Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bolehkah Keluar Rumah Tanpa Masker saat Ada Abu Vulkanik?

Bolehkah Keluar Rumah Tanpa Masker saat Ada Abu Vulkanik?
ilustrasi kualitas udara yang buruk (magnific.com/jcomp)
Share Article

Abu vulkanik yang turun setelah erupsi memang bikin aktivitas di luar rumah jadi serba waswas. Bukan cuma mengganggu jarak pandang, partikel halus dari abu vulkanik juga bisa ikut terhirup dan mengganggu saluran pernapasan, terutama jika paparan terjadi cukup lama. Nah, dalam kondisi seperti ini, keluar rumah tanpa masker mungkin terasa sepele, tetapi sebenarnya ada risiko yang perlu diperhatikan.

Kalau tetap harus beraktivitas di luar, seperti bekerja, mengantar anak, atau membeli kebutuhan, rasanya memang gak selalu bisa berdiam diri di rumah. Masker bisa membantu mengurangi abu vulkanik yang terhirup, sementara pilihan paling aman tetap membatasi aktivitas di luar ketika abu masih beterbangan. Nah, sebenarnya boleh gak, sih, keluar rumah tanpa masker saat ada abu vulkanik? Yuk, simak penjelasannya!

  1. 1. Sebaiknya jangan keluar rumah tanpa masker saat abu vulkanik masih beterbangan

    ilustrasi memakai masker
    ilustrasi memakai masker (magnific.com/diana.grytsku)

    Menjalani aktivitas di luar saat abu vulkanik sedang beterbangan tanpa masker bukanlah pilihan yang bijak. Partikel abu yang sangat kecil dapat masuk ke dalam sistem pernapasan saat terhirup, terutama kalau kamu berada di luar untuk waktu yang lama. Oleh karena itu, kalau memang harus keluar, pastikan untuk memakai masker yang menutupi hidung dan mulut dengan baik untuk mengurangi paparan abu.

    Kalau memungkinkan, tunda aktivitas luar di luar hingga kondisi udara lebih baik. Ini terutama penting untuk anak-anak, orang tua, atau orang yang sensitif dengan masalah pernapasan, karena mereka mungkin lebih merasakan dampak dari paparan abu. Meskipun tidak langsung berakibat pada sakit ketika keluar tanpa masker, tetapi mengurangi paparan adalah langkah yang lebih bijak.

  2. 2. Masker bisa membantu mengurangi abu yang terhirup

    ilustrasi masker medis
    ilustrasi masker medis (magnific.com/azerbaijan_stockers)

    Masker memiliki fungsi penting saat udara dipenuhi oleh abu vulkanik, tetapi jenis dan cara pemakaiannya juga sangat perlu diperhatikan. Masker yang menutupi hidung dan mulut dengan baik bisa membantu menyaring beberapa partikel, sehingga jumlah abu yang dihirup berkurang. Jadi, memakai secara asal-asalan dan membiarkan hidung terbuka pastinya kurang efektif.

    Selain itu, sebaiknya tetap berada di dalam ruangan selama abu masih beterbangan di udara. Jika harus beraktivitas di luar, pilihlah masker yang memberikan perlindungan lebih optimal terhadap partikel-partikel halus dan pastikan bahwa ukurannya sesuai dengan wajah. Semakin sedikit abu yang masuk ke sistem pernapasan, semakin kecil pula paparan yang diterima oleh tubuh.

  3. 3. Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa

    ilustrasi udara yang bercampur dengan abu vulkanik
    ilustrasi udara yang bercampur dengan abu vulkanik (magnific.com/rawpixel.com)

    Ketika dilihat sepintas, abu vulkanik tampak serupa dengan debu yang menempel di mobil, atap, atau pakaian. Namun, partikel dari abu tersebut bisa berukuran sangat kecil dan memiliki sifat abrasif yang dapat mengganggu mata serta saluran pernapasan jika terhirup. Oleh karena itu, situasi setelah erupsi tidak dapat dipandang dengan cara yang sama seperti saat jalanan berdebu biasa.

    Paparan abu juga dapat menyebabkan rasa tidak nyaman di tenggorokan, batuk, atau iritasi di hidung serta mata pada beberapa orang. Gejala ini bisa menjadi lebih mengganggu apabila seseorang berada cukup lama di lokasi dengan konsentrasi abu yang tinggi. Maka dari itu, jika udara masih dipenuhi dengan abu, sebaiknya menggunakan pelindung dan membatasi waktu di luar rumah tetap menjadi pilihan yang lebih aman, lho.

  4. 4. Kalau harus keluar, sebaiknya gunakan pelindung untuk mata juga

    ilustrasi memakai kacamata dan masker
    ilustrasi memakai kacamata dan masker (magnific.com/senivpetro)

    Ada kalanya kebutuhan mendesak memaksa seseorang untuk berada di luar rumah walaupun abu vulkanik masih ada. Dalam keadaan semacam ini, penting untuk menggunakan masker bersama pelindung tambahan, seperti kacamata yang dapat melindungi mata dari partikel abu. Oleh karena itu, gunakan juga pakaian yang menutupi kulit dengan baik agar tubuh tidak terlalu banyak terkena abu.

    Setelah kembali ke rumah, bersihkan diri dan ganti pakaian yang terkena abu sebelum melanjutkan aktivitas sehari-hari. Jangan mengucek mata jika ada abu yang masuk, karena hal itu justru dapat membuat iritasi semakin parah. Tindakan kecil ini mungkin tampak sepele, tetapi dapat berperan penting dalam mengurangi risiko paparan selama situasi belum sepenuhnya aman.

  5. 5. Lebih baik tunggu kondisi aman sebelum melakukan banyak aktivitas di luar

    ilustrasi abu vulkanik
    ilustrasi abu vulkanik (unsplash.com/Christian Miranda)

    Kalau gak ada keperluan mendesak, berada di dalam rumah tetap menjadi pilihan yang lebih aman selama abu vulkanik masih beterbangan. Jangan tergoda keluar hanya karena langit terlihat mulai cerah, sebab kondisi udara belum tentu langsung bebas dari partikel abu. Informasi mengenai aktivitas gunung dan kondisi wilayah terdampak juga penting untuk dipantau sebelum memutuskan bepergian.

    Kalau kondisi sudah lebih aman, aktivitas di luar rumah bisa dilakukan lagi secara perlahan. Tetap dengarkan kondisi tubuh, apalagi kalau muncul batuk, sesak, atau mata dan tenggorokan terasa makin gak nyaman. Nah, selama abu vulkanik masih ada, sebaiknya jangan buru-buru keluar tanpa perlindungan hanya karena merasa badan baik-baik saja, ya.

    Pada akhirnya, keluar rumah saat ada abu vulkanik memang perlu lebih hati-hati, terutama jika abu masih beterbangan. Kalau terpaksa beraktivitas di luar, gunakan masker dan perlindungan tambahan untuk mengurangi paparan abu yang terhirup atau mengenai tubuh. Nah, kalau gak ada keperluan mendesak, lebih baik tetap di rumah sampai kondisi benar-benar aman, ya.

    Referensi

    “Respiratory Health Effects of Volcanic Ash with Special Reference to Iceland: A Review.” Clinical Respiratory Journal. Diakses September 2026.

    “Factors Motivating the Use of Respiratory Protection Against Volcanic Ashfall: A Comparative Analysis of Communities in Japan, Indonesia and Mexico.” International Journal of Disaster Risk Reduction. Diakses September 2026.

    “Use of Respiratory Protection in Yogyakarta During the 2014 Eruption of Kelud, Indonesia: Community and Agency Perspectives.” Journal of Volcanology and Geothermal Research. Diakses September 2026.

    “Short Communication: Health Interventions in Volcanic Eruptions—Community Wearability Assessment of Respiratory Protection Against Volcanic Ash from Mt Sinabung, Indonesia.” International Journal of Environmental Research and Public Health. Diakses September 2026.

    “Health Impact Assessment of Volcanic Ash Inhalation: A Comparison With Outdoor Air Pollution Methods.” GeoHealth. Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More