Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Kabut Biasa, Ini Bahaya Vog bagi Kesehatan

Bukan Kabut Biasa, Ini Bahaya Vog bagi Kesehatan
ilustrasi volcanic smog atau vog (pexels.com/christian buehner)
  • Vog adalah polusi udara berupa campuran gas sulfur dioksida dan partikel asam berukuran sangat kecil.

  • Paparannya dapat mengiritasi mata dan saluran napas, mempersempit saluran udara, serta memperburuk asma.

  • Masker N95 dapat membantu menyaring partikel, tetapi tidak melindungi pemakainya dari gas sulfur dioksida.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Udara di sekitar gunung api terkadang terlihat diselimuti kabut keabu-abuan walaupun tidak sedang terjadi hujan abu. Jarak pandang berkurang dan udara mungkin berbau menyengat. Kondisi ini dapat menandakan keberadaan vog, yakni polusi udara yang berasal dari aktivitas vulkanik.

Istilah vog merupakan gabungan dari volcanic dan smog. Fenomena ini banyak dipelajari di Hawaii karena emisi gas Gunung Kīlauea, tetapi polusi udara serupa dapat terbentuk di sekitar gunung api aktif di berbagai negara.

  1. 1. Vog tidak sama dengan abu vulkanik

    Abu vulkanik terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik padat. Sementara itu, vog merupakan campuran berkabut yang mengandung gas sulfur dioksida (SO₂) serta aerosol, yaitu partikel atau tetesan cairan berukuran sangat kecil.

    Vog terbentuk ketika SO₂ dan gas vulkanik lainnya bereaksi dengan oksigen, uap air, debu, serta sinar matahari. Proses kimia yang berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa hari ini menghasilkan tetesan asam sulfat dan senyawa sulfat lainnya.

    Komposisinya juga berubah sesuai jarak. Di dekat kawah atau sumber emisi, vog biasanya masih banyak mengandung gas SO₂ yang belum bereaksi. Di daerah yang berjarak puluhan hingga ratusan kilometer, sebagian besar gas tersebut telah berubah menjadi aerosol sulfat.

    Artinya, masyarakat yang jauh dari gunung api masih dapat terpapar. Arah dan kecepatan angin, kondisi cuaca, jarak dari sumber emisi, serta bentuk permukaan wilayah menentukan ke mana vog bergerak dan seberapa pekat konsentrasinya.

  2. 2. Mengandung gas yang mengiritasi saluran napas

    SO₂ merupakan gas tidak berwarna dengan bau tajam. Gas ini dapat mengiritasi selaput lendir mata, hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan.

    Pada orang dengan asma, paparan singkat sekalipun dapat memicu bronkokonstriksi, yaitu penyempitan saluran udara. Ini dapat mengakibatkan napas berbunyi, dada terasa sesak, batuk bertambah, atau bernapas menjadi lebih sulit.

    Risiko paparan juga meningkat saat seseorang berolahraga atau melakukan aktivitas berat karena ia menghirup lebih banyak udara.

    Ketika konsentrasinya cukup tinggi, orang tanpa penyakit paru juga dapat mengalami gangguan pernapasan.

  3. 3. Partikelnya dapat masuk jauh ke paru-paru

    Kabut asap vulkanik atau vog menyelimuti lereng gunung berapi, membatasi jarak pandang di bawah langit kelabu.
    ilustrasi volcanic smog atau vog gunung berapi (unsplash.com/Christian Miranda)

    Selain SO₂, vog mengandung partikel halus, termasuk PM2.5 yang diameternya tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Ukurannya jauh lebih kecil daripada lebar sehelai rambut manusia sehingga dapat terhirup hingga ke bagian dalam paru-paru.

    Paparan vog dalam jangka pendek dapat menimbulkan:

    • Mata, hidung, tenggorokan, atau kulit terasa perih.
    • Batuk dan produksi dahak meningkat.
    • Tenggorokan kering atau sakit.
    • Dada terasa berat atau sesak.
    • Napas pendek.
    • Sakit kepala.
    • Mual, kelelahan, atau pusing.
    • Memburuknya gejala asma atau penyakit paru lainnya.

    Studi terhadap warga di sekitar Kīlauea menemukan bahwa paparan vog yang tinggi berkaitan dengan lebih banyak kunjungan berobat akibat batuk, sakit kepala, radang tenggorokan akut, dan gangguan saluran napas.

    Penelitian lain yang melibatkan 1.957 anak sekolah di Pulau Hawaii mengaitkan paparan vog yang bersifat asam dengan peningkatan keluhan batuk dan kemungkinan penurunan rasio fungsi paru. Namun, penelitian tersebut tidak menemukan hubungan dengan diagnosis asma atau bronkitis, tidak membuktikan vog secara langsung menyebabkan seluruh penyakit tersebut.

  4. 4. Tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama

    Orang dengan asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau penyakit jantung lebih mudah mengalami masalah kesehatan akibat vog. Bayi, anak-anak, lansia, serta ibu hamil juga termasuk kelompok yang lebih rentan.

    Anak kecil perlu mendapat perhatian khusus karena paru-parunya masih berkembang dan mereka menghirup lebih banyak udara dibandingkan ukuran tubuhnya.

    Sebuah studi yang menganalisis perubahan polusi akibat aktivitas Kīlauea menemukan bahwa peningkatan partikel berkaitan dengan bertambahnya kunjungan IGD karena gangguan paru, dengan dampak paling besar terlihat pada anak berusia di bawah 5 tahun.

    Sementara itu, bukti mengenai dampak paparan vog selama bertahun-tahun masih terbatas. Tinjauan ilmiah tahun 2022 menyimpulkan bahwa polusi vulkanik dapat memperburuk penyakit paru yang sudah ada, tetapi penelitian jangka panjang mengenai risiko penyakit kronis masih belum memadai.

  5. 5. Masker tidak sepenuhnya melindungi dari vog

    Saat kadar vog meningkat, kurangi aktivitas fisik di luar ruangan. Masuklah ke bangunan yang lebih tertutup, tutup pintu dan jendela, serta gunakan pendingin ruangan dengan sirkulasi udara dari dalam jika tersedia.

    Pembersih udara berfilter HEPA dapat membantu mengurangi partikel, tetapi diperlukan perangkat dengan penyaring gas yang sesuai untuk mengurangi SO₂.

    Masker kain, masker bedah, dan bandana tidak memberikan perlindungan memadai terhadap vog. N95 yang terpasang rapat dapat membantu menyaring abu dan sebagian partikel halus, tetapi tidak dapat menyaring gas SO₂. Karena itu, memakai N95 bukan alasan untuk tetap berada di luar saat konsentrasi gas berbahaya.

    Segera cari pertolongan medis jika muncul sesak berat, napas berbunyi, nyeri atau tekanan di dada, sulit berbicara karena kehabisan napas, kebiruan pada bibir, atau gejala yang tidak membaik setelah menjauh dari area paparan.

    Referensi

    U.S. Geological Survey, “Frequently Asked Questions About Volcanic Smog (Vog),” diakses September 2026.

    U.S. Geological Survey, “Volcanic Gases Can Be Harmful to Health, Vegetation and Infrastructure,” diakses September 2026.

    International Volcanic Health Hazard Network, “Health Effects of Vog,” diakses September 2026.

    Bernadette M. Longo et al., “Acute Health Effects Associated with Exposure to Volcanic Air Pollution (Vog) from Increased Activity at Kilauea Volcano in 2008,” Journal of Toxicology and Environmental Health, Part A 73, no. 20 (2010): 1370–81, https://doi.org/10.1080/15287394.2010.497440.

    Elizabeth K. Tam et al., “Volcanic Air Pollution over the Island of Hawai‘i: Emissions, Dispersal, and Composition. Association with Respiratory Symptoms and Lung Function in Hawai‘i Island School Children,” Environment International 92–93 (2016): 543–52, https://doi.org/10.1016/j.envint.2016.03.025.

    Timothy J. Halliday, John Lynham, and Áureo de Paula, “Vog: Using Volcanic Eruptions to Estimate the Health Costs of Particulates,” Economic Journal 129, no. 620 (2019): 1782–1816, https://doi.org/10.1111/ecoj.12609.

    Carol Stewart et al., “Volcanic Air Pollution and Human Health: Recent Advances and Future Directions,” Bulletin of Volcanology 84 (2022): 11, https://doi.org/10.1007/s00445-021-01513-9.

    International Volcanic Health Hazard Network, “Vog Protection,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More