Kekerasan tidak selalu datang dalam bentuk pukulan. Bisa juga hadir sebagai kalimat merendahkan, ancaman berulang, hinaan yang dibuat seolah bercanda, kontrol atas keputusan sehari-hari, atau perlakuan yang membuat seseorang terus merasa salah, takut, dan tidak berharga.
Pada kekerasan verbal dan psikis, tubuh mungkin tidak menunjukkan memar atau luka, tetapi bukan berarti tubuh tidak terdampak.
Saat seseorang hidup dalam tekanan emosional yang berlangsung lama, tubuh dapat terus berada dalam kondisi siaga. Sistem stres aktif berulang kali. Tidur terganggu. Otot menegang. Perut tidak nyaman. Kepala sering sakit. Energi terkuras. Dari luar, mungkin hanya terlihat capek, lebih kurus, lebih pendiam, atau tidak seperti biasanya. Padahal, ada sinyal tubuh bahwa ada sesuatu yang tidak aman.
Karena itu, penting memahami ciri-ciri fisik korban kekerasan verbal dan psikis dengan hati-hati. Tujuannya agar kamu lebih peka, tidak mudah menghakimi, dan tahu kapan perlu menawarkan bantuan.
