Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fakta Silikosis: Saat Debu Silika Perlahan Melukai Paru-paru

5 min read
Fakta Silikosis: Saat Debu Silika Perlahan Melukai Paru-paru
ilustrasi pekerjaan yang berisiko menyebabkan silikosis (pixabay.com/Maike und Björn Bröskamp)
  • Silikosis disebabkan oleh debu silika kristalin yang terhirup dan menimbulkan peradangan serta jaringan parut di paru-paru.

  • Gejalanya bisa baru muncul bertahun-tahun setelah paparan, bahkan penyakit dapat terus memburuk ketika paparan sudah berhenti.

  • Belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan silikosis sehingga pengendalian debu di tempat kerja menjadi perlindungan utama.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Debu yang beterbangan saat batu dipotong atau beton dibor mungkin segera menghilang dari pandangan. Namun, partikel yang sangat halus dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Pada pekerja yang menghirupnya berulang kali, paparan ini bisa meninggalkan jaringan parut permanen dan menyebabkan penyakit bernama silikosis.

  1. 1. Silikosis disebabkan oleh partikel yang mencapai paru-paru

    Silika kristalin adalah mineral yang terdapat dalam pasir, batu, granit, beton, mortar, dan sejumlah bahan bangunan lainnya. Debu berbahaya terbentuk ketika bahan-bahan tersebut dipotong, digiling, dibor, dihancurkan, atau diledakkan.

    Partikel silika yang dapat terhirup berukuran sangat kecil sehingga mampu mencapai kantong udara terdalam di paru-paru. Tubuh kemudian memicu peradangan untuk menghadapi partikel tersebut. Jika berlangsung terus, proses ini membentuk jaringan parut atau fibrosis yang membuat paru-paru makin kaku dan sulit menjalankan tugasnya.

    Silikosis kronis biasanya muncul setelah setidaknya 10 tahun terpapar. Paparan yang lebih tinggi dapat menyebabkan silikosis terakselerasi dalam waktu 5–10 tahun. Sementara itu, silikosis akut dapat berkembang hanya dalam beberapa minggu atau bulan setelah paparan yang sangat tinggi.

  2. 2. Siapa yang paling berisiko?

    Risiko terutama dihadapi oleh orang yang bekerja di pertambangan dan penggalian, konstruksi dan pembongkaran bangunan, pemotongan batu alam atau batu rekayasa, pembuatan meja dapur berbahan batu, pengecoran logam, industri keramik, serta pekerjaan sandblasting.

    Konsentrasi debu, lamanya paparan, metode kerja, ventilasi, dan penggunaan perlindungan yang tepat ikut memengaruhi kemungkinan penyakit. Memotong atau menggerinda bahan secara kering di tempat tertutup dapat menghasilkan paparan jauh lebih tinggi dibandingkan proses yang memakai air dan penyedot debu.

  3. 3. Gejalanya sering tidak terasa pada tahap awal

    Seorang pekerja mengenakan masker pelindung saat bekerja, menggambarkan risiko paparan debu penyebab silikosis.
    ilustrasi pekerja yang berisiko terkena silikosis (unsplash.com/alireza naseri)

    Seseorang dapat mengalami perubahan pada paru-paru tanpa merasa sakit. Ketika penyakit berkembang, gejala yang dapat muncul meliputi:

    • Batuk yang menetap.
    • Sesak napas, terutama saat beraktivitas.
    • Mudah lelah.
    • Nyeri dada.
    • Penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

    Demam, berat badan menurun, berkeringat pada malam hari, atau batuk berdarah memerlukan pemeriksaan segera karena dapat menandakan infeksi tuberkulosis (TBC), infeksi lain, atau kanker bahkan paru.

  4. 4. Diagnosis

    Batuk dan sesak memiliki banyak kemungkinan penyebab. Karena itu, dokter perlu menanyakan riwayat pekerjaan secara terperinci, termasuk jenis bahan, tugas yang dilakukan, lama bekerja, dan perlindungan yang digunakan.

    Diagnosis silikosis didasarkan pada tiga unsur, yaitu adanya riwayat paparan silika, gambaran paru yang sesuai pada rontgen atau CT scan resolusi tinggi, serta tidak ditemukannya penyebab lain yang lebih mungkin.

    Tes fungsi paru dapat digunakan untuk mengukur gangguan pernapasan, sedangkan tes TB diperlukan karena risiko infeksi tersebut meningkat. Biopsi paru biasanya hanya dipertimbangkan jika diagnosis masih belum jelas.

  5. 5. Potensi komplikasi

    Jaringan parut dapat menyatu menjadi area yang lebih besar, kondisi yang disebut fibrosis masif progresif. Pada tahap lanjut, silikosis dapat menyebabkan kadar oksigen rendah, hipertensi pulmonal, gagal napas, hingga gangguan pada sisi kanan jantung.

    Paparan silika dan silikosis juga dikaitkan dengan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kanker paru, penyakit ginjal, dan beberapa penyakit autoimun.

    Ada pula kaitannya dengan TBC. Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis menemukan orang dengan silikosis memiliki risiko TBC sekitar empat kali lipat dibanding orang tanpa silikosis. Bahkan, paparan silika tanpa silikosis yang terlihat pada rontgen juga dikaitkan dengan peningkatan risiko TBC, meski kepastian buktinya lebih rendah.

  6. 6. Pengobatan bertujuan mengendalikan dampaknya

    Beragam obat-obatan berupa kapsul, tablet, dan botol tersusun sebagai ilustrasi kesehatan dan pengobatan.
    ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Novaya Siantita)

    Belum ada obat yang dapat menghilangkan partikel silika atau mengembalikan jaringan paru yang telah berubah menjadi jaringan parut. Penanganan dimulai dengan menghentikan paparan lebih lanjut dan memantau fungsi paru serta komplikasi yang mungkin terjadi.

    Dokter dapat memberikan obat pelega saluran napas jika terjadi penyempitan saluran pernapasan, oksigen tambahan jika kadar oksigen rendah, serta rehabilitasi paru untuk membantu pasien tetap aktif. Infeksi, termasuk TBC, harus ditangani secara khusus.

    Transplantasi paru dapat dipertimbangkan pada penyakit yang sangat berat dan memenuhi persyaratan medis.

  7. 7. Prognosis berbeda pada setiap pasien

    Perjalanan silikosis bergantung pada jumlah dan lamanya paparan, jenis penyakit, luas jaringan parut, serta komplikasi yang terjadi. Silikosis kronis dapat berkembang perlahan, sedangkan bentuk akut atau terakselerasi cenderung memburuk lebih cepat.

    Kerusakan paru bahkan dapat berlanjut setelah seseorang tidak lagi bekerja di lingkungan berdebu. Diagnosis lebih awal penting agar paparan dapat segera dihentikan, fungsi paru dipantau, dan komplikasi seperti TBC ditemukan lebih cepat.

  8. 8. Pencegahan

    Masker biasa tidak cukup untuk mengendalikan paparan silika. Tempat kerja perlu menekan pembentukan debu melalui pemotongan basah, ventilasi pembuangan lokal, penyedot berfilter HEPA, dan pemisahan proses berdebu dari pekerja lain.

    Debu tidak boleh dibersihkan dengan penyapuan kering atau udara bertekanan karena cara tersebut membuat partikel kembali beterbangan. Respirator yang sesuai dan terpasang dengan benar digunakan sebagai perlindungan tambahan, bukan pengganti pengendalian debu

    Pekerja yang rutin terpapar juga memerlukan pengawasan kesehatan berkala. Pemeriksaan tidak perlu menunggu sesak muncul, sebab perubahan paru dapat dimulai ketika seseorang masih merasa sehat.

    Referensi

    Centers for Disease Control and Prevention, National Institute for Occupational Safety and Health, “Symptoms and Medical Monitoring,” Silica, July 7, 2026.

    Occupational Safety and Health Administration, “Medical Surveillance Guidelines,” appendix B to 29 CFR 1910.1053, diakses September 2026.

    Rodney Ehrlich et al., “The Association between Silica Exposure, Silicosis and Tuberculosis: A Systematic Review and Meta-analysis,” BMC Public Health 21 (2021): 953, https://doi.org/10.1186/s12889-021-10711-1.

    Chi Chiu Leung, Ignatius Tak Sun Yu, and Weihong Chen, “Silicosis,” The Lancet 379, no. 9830 (2012): 2008–18, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(12)60235-9.

    Centers for Disease Control and Prevention, National Institute for Occupational Safety and Health, “Safe Work Practices,” Silica, July 7, 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More