Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Cuma Screen Time, Kebiasaan Main HP Ini Bisa Ganggu Fokus

5 min read
Bukan Cuma Screen Time, Kebiasaan Main HP Ini Bisa Ganggu Fokus
ilustrasi menatap smartphone (pexels.com/Kampus Production)
  • Sekitar sepertiga peserta penelitian masuk kelompok pengguna “heavy process”, yakni memakai smartphone sekitar empat sampai lima jam atau lebih setiap hari, terutama untuk mengonsumsi konten.

  • Fear of missing out (FoMO) yang tinggi dan kontrol diri yang rendah berkaitan dengan penggunaan smartphone yang lebih sulit dikendalikan.

  • Yang perlu diperhatikan bukan hanya durasi layar, tetapi juga tujuan membuka ponsel, jenis aktivitas, kemampuan berhenti, serta dampaknya terhadap tidur dan kegiatan sehari-hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Satu video pendek selesai, lalu jempol bergerak ke video berikutnya. Tidak ada tujuan khusus ketika membuka smartphone, tetapi tak terasa waktu berlalu cukup lama.

Pola seperti ini sering terasa biasa saja karena setiap sesi hanya berlangsung sebentar. Namun, jika berulang sepanjang hari, perhatian bisa terus terseret dari satu rangsangan ke rangsangan lain.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Acta Psychologica menunjukkan bahwa dampak penggunaan smartphone tidak hanya berkaitan dengan jumlah jam pemakaian. Cara seseorang menggunakan smartphone dan alasan yang membuatnya terus kembali ke layar juga berperan.

  1. Sekitar sepertiga peserta masuk kelompok pengguna berat

    Peneliti dari Semmelweis University mempelajari penggunaan smartphone pada dewasa muda dan mahasiswa berusia 18–35 tahun. Peserta dikelompokkan berdasarkan pola aktivitasnya menjadi pengguna yang terutama memakai smartphone untuk bersosialisasi, pengguna dengan pola pemakaian ringan, dan kelompok “heavy process”.

    Kelompok terakhir menghabiskan sekitar 4–5 jam atau lebih per hari. Mereka lebih banyak mengonsumsi konten—seperti berita, hiburan, media sosial, dan scrolling pasif—daripada menggunakannya untuk berkomunikasi. Jumlahnya sekitar sepertiga dari peserta penelitian.

    Kelompok “heavy process” juga menunjukkan penggunaan smartphone yang lebih problematik, kualitas tidur yang lebih buruk, serta kebutuhan lebih kuat untuk terus mendapatkan rangsangan baru.

    Dalam penjelasan mengenai studi tersebut, kelompok ini juga memiliki performa yang lebih rendah pada tugas perhatian dan memori dibandingkan yang diharapkan untuk usianya.

  2. Apa yang dimaksud penggunaan smartphone problematik?

    Penggunaan smartphone problematik bukan cuma soal durasinya, tetapi merujuk pada pola penggunaan yang sulit dikendalikan sampai mengganggu fungsi sehari-hari—misalnya pekerjaan atau tugas tertunda, tidur terganggu, atau terus memikirkan smartphone walaupun sedang tidak menggunakannya.

    Karena itu, seseorang dengan screen time tinggi belum tentu mengalami masalah. Smartphone bisa dipakai berjam-jam untuk bekerja, belajar, bernavigasi, atau berinteraksi tanpa menimbulkan gangguan berarti. Sebaliknya, durasi yang lebih singkat pun bisa menjadi problematik jika penggunaannya kompulsif dan sulit dihentikan.

    Temuan tersebut sejalan dengan temuan studi sebelumnya terhadap anak serta remaja, yang menemukan hubungan antara penggunaan smartphone problematik dan gejala depresi, kecemasan, stres, serta kualitas tidur yang buruk.

  3. FOMO dan kontrol diri ikut menentukan

    Ilustrasi pria berbaring sambil memegang smartphone, menggambarkan penggunaan ponsel saat sedang beristirahat.
    ilustrasi seorang pria berbaring sambil memegang smartphone (pexels.com/Antoni Shkraba )

    Salah satu faktor yang disoroti penelitian terbaru adalah fear of missing out atau FoMO. Sederhananya, FoMO adalah kekhawatiran bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang menyenangkan, mengikuti percakapan, atau mengetahui informasi penting tanpa kita. Perasaan ini dapat mendorong seseorang untuk terus memeriksa pesan, media sosial, dan pembaruan terbaru.

    Penelitian awal yang memperkenalkan pengukuran FoMO menggambarkannya sebagai keinginan untuk terus terhubung dengan aktivitas orang lain. Studi lain pada 514 mahasiswa di enam universitas di China juga menemukan hubungan positif antara FoMO dan penggunaan smartphone problematik.

    Dalam penelitian Takács dan Seregély, kontrol diri yang lebih rendah, FoMO yang lebih tinggi, dan kecenderungan neurotisisme—lebih mudah mengalami emosi negatif seperti cemas, takut, atau tertekan—menjadi faktor yang memprediksi penggunaan smartphone problematik. FoMO dan kontrol diri juga membantu menjelaskan hubungan antara kecenderungan neurotisisme dan pola penggunaan smartphone tersebut.

    Kepribadian bukan satu-satunya penentu. Kemampuan mengatur dorongan, menoleransi perasaan tertinggal, dan menentukan kapan harus berhenti memakai smartphone ikut memengaruhi risikonya.

  4. Durasi tetap penting

    Walaupun cara penggunaan smartphone menjadi sorotan utama, tetapi durasi pemakaian tetap perlu diperhatikan. Menatap layar sambil menundukkan kepala dalam waktu lama dapat membebani otot leher dan mendorong postur kepala ke depan. Kebiasaan ini dikenal sebagai text neck dan dapat memicu nyeri atau ketegangan pada leher.

    Pola scrolling pasif dan dorongan untuk terus memeriksa smartphone lebih dekat dengan perhatian, kontrol impuls, dan tidur. Sementara itu, lamanya tubuh berada dalam posisi yang sama lebih berkaitan dengan keluhan postur.

  5. Cara membuat penggunaan ponsel lebih terkendali

    Beberapa langkah sederhana yang disarankan peneliti antara lain:

    • Matikan notifikasi yang tidak penting, terutama dari media sosial.
    • Tetapkan batas waktu untuk aplikasi yang paling sering membuat scrolling berlanjut.
    • Hindari membawa smartphone ke tempat tidur atau menggunakannya menjelang waktu tidur.
    • Letakkan layar lebih dekat dengan tinggi mata agar leher tidak terus menunduk.
    • Sisipkan jeda untuk bergerak setelah menggunakan smartphone dalam waktu lama.

    Tanyakan kepada diri sendiri tentang berapa lama kamu menggunakan smartphone, apa alasan kamu menggunakannya, apakah kamu masih bisa mengontrol diri, dan apa yang tertunda karena kebiasaan ini? Jawabannya dapat membantu kamu melihat pola penggunaan smartphone.

    Studi baru ini mengamati hubungan antarvariabel pada kelompok dewasa muda, sehingga hasilnya tidak dapat membuktikan bahwa FoMO atau scrolling secara langsung menyebabkan gangguan fokus maupun tidur.

    Kesehatan digital tidak cukup hanya menilai screen time, tetapi juga pola penggunaan, dorongan di baliknya, dan kemampuan mengendalikan diri.

    Referensi

    Johanna Takács and Beáta Seregély, “Parallel Mediation of FoMO and Self-Control on the Relationship between Problematic Smartphone Use and Neuroticism, At-Risk Group’s Characteristics among Young Adults,” Acta Psychologica 260 (2025): 105608, https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.105608.

    Semmelweis University, “Study Offers New Insights into the Reasons behind Smartphone Addiction,” MedicalXpress, diakses September 2026.

    Soo Young Sohn, Paul Rees, Ben Wildridge, Niamh J. Kalk, and Bridget Carter, “Prevalence of Problematic Smartphone Usage and Associated Mental Health Outcomes amongst Children and Young People: A Systematic Review, Meta-Analysis and GRADE of the Evidence,” BMC Psychiatry 19 (2019): 356, https://doi.org/10.1186/s12888-019-2350-x.

    Andrew K. Przybylski, Kou Murayama, Cody R. DeHaan, and Valerie Gladwell, “Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out,” Computers in Human Behavior 29, no. 4 (2013): 1841–48, https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014.

    Jinliang Guan, Wangyan Ma, and Chengzhen Liu, “Fear of Missing Out and Problematic Smartphone Use among Chinese College Students: The Roles of Positive and Negative Metacognitions about Smartphone Use and Optimism,” PLOS ONE 18, no. 11 (2023): e0294505, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0294505.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More