tipe HPV, empat serogrup meningokokus, serta komponen tetanus, difteri, dan pertusis memenuhi kriteria non inferior. Artinya, memberikan vaksin secara bersamaan tidak menghasilkan respons imun yang lebih buruk secara bermakna dibandingkan pemberian terpisah.

Temuan lainnya, vaksin HPV yang diberikan bersamaan dengan vaksin meningokokus, hepatitis A, hepatitis B, kombinasi hepatitis A-B, tetanus, difteri, pertusis, maupun polio inaktif tetap menghasilkan respons imun yang tidak lebih rendah dengan profil keamanan yang dapat diterima.

3. Koadministrasi efektif dan dapat diterima

ilustrasi vaksin (unsplash.com/Mufid Majnun)

Sebuah metaanalisis tahun 2020 menggabungkan 13 penelitian dengan total 11.657 peserta usia 9–25 tahun. Hasil analisis menunjukkan tingkat serokonversi terhadap berbagai tipe HPV sama antara kelompok yang menerima vaksin HPV bersamaan dengan vaksin lain dan kelompok yang mendapatkannya secara terpisah. Para peneliti menyimpulkan koadministrasi (pemberian bersamaan) tidak mengganggu imunogenisitas vaksin HPV.

Namun, metaanalisis tersebut menemukan beberapa reaksi lokal dan sistemik dapat lebih sering dilaporkan ketika beberapa vaksin diberikan bersamaan, khususnya pada vaksin HPV 4-valen dan 9-valen. Ini tidak berarti kombinasi tersebut berbahaya. Pemberian lebih dari satu suntikan memang memberikan lebih banyak kesempatan untuk munculnya nyeri atau reaksi sementara. Secara keseluruhan, para peneliti tetap menilai koadministrasi dapat diterima.

Dalam uji 9-valen bersama MenACWY dan Tdap, misalnya, pembengkakan di lokasi suntikan memang lebih sering ditemukan pada kelompok yang mendapat vaksin bersamaan, tetapi tidak ditemukan kejadian serius yang berkaitan dengan vaksin.

4. Vaksin disuntikkan pada lokasi anatomi yang berbeda

Setiap vaksin harus dipersiapkan menggunakan alat suntik tersendiri dan disuntikkan pada lokasi anatomi yang berbeda.

Vaksin yang berbeda tidak boleh dicampurkan sendiri dalam satu alat suntik kecuali memang merupakan produk kombinasi yang dirancang dan disetujui demikian.

Untuk vaksin HPV, vaksin tidak boleh dicampur atau diencerkan bersama vaksin lain.

Dalam praktiknya, tenaga kesehatan dapat menggunakan lengan yang berbeda. Jika beberapa suntikan harus diberikan pada satu anggota tubuh, lokasi suntikan perlu dipisahkan agar reaksi pada masing-masing tempat dapat dikenali.

5. Mendapat vaksin HIV, adakah masa tunggu khusus untuk mendapatkan vaksin lainnya?

Umumnya tidak ada masa tunggu khusus yang diperlukan hanya karena seseorang baru mendapat vaksin HPV.

Karena HPV merupakan vaksin non hidup, vaksin tersebut dapat diberikan pada waktu yang sama atau pada interval berapa pun terhadap vaksin hidup maupun non hidup lainnya.

Ini berbeda dengan aturan yang berlaku antara dua vaksin hidup tertentu. Apabila dua vaksin hidup suntik tertentu tidak diberikan pada hari yang sama, sebagian di antaranya memang perlu diberi jeda sedikitnya empat minggu.

Jadi, tidak perlu sengaja menunda vaksin HPV dua atau empat minggu hanya karena anak baru menerima vaksin lain, kecuali ada pertimbangan khusus dari tenaga kesehatan, kondisi medis tertentu, atau ketentuan produk yang digunakan.

6. Apakah semua kombinasi vaksin sudah pernah diteliti?

ilustrasi penyuntikan vaksin (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Studi klinis koadministrasi HPV telah tersedia untuk berbagai vaksin (termasuk Tdap, meningokokus, hepatitis A/B, dan polio inaktif) tetapi tidak setiap kemungkinan kombinasi vaksin di dunia pernah diuji satu per satu.

Meski demikian, WHO tetap menyatakan vaksin HPV dapat diberikan bersama dengan vaksin hidup dan non hidup menggunakan alat suntik serta tempat suntikan terpisah.

Karena jenis vaksin dan kebijakan imunisasi dapat berbeda antarnegara, tenaga kesehatan tetap perlu memeriksa jadwal imunisasi serta petunjuk produk yang digunakan.

Jadi, vaksin HPV dapat diberikan pada hari yang sama dengan vaksin lain. Berbagai bukti menunjukkan koadministrasi tidak mengurangi kemampuan vaksin HPV membangkitkan respons antibodi.

Reaksi sementara seperti nyeri atau bengkak dapat muncul pada tempat penyuntikan, tetapi penelitian mendukung keamanan pemberian vaksin HPV bersama vaksin lain yang direkomendasikan.

Referensi

Andrea Schilling et al., “Coadministration of a 9-Valent Human Papillomavirus Vaccine With Meningococcal and Tdap Vaccines,” Pediatrics 136, no. 3 (2015): e563–e572, doi:10.1542/peds.2014-4199.

Alinea S. Noronha, Lauri E. Markowitz, and Eileen F. Dunne, “Systematic Review of Human Papillomavirus Vaccine Coadministration,” Vaccine 32, no. 23 (2014): 2670–2674, doi:10.1016/j.vaccine.2013.12.037.

Yaowei Li et al., “Immunogenicity and Safety of Human Papillomavirus Vaccine Coadministered with Other Vaccines in Individuals Aged 9–25 Years: A Systematic Review and Meta-analysis,” Vaccine 38, no. 2 (2020): 119–134, doi:10.1016/j.vaccine.2019.10.092.

World Health Organization, “Human Papillomavirus Vaccines: WHO Position Paper, December 2022,” Weekly Epidemiological Record 97, no. 50 (2022): 645–672.

Centers for Disease Control and Prevention, “Chapter 11: Human Papillomavirus,” Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Pink Book), diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article