Healthcare Consultant USA. Diakses pada September 2026. "Does Diarrhea Result In Electrolyte Loss?"
LivHospital. Diakses pada September 2026. "Why Does Diarrhea Cause Dehydration and How to Prevent It?"
Ubie Health. Diakses pada September 2026. "Why Does Chronic Diarrhea Cause Dehydration?"
Vita Library. Diakses pada September 2026. "Dehydration From Diarrhea: Signs, ORS, and When to Get Help."
Mengapa Diare Bisa Menyebabkan Dehidrasi?

- Diare mengganggu penyerapan cairan dan elektrolit di usus, sekaligus dapat meningkatkan pengeluaran air serta garam, sehingga feses menjadi encer dan cairan tubuh cepat berkurang.
- Kehilangan cairan berulang menurunkan volume darah dan memicu haus, mulut kering, lemas, pusing, jantung berdebar, hingga berkurangnya buang air kecil; elektrolit yang hilang dapat menyebabkan kram.
- Bayi, anak kecil, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu lebih rentan; cairan serta elektrolit perlu segera diganti dengan oralit, dan tanda dehidrasi berat memerlukan pertolongan medis.
Diare bukan cuma kondisi lebih sering buang air besar. Jika berlangsung berulang kali, terutama dengan feses yang sangat encer, diare dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan dalam waktu singkat. Itulah sebabnya orang yang mengalami diare juga berisiko mengalami dehidrasi.
Masalahnya, cairan yang hilang saat diare bukan hanya air. Tubuh juga kehilangan elektrolit, seperti natrium, kalium, klorida, dan bikarbonat yang dibutuhkan untuk menjaga berbagai fungsi tubuh. Lantas, bagaimana sebenarnya diare bisa membuat tubuh kekurangan cairan?
Table of Content
1. Tubuh normalnya menyerap kembali sebagian besar cairan di usus
Setiap hari, sejumlah besar cairan masuk ke saluran pencernaan, baik dari makanan dan minuman maupun dari cairan yang diproduksi tubuh untuk membantu proses pencernaan. Sebagian besar cairan tersebut kemudian diserap kembali oleh usus halus dan usus besar.
Proses ini membantu menjaga volume darah sekaligus mempertahankan keseimbangan elektrolit di dalam tubuh. Dengan begitu, cairan yang masuk dan keluar dari tubuh tetap berada dalam kondisi yang relatif seimbang. Namun, itu dapat berubah ketika seseorang mengalami diare.
2. Apa yang terjadi pada usus saat diare?
Saat diare, kemampuan saluran pencernaan untuk mengatur cairan dapat terganggu. Ada beberapa mekanisme yang membuat semakin banyak air berada di dalam usus.
Pertama, lapisan usus bisa mengalami peradangan atau gangguan sehingga penyerapan air dan elektrolit menjadi kurang optimal. Akibatnya, cairan yang seharusnya kembali ke dalam tubuh justru tetap berada di saluran pencernaan.
Kedua, beberapa jenis infeksi dan racun yang dihasilkan mikroorganisme dapat membuat sel-sel usus mengeluarkan lebih banyak air dan garam ke dalam usus. Kondisi ini dikenal sebagai diare sekretorik.
Selain itu, pada diare, makanan dan cairan dapat bergerak terlalu cepat melewati saluran pencernaan. Waktu yang tersedia bagi usus untuk menyerap kembali cairan pun menjadi lebih sedikit.
Ada pula diare yang terjadi akibat zat-zat tertentu yang tidak terserap dengan baik oleh tubuh. Zat tersebut dapat menarik dan menahan air di dalam usus sehingga feses menjadi lebih encer.
Berbagai mekanisme tersebut pada akhirnya membuat jumlah cairan yang keluar bersama feses lebih banyak daripada yang mampu diserap kembali oleh tubuh.
3. Mengapa kehilangan cairan bisa menyebabkan dehidrasi?

ilustrasi diare (freepik.com/gpointstudio) Dehidrasi terjadi ketika jumlah cairan yang keluar dari tubuh lebih banyak daripada cairan yang masuk. Pada diare, kehilangan cairan bisa terjadi berkali-kali dalam sehari sehingga tubuh tidak selalu mampu menggantinya dengan cukup cepat.
Ketika volume cairan tubuh menurun, volume darah juga dapat ikut berkurang. Kondisi ini membuat tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan aliran darah ke organ-organ penting.
Itulah sebabnya orang yang mengalami dehidrasi akibat diare dapat merasa sangat haus, mulut kering, lemas, pusing, jantung berdebar lebih cepat, dan buang air kecil lebih sedikit. Jika kehilangan cairan terus berlangsung tanpa penggantian yang cukup, kondisi tersebut dapat menjadi lebih serius karena organ tubuh tidak mendapatkan aliran darah dan oksigen secara optimal.
4. Bukan hanya air, elektrolit juga ikut hilang
Salah satu alasan diare dapat menyebabkan dehidrasi dengan cepat adalah karena cairan yang keluar bersama feses juga membawa elektrolit. Natrium, kalium, klorida, dan bikarbonat memiliki berbagai fungsi penting, mulai dari mengatur keseimbangan cairan, membantu kerja saraf dan otot, hingga mempertahankan keseimbangan asam-basa tubuh.
Ketika elektrolit ikut hilang dalam jumlah banyak, seseorang dapat mengalami kelemahan, kram otot, hingga gangguan irama jantung pada kondisi yang berat. Jadi, mengatasi dehidrasi akibat diare tidak cukup hanya dengan mengganti air yang hilang. Tubuh juga perlu mendapatkan kembali elektrolit yang ikut terbuang.
5. Bayi dan lansia lebih rentan mengalami dehidrasi
Tidak semua orang memiliki risiko dehidrasi yang sama ketika mengalami diare. Sebagai contoh, bayi dan anak kecil memiliki cadangan cairan tubuh yang lebih sedikit sehingga kehilangan cairan dalam jumlah kecil sekalipun dapat memberikan dampak yang lebih besar.
Lansia juga termasuk kelompok yang perlu lebih diperhatikan. Kemampuan tubuh untuk mengatur keseimbangan cairan dapat berubah seiring bertambahnya usia. Orang dengan kondisi kesehatan tertentu juga dapat lebih rentan mengalami komplikasi akibat kehilangan cairan.
Karena itu, diare yang berlangsung berulang, terutama dengan feses yang sangat encer, sebaiknya tidak dianggap sepele pada kelompok-kelompok tersebut.
6. Mencegah dehidrasi saat diare

ilustrasi diare (freepik.com/jcomp) Cara utama untuk mencegah dehidrasi adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang sedini mungkin. Salah satunya dengan menggunakan oralit atau oral rehydration solution (ORS). Larutan ini mengandung kombinasi air, elektrolit, dan glukosa dalam komposisi yang membantu usus menyerap cairan secara lebih efektif. Minum sedikit-sedikit tetapi sering dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tanpa membuat perut terasa makin tidak nyaman.
Air putih tetap penting, tetapi pada diare yang cukup berat, air saja belum tentu menggantikan seluruh elektrolit yang hilang. Sebaliknya, minuman yang mengandung terlalu banyak gula juga sebaiknya tidak dijadikan pilihan utama karena kadar gula yang tinggi dapat menarik lebih banyak air ke dalam usus pada kondisi tertentu.
Segera cari pertolongan medis jika diare disertai tanda dehidrasi berat, seperti sangat lemas, kebingungan, buang air kecil sangat sedikit, mata tampak cekung, atau kondisi terus memburuk. Semakin banyak cairan yang hilang dan semakin lama diare berlangsung, semakin besar pula risiko tubuh mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Jadi, diare bisa menyebabkan dehidrasi karena tubuh kehilangan air dan elektrolit lebih cepat daripada kemampuan usus untuk menyerapnya kembali. Inilah alasan mengganti cairan sejak awal penting dilakukan agar diare tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Referensi







![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok Menekuni Yoga atau Pilates? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)












