Tulane University, “Study: Even Low Levels of Nighttime Light Exposure May Weaken the Heart,” diakses September 2026.
Jin Dai et al., “Nighttime Light Exposure and Cardiac Structure and Function,” European Heart Journal, published online September 9, 2026, ehag563, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehag563.
Thomas Münzel, Marin Kuntic, and Andreas Daiber, “The Dark Night as a Cardiovascular Vital Sign: Personal Light Exposure, Subclinical Cardiac Remodelling, and the Urban Exposome,” European Heart Journal, published online September 9, 2026, ehag650, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehag650.
Cahaya Malam Hari Dikaitkan dengan Jantung yang Lebih Tebal dan Kaku

Paparan cahaya malam yang lebih tinggi dikaitkan dengan penebalan dinding dan perubahan fungsi jantung.
Gangguan jam biologis dan berkurangnya waktu tidur diduga ikut berperan.
Studi ini belum membuktikan sebab-akibat; manfaat mengurangi cahaya terhadap kesehatan jantung masih perlu diuji.
Lampu kamar sudah dimatikan, tetapi cahaya dari lorong masih masuk melalui celah pintu. Bagi sebagian orang, suasana seperti ini terasa cukup gelap untuk tidur. Kini, penelitian menyoroti kemungkinan hubungan paparan cahaya malam dengan kesehatan jantung, bahkan ketika cahayanya tergolong redup.
Studi dalam European Heart Journal pada September 2026 menemukan kaitan antara paparan tersebut dan perubahan struktur serta fungsi jantung.
Table of Content
1. Peneliti mengukur cahaya yang diterima sehari-hari
Lebih dari 11.000 peserta UK Biobank memakai sensor cahaya di pergelangan tangan selama 7 hari. Sekitar 3 tahun kemudian, mereka menjalani MRI jantung. Peneliti menilai paparan cahaya di atas 3 lux, satuan tingkat pencahayaan, selama 5 jam ketika masing-masing peserta paling tidak aktif.
Pembandingnya adalah peserta tanpa paparan di atas ambang tersebut. Jadi, kelompok pembanding tidak harus tidur dalam kegelapan mutlak. Angka 3 lux juga bukan batas yang memastikan cahaya di bawahnya aman bagi jantung.
2. Dinding jantung lebih tebal, gerak ototnya berkurang
Setelah memperhitungkan berbagai faktor kesehatan dan gaya hidup, kelompok paparan tertinggi memiliki dinding bilik kiri rata-rata 1,5 persen lebih tebal dibanding kelompok pembanding. Beberapa ukuran gerak otot jantung saat berkontraksi juga lebih rendah.
Temuan ini menunjukkan perbedaan halus pada struktur dan fungsi jantung antarkelompok. Namun, pemeriksaan tersebut tidak dengan sendirinya berarti setiap peserta mengalami gagal jantung atau membuktikan bahwa jantung seseorang menebal akibat cahaya selama penelitian.
3. Jam biologis tubuh diduga menjadi penghubung

ilustrasi pencahayaan kamar tidur yang redup (pexels.com/Ron Lach) Dalam editorial pendamping, peneliti menjelaskan bahwa cahaya malam dapat mengganggu jam biologis, yaitu pengaturan waktu alami tubuh. Paparan ini dapat menekan melatonin, hormon yang membantu mengatur tidur, serta memengaruhi sistem saraf dan respons stres. Jalur tersebut diduga ikut menjelaskan kaitannya dengan jantung.
Analisis statistik juga menunjukkan bahwa durasi tidur yang lebih pendek menjelaskan sebagian hubungan yang ditemukan. Namun, mekanismenya belum dapat dipastikan.
Penelitian bersifat observasional, pengukuran cahaya hanya berlangsung seminggu, dan faktor lain seperti kebisingan lingkungan masih mungkin memengaruhi hasil.
4. Coba kurangi cahaya kamar
Laman resmi Tulane University School of Public Health and Tropical Medicine menyebut beberapa cara sederhana untuk mengurangi paparan, yaitu dengan mematikan layar sebelum tidur, menutup tirai, atau memakai penutup mata.
Disarankan juga untuk mengurangi cahaya indikator perangkat dan menggunakan pencahayaan redup bernuansa hangat jika diperlukan.
Meski demikian, uji klinis masih dibutuhkan untuk mengetahui apakah langkah tersebut dapat memperbaiki perubahan jantung atau mengurangi kejadian penyakit jantung.
Referensi







![[QUIZ] Mau Tahu Jenis Kronotipe Tidur Kamu? Jawab 12 Pertanyaan Ini](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)












