Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Jenis Masker untuk Abu Vulkanik, Mana yang Paling Efektif?

3 Jenis Masker untuk Abu Vulkanik, Mana yang Paling Efektif?
ilustrasi masker N95 (pexels.com/CDC)
  • Abu vulkanik Anak Krakatau dapat terbawa angin jauh dan mengganggu pernapasan, terutama saat beterbangan atau terangkat ketika dibersihkan.
  • N95 atau P2 menjadi perlindungan paling efektif karena menyaring partikel halus dan pas di wajah; pemakaian harus menutup hidung, mulut, serta dagu tanpa celah besar.
  • Masker bedah menjadi alternatif jika N95/P2 tidak tersedia, sedangkan masker kain memberi perlindungan paling terbatas dan sebaiknya digunakan sebagai pilihan terakhir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin dapat menyebar ke wilayah yang cukup jauh dan berisiko terhirup oleh masyarakat. Partikel abu yang sangat halus dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama ketika abu masih beterbangan atau kembali terangkat saat dibersihkan. Karena itu, menggunakan masker menjadi salah satu cara untuk mengurangi jumlah abu yang masuk ke saluran pernapasan ketika harus berada di luar ruangan.

Namun, tidak semua jenis masker memberikan tingkat perlindungan yang sama terhadap partikel abu vulkanik. Ada masker yang memang dirancang untuk menyaring partikel kecil, ada pula yang hanya memberikan perlindungan terbatas. Lantas, dari N95, masker bedah, dan masker kain, mana yang paling efektif melindungi diri dari abu vulkanik? Jika ketiganya ada dalam pilihanmu, yuk, simak dulu penjelasannya di bawah ini!

  1. 1. N95 atau P2: Pilihan paling efektif

    ilustrasi masker N95
    ilustrasi masker N95 (pixabay.com/AbrahamSuna)

    N95 atau P2 menjadi pilihan paling efektif untuk mengurangi paparan abu vulkanik karena dirancang untuk menyaring partikel kecil sekaligus menempel lebih rapat pada wajah. Menurut U.S. Geological Survey (USGS), masker bersertifikat seperti N95, P2, FFP2, atau standar setara merupakan perlindungan pernapasan yang paling efektif untuk orang dewasa saat terpapar abu. Masker ini bekerja dengan menyaring partikel sebelum masuk ke saluran pernapasan, sementara bentuknya yang lebih rapat membantu mengurangi celah tempat abu bisa masuk dari sisi masker.

    Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada cara pemakaian karena masker yang longgar tidak dapat memberikan perlindungan maksimal. Dilansir Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), N95 yang telah mendapat persetujuan Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan pada Pekerja (NIOSH) dapat digunakan ketika berada di luar ruangan atau saat membersihkan abu di dalam rumah. Jadi, pastikan masker menutup hidung, mulut, dan dagu dengan rapat serta tidak ada celah besar di bagian tepinya.

  2. 2.Masker bedah: Masih membantu, tetapi di bawah N95

    ilustrasi masker bedah
    ilustrasi masker bedah (pexels.com/Anna Shvets)

    Masker bedah bisa menjadi pilihan jika N95 atau P2 tidak tersedia, tetapi tingkat perlindungannya tidak sebaik respirator yang menempel rapat di wajah. Mengutip dari USGS, masker bedah berlipit standar masih dapat menyaring abu vulkanik dengan cukup baik selama masker terpasang dengan benar di wajah. Masalahnya, masker bedah biasanya memiliki celah di sekitar hidung dan pipi sehingga sebagian udara yang membawa partikel abu dapat masuk dari sisi masker.

    Dilansir Health New Zealand, jika tidak memiliki masker P2 atau N95, masyarakat dapat menggunakan masker bedah ketika harus keluar saat terjadi hujan abu,. Kendati demikian, perlindungannya tidak seefektif P2 atau N95 yang menempel lebih rapat pada wajah. Oleh sebab itu, masker bedah lebih tepat dianggap sebagai perlindungan alternatif, bukan pengganti yang setara dengan N95 atau P2.

  3. 3. Masker kain: Perlindungan paling terbatas

    ilustrasi masker kain
    ilustrasi masker kain (pexels.com/RDNE Stock Project)

    Masker kain atau kain yang menutupi hidung dan mulut dapat membantu ketika tidak ada pilihan masker lain, tetapi perlindungannya terhadap abu vulkanik paling terbatas. Menurut USGS, bahan seperti bandana, kaus, kerudung, atau saputangan memiliki kemampuan menyaring abu yang lebih rendah dibandingkan kebanyakan masker dan juga cenderung tidak menempel rapat pada wajah. Adapun, menambah beberapa lapisan kain memang dapat meningkatkan kemampuan menyaring partikel, tetapi tetap tidak membuatnya setara dengan masker bersertifikat seperti N95 atau P2.

    Jadi, masker kain dapat digunakan sebagai pilihan ketika P2, N95, atau masker bedah tidak tersedia, tetapi efektivitasnya lebih rendah. Karena itu, masker kain sebaiknya diambil sebagai pilihan terakhir ketika kamu benar-benar harus keluar di tengah paparan abu. Jika tersedia, lebih baik gunakan respirator yang memiliki kemampuan filtrasi dan ukuran yang sesuai dengan wajah.

    Pilihan masker untuk menghadapi abu vulkanik ternyata tidak bisa disamakan karena kemampuan menyaring partikel dan tingkat kerapatan tiap masker berbeda. N95 atau P2 menjadi pilihan utama, sementara masker bedah dan masker kain dapat digunakan sebagai alternatif dengan tingkat perlindungan yang lebih rendah. Kalau kamu harus keluar saat abu vulkanik sedang beterbangan, masker mana yang biasanya kamu pilih?

    Referensi

    "Protecting Against Ash". U.S. Geological Survey (USGS). Diakses pada Agustus 2026.

    "Personal Protection PPE". U.S. Geological Survey (USGS). Diakses pada Agustus 2026.

    "Preparing for a Volcanic Eruption". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada Agustus 2026.

    "Safety Guidelines: During a Volcanic Eruption". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada Agustus 2026.

    "Volcanic Emissions and Health". Health New Zealand. Diakses pada Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More