ASU News, “Why Immune Responses to Vaccines Vary from Person to Person,” diakses September 2026.
Priya Joi, “Could a Blood Test Tell You How Well a Vaccine Will Work for You?” VaccinesWork, Gavi, diakses September 2026.
Joshua LaBaer et al., “Predicting Vaccine Responsiveness from Pre-Vaccination Antibody Profiles,” Cell Press Blue (2026), article 100088, https://doi.org/10.1016/j.cpblue.2026.100088.
Mengapa Respons Vaksin Berbeda pada Tiap Orang? Ini Temuan Studi

Respons terhadap vaksin dipengaruhi usia, jenis kelamin, genetik, riwayat infeksi, kondisi kesehatan, dan obat yang menekan sistem imun.
Studi terbaru menemukan pola antibodi sebelum vaksinasi dapat memberi petunjuk tentang kuat-lemahnya respons seseorang.
Tes darah berbasis antibodi dan kecerdasan buatan masih dalam tahap penelitian, bukan pemeriksaan rutin untuk menentukan seseorang perlu vaksin atau tidak.
Dua orang bisa menerima vaksin yang sama pada waktu yang hampir bersamaan, tetapi menghasilkan jumlah antibodi yang berbeda. Sebagian membentuk respons kuat, sementara sebagian lain responsnya lebih lemah.
Respons terhadap vaksin dipengaruhi oleh banyak faktor. Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa petunjuknya mungkin sudah terlihat dalam darah sebelum vaksin diberikan.
Table of Content
1. Usia, jenis kelamin, genetik, dan kondisi kesehatan ikut berperan
Kemampuan sistem imun berubah sepanjang hidup. Usia, jenis kelamin, faktor genetik, penyakit yang pernah dialami, serta kondisi kesehatan dapat memengaruhi seberapa kuat tubuh membentuk antibodi setelah vaksinasi.
Orang yang menjalani transplantasi organ, memiliki kanker tertentu, HIV, penyakit autoimun, atau penyakit radang usus juga dapat mengalami respons yang lebih lemah karena penyakit maupun pengobatannya.
Namun, kategori medis tidak dapat menjelaskan semuanya. Di dalam kelompok yang sistem imunnya ditekan, tetap ada orang yang merespons kuat. Sebaliknya, sebagian kecil orang sehat juga dapat membentuk respons yang lemah.
Itu berarti label “sehat” atau “imunokompromi” hanya menunjukkan kecenderungan, bukan kepastian.
2. Riwayat pertemuan dengan kuman meninggalkan jejak dalam darah
Sistem imun menyimpan “catatan” dari berbagai virus, bakteri, dan zat asing yang pernah dihadapi. Catatan ini salah satunya terlihat melalui antibodi, yaitu protein yang membantu mengenali target tertentu. Vaksin kemudian melatih sistem imun agar mengenali target penyakit tanpa harus mengalami infeksi berat lebih dulu.
Peneliti dari Arizona State University, Amerika Serikat, dan sejumlah lembaga lain mengukur antibodi terhadap 185 antigen (97 virus, 40 bakteri, dan 25 protein tubuh) dalam 8.687 sampel dari 4.089 peserta. Mereka membandingkan pola antibodi sebelum dan sesudah vaksinasi COVID-19.
3. Antibodi penanda mungkin mencerminkan kesiapan sistem imun

ilustrasi vaksinasi (IDN Times/Arief Rahmat) Kadar antibodi terhadap Staphylococcus aureus, virus RSV, dan human respirovirus 3 berkaitan dengan respons antibodi COVID-19 yang lebih kuat. Antibodi tersebut disebut sentinel antibodies atau antibodi penanda.
Antibodi itu tidak melindungi seseorang dari SARS-CoV-2. Fungsinya dalam penelitian bukan sebagai pelindung langsung, melainkan sebagai petunjuk bahwa mesin pembentuk antibodi seseorang mungkin sedang lebih siap merespons rangsangan baru. Para peneliti juga menemukan kadar sebagian antibodi penanda relatif stabil dalam 18 bulan.
4. Para peneliti dibantu kecerdasan buatan
Satu jenis antibodi saja belum cukup untuk menggambarkan kondisi sistem imun. Karena itu, peneliti menggunakan model deep learning untuk menganalisis banyak pola antibodi sekaligus, bersama informasi seperti usia, jenis kelamin, dan kelompok kondisi kesehatan.
Model tersebut menunjukkan potensi memprediksi siapa yang mungkin mengalami respons lemah, terutama pada peserta yang tidak memiliki gangguan sistem imun. Namun, kemampuannya lebih terbatas pada kelompok dengan penyakit atau terapi penekan imun, dan tidak dapat digunakan sebagai alat klinis rutin saat ini.
5. Jadwal dan jenis vaksin tetap perlu mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan
Studi tersebut terutama mengukur respons antibodi terhadap vaksin COVID-19. Antibodi juga bukan satu-satunya bagian dari perlindungan imun karena sel-sel imun lain turut bekerja. Selain itu, penelitian ini belum membuktikan bahwa tes tersebut dapat menentukan seseorang pasti terlindungi atau pasti butuh dosis tambahan.
Jika kelak divalidasi melalui penelitian yang lebih luas dan pada jenis vaksin lain, profil antibodi mungkin membantu dokter mengenali orang yang perlu pemantauan lebih dekat, dosis tambahan, atau perlindungan lain. Untuk sekarang, jadwal dan jenis vaksin tetap perlu mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan dan pedoman resmi.
Referensi














![[QUIZ] Berdasarkan Tujuan Kamu, Ini Jenis Diet yang Paling Cocok](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)







