Jika kamu sedang mengalami kekerasan verbal atau psikis, hal pertama yang perlu ditegaskan adalah ini bukan salahmu.
Tidak ada orang yang pantas direndahkan, diancam, dikontrol, atau dibuat takut secara terus-menerus.
Beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan:
Pilih satu orang yang bisa dipercaya, tidak mudah membocorkan cerita, dan tidak menghakimi. Bisa teman, keluarga, rekan kerja, psikolog, dokter, konselor, atau layanan pendampingan.
Tidak harus langsung menceritakan semuanya. Mulai dari kalimat sederhana seperti, “Aku merasa tidak aman dan butuh didengar,” sudah cukup.
Jika aman dilakukan, catat tanggal, bentuk kekerasan, ancaman, pesan, atau kejadian penting. Simpan bukti di tempat yang aman dan tidak mudah diakses pelaku. Ini bisa berguna jika suatu saat kamu butuh bantuan profesional, medis, hukum, atau perlindungan. Namun, jangan mengambil risiko jika pelaku memantau ponsel atau aktivitas digitalmu.
Jika situasi terasa makin mengancam, pikirkan rencana keselamatan. Misalnya, siapa yang bisa dihubungi, ke mana bisa pergi, dokumen apa yang perlu disiapkan, bagaimana mengakses uang, transportasi, obat, dan barang penting.
Jika ada ancaman langsung, kekerasan fisik, penguntitan, atau ancaman bunuh diri/menyakiti orang lain, keselamatan harus menjadi prioritas.
Keluhan fisik seperti sulit tidur, sakit kepala, nyeri tubuh, jantung berdebar, atau gangguan pencernaan tetap layak diperiksa. Dokter dapat membantu mengevaluasi kondisi fisik dan, bila diperlukan, merujuk ke psikolog, psikiater, atau layanan pendampingan.
Terapi psikologis dapat membantu korban memproses trauma, membangun kembali rasa aman, mengurangi rasa bersalah, dan merancang langkah berikutnya.
Bertahan dalam kekerasan psikis membutuhkan energi besar. Banyak korban terlihat tetap bekerja, tetap tersenyum, atau tetap menjalankan peran sehari-hari, tetapi di dalam tubuhnya ada kelelahan yang sangat dalam. Meminta bantuan bukan tanda lemah, melainkan langkah penting untuk menjaga diri.