Referensi
Philip Miller et al., “Aging Promotes a RAGE-Dependent Increase in Breast Cancer Metastasis,” Communications Biology 9, no. 1 (2026): 661, https://doi.org/10.1038/s42003-026-10022-4.
Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center, “Study Reveals Why Breast Cancer Becomes More Deadly with Age,” May 15, 2026, https://lombardi.georgetown.edu/news-release/study-reveals-why-breast-cancer-becomes-more-deadly-with-age/.
Studi Ungkap Alasan Kanker Payudara Lebih Ganas pada Usia Lanjut

Pada tiga model kanker payudara pada tikus, hewan yang lebih tua memiliki lebih banyak metastasis ke paru-paru daripada tikus muda.
Studi menyoroti RAGE, reseptor yang memperkuat sinyal peradangan. Sinyal ini dapat mengubah lingkungan tumor sehingga sel kanker lebih mudah menyebar.
Analisis data tumor manusia menemukan hubungan antara aktivitas RAGE dan hasil yang lebih buruk, terutama pada pasien yang lebih tua. Hubungan ini belum membuktikan sebab-akibat dan tidak dapat meramalkan kondisi setiap pasien.
Usia dapat memengaruhi cara tubuh merespons kanker. Studi dalam jurnal Communications Biology menemukan bahwa perubahan lingkungan tubuh seiring penuaan mungkin membantu sel kanker payudara menyebar. Salah satu yang disorot peneliti adalah RAGE (Receptor for Advanced Glycation End-products), reseptor yang berperan dalam sinyal peradangan.
1. Tumor pada tikus tua lebih banyak menyebar ke paru-paru
Peneliti membandingkan tiga model kanker payudara pada tikus muda berusia 3 bulan dan tikus tua berusia sekitar 18–21 bulan. Pada ketiga model, tikus tua mengalami lebih banyak metastasis—penyebaran sel kanker dari tumor awal ke bagian tubuh lain—di paru-paru.
Ketika peneliti menghilangkan RAGE pada tikus, peningkatan metastasis yang berkaitan dengan usia hampir sepenuhnya hilang. Temuan ini menunjukkan bahwa reseptor tersebut ikut berperan dalam proses penyebaran kanker pada model hewan.
2. RAGE memperkuat sinyal peradangan
Seiring penuaan, kadar molekul tertentu yang dapat mengaktifkan RAGE meningkat. Molekul itu termasuk S100A8/9 dan produk akhir glikasi lanjut, atau AGEs. Saat RAGE aktif, rangkaian sinyal peradangan di lingkungan tumor ikut berubah.
Perubahan tersebut memengaruhi jalur yang berkaitan dengan kemampuan sel kanker untuk bergerak dan menyerang jaringan di sekitarnya. Dalam percobaan laboratorium, serum dari tikus tua mendorong sel kanker lebih invasif; penghambatan RAGE atau S100A8/9 menekan respons tersebut.
3. Data pasien mendukung kaitan, tetapi belum membuktikan sebab-akibat

ilustrasi penyintas kanker payudara (IDN Times/Novaya Siantita) Peneliti juga menganalisis data dari 1.107 tumor payudara dalam basis data kanker TCGA. Ekspresi tinggi gen AGER, yang menghasilkan RAGE, berkaitan dengan masa bebas progresi yang lebih pendek. Hubungan itu lebih kuat pada pasien yang berusia lebih tua saat didiagnosis.
Temuan pada data pasien ini berupa korelasi, bahwa peneliti melihat dua hal yang muncul beriringan, tetapi belum dapat memastikan bahwa RAGE menyebabkan kanker menyebar pada pasien. Sebagian besar bukti mekanistik studi berasal dari model tikus dan percobaan laboratorium. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui seberapa besar mekanisme ini berpengaruh pada manusia.
4. Usia bukan satu-satunya penentu perjalanan kanker
Hasil studi ini tidak berarti setiap pasien yang lebih tua akan mengalami kanker yang lebih agresif. Kondisi pasien, karakteristik tumor, dan kemampuan menjalani pengobatan juga berperan.
Peneliti mencatat bahwa perempuan berusia di bawah 40 tahun pun dapat mengalami hasil yang lebih buruk, antara lain karena diagnosis terlambat, mutasi gen tertentu, atau kanker payudara tripel negatif.
Penelitian ini membantu menjelaskan kemungkinan hubungan antara penuaan, peradangan, dan penyebaran kanker. Namun, temuan mengenai RAGE masih perlu diteliti lebih lanjut sebelum bisa digunakan untuk mencegah metastasis atau menjadi dasar pengobatan baru bagi pasien kanker.





















