CPR atau tindakan bantuan hidup jantung (basic cardiac life support) merupakan bantuan pertama pada henti jantung. Tindakan bantuan hidup dasar ini secara garis besar dikondisikan untuk kejadian henti jantung yang ada di luar rumah sakit sebelum mendapatkan pertolongan medis.
CPR merupakan upaya untuk mengembalikan fungsi sirkulasi dan pernapasan yang sangat bermanfaat bagi penyelamatan nyawa, dengan memberikan asupan oksigen dan sirkulasi darah ke organ tubuh yang sensitif terhadap kekurangan oksigen, seperti otak dan jantung, misalnya pada orang yang mengalami serangan jantung, kecelakaan, atau tenggelam.
Otak adalah organ pertama yang merasakan dampak kekurangan oksigen. Sel-sel otak mulai mati dalam hitungan menit, dan henti jantung yang berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat dipulihkan.
Kompresi dada dalam CPR berfungsi untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh, yang biasanya dilakukan jantung dengan memompa. Kompresi membantu menyalurkan oksigen ke otak dan organ vital lainnya.
Bahkan jika seseorang tidak selamat, melakukan CPR dapat memiliki tujuan lain: Membantu menjaga organ mereka tetap hidup jika mereka adalah pendonor.
Banyak orang percaya tingkat keberhasilan CPR bisa mencapai 75 persen. Namun, studi nyata tentang CPR di luar lingkungan rumah sakit menunjukkan angka yang jauh lebih rendah
Sebuah ulasan tahun 2010 yang melibatkan lebih dari 150.000 pasien menemukan jika seseorang mendapat CPR dari orang di sekitarnya, peluang selamatnya hanya antara 3,9–16,1 persen.
Studi lain menunjukkan usia ikut memengaruhi hasil: orang usia 70-an yang mendapat CPR punya peluang bertahan sekitar 6,7 persen, sedangkan yang berusia 90-an hanya 2,4 persen.
Jika seseorang selamat dari henti jantung berkat CPR, kualitas hidup mereka masih bisa menurun atau muncul masalah kesehatan lain, seperti kelelahan parah, kecemasan, dan depresi. Peluang selamat juga lebih kecil lagi jika mereka sudah berusia lanjut atau memiliki penyakit kronis sebelumnya.