Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kurang Tidur pada Anak Bisa Ganggu Otak hingga Berat Badan
ilustrasi anak mengantuk di sekolah akibat kurang tidur (magnific.com/magnific)
  • Kebutuhan tidur anak berbeda menurut usia. Anak usia 6–12 tahun membutuhkan sekitar 9–12 jam, sedangkan remaja usia 13–18 tahun sekitar 8–10 jam per hari.

  • Kurang tidur secara berulang dapat mengganggu perhatian, memori, kemampuan belajar, suasana hati, serta regulasi emosi.

  • Dalam jangka panjang, durasi tidur pendek juga dikaitkan dengan risiko obesitas dan tekanan darah yang lebih tinggi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Entah karena mengerjakan PR, masih mau bermain, atau layar ponsel sulit dilepaskan, anak akhirnya tidur larut, sementara pagi harinya ia harus tetap bangun pagi dan berangkat ke sekolah.

Kurang tidur satu malam mungkin cuma membuat anak mengantuk keesokan harinya. Namun, jika kurang tidur terus terjadi, dampaknya bisa meluas.

Menjaga kualitas tidur yang baik berkaitan dengan perhatian, perilaku, kemampuan belajar, memori, regulasi emosi, serta kesehatan fisik dan mental yang lebih baik. Sebaliknya, kurang tidur berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan.

1. Konsentrasi dan kemampuan belajar bisa menurun

Otak anak tetap bekerja ketika tidur, termasuk dalam proses yang mendukung pembelajaran dan memori. Karena itu, kurang tidur bisa terlihat di sekolah sebagai sulit fokus, lebih lambat mengerjakan sesuatu, atau mudah terdistraksi.

Efek tersebut pernah diuji secara eksperimental pada 56 remaja sehat berusia 15–19 tahun. Peserta yang hanya diberi kesempatan tidur 5 jam per malam selama 7 malam mengalami penurunan progresif pada perhatian berkelanjutan, memori kerja, dan fungsi eksekutif dibandingkan kelompok yang mendapat kesempatan tidur 9 jam. Bahkan setelah 2 malam tidur pemulihan, beberapa kemampuan belum sepenuhnya pulih.

2. Anak bisa lebih sulit mengatur emosi dan perilaku

Pada sebagian anak, tanda kurang tidur bisa berupa mudah marah, impulsif, rewel, atau sulit mengendalikan emosi.

Studi kohort terhadap 799 anak di Norwegia mengukur tidur secara objektif menggunakan alat pemantau gerakan. Durasi tidur yang lebih pendek pada usia 6 dan 8 tahun berkaitan dengan lebih banyak gejala gangguan emosional, seperti kecemasan dan depresi, 2 tahun kemudian. Pada anak laki-laki, tidur lebih pendek pada usia tertentu juga dikaitkan dengan lebih banyak gejala gangguan perilaku.

Namun, penelitian ini bersifat observasional sehingga tidak membuktikan bahwa kurang tidur menyebabkan gangguan mental. Kesehatan mental anak dipengaruhi banyak faktor lain.

3. Risiko kelebihan berat badan dan obesitas meningkat

ilustrasi anak dengan berat badan berlebih (magnific.com/andreas)

Sebuah metaanalisis yang mencakup 42 studi prospektif menemukan bahwa anak dengan durasi tidur pendek memiliki risiko lebih tinggi mengalami kelebihan berat badan atau obesitas di kemudian hari. Hubungan tersebut terlihat mulai dari bayi hingga remaja.

Sebagai contoh, risiko relatifnya sekitar 57 persen lebih tinggi pada kelompok usia dini dan sekitar 30 persen lebih tinggi pada remaja yang tidur lebih singkat. Namun, batas “tidur pendek” berbeda antarpenelitian sehingga angka tersebut tidak dapat diterapkan langsung kepada setiap anak.

Tidur dapat berinteraksi dengan banyak faktor yang memengaruhi berat badan, termasuk hormon pengatur rasa lapar dan kenyang, waktu makan, aktivitas fisik, serta lebih banyak kesempatan untuk makan.

4. Tekanan darah juga dapat ikut terpengaruh

Hipertensi merupakan salah satu risiko yang berkaitan dengan tidur yang tidak mencukupi pada populasi anak.

Penelitian terhadap anak-anak dari 8 negara Eropa menemukan bahwa durasi tidur yang lebih pendek berkaitan dengan tekanan darah yang lebih tinggi pada masa kanak-kanak. Para peneliti menyatakan tidur mungkin menjadi salah satu faktor yang berperan terhadap risiko hipertensi di kemudian hari.

Namun, hubungan ini kompleks. Pasalnya, berat badan, aktivitas fisik, pola makan, faktor genetik, dan gangguan tidur seperti obstructive sleep apnea juga dapat memengaruhi tekanan darah.

5. Mengantuk meningkatkan risiko kecelakaan dan cedera

Kurang tidur menyebabkan kewaspadaan dan waktu reaksi menurun. Pada anak yang lebih besar dan remaja, ini dapat memengaruhi keselamatan ketika berolahraga, bersepeda, berkendara, atau menjalani aktivitas lain yang membutuhkan perhatian.

Pada remaja, persoalan ini penting ketika mereka mulai mengendarai kendaraan. Mengantuk dapat mengurangi kemampuan untuk bereaksi cepat terhadap situasi di jalan.

Berapa lama anak seharusnya tidur?

ilustrasi anak sedang tidur (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Kebutuhan berubah seiring bertambahnya usia. Rekomendasi American Academy of Sleep Medicine (AASM) untuk total tidur dalam 24 jam adalah:

  • Usia 4–12 bulan: 12–16 jam, termasuk tidur siang.

  • Usia 1–2 tahun: 11–14 jam, termasuk tidur siang.

  • Usia 3–5 tahun: 10–13 jam, termasuk tidur siang.

  • Usia 6–12 tahun: 9–12 jam.

  • Usia 13–18 tahun: 8–10 jam.

Durasi bukan satu-satunya ukuran tidur sehat. Waktu tidur yang relatif teratur, kualitas tidur yang baik, serta tidak sering terbangun juga penting. Para ahli menyarankan jadwal tidur dan bangun yang konsisten serta mematikan perangkat elektronik setidaknya sekitar 30 menit sebelum tidur.

Jika anak terus-menerus sulit tidur, sulit terbangun, mendengkur keras, tampak sangat mengantuk pada siang hari, atau tetap kelelahan meskipun waktu tidurnya cukup, pemeriksaan dokter dapat membantu mencari kemungkinan gangguan tidur.

Kesimpulannya, jika anak terus-menerus kurang tidur, itu dapat memengaruhi fungsi otak, emosi, berat badan, hingga kesehatan kardiovaskular. Memastikan waktu tidur yang sesuai usia anak merupakan bagian dari kebutuhan kesehatan anak, seperti halnya nutrisi dan aktivitas fisik.

Referensi

Shalini Paruthi et al., “Recommended Amount of Sleep for Pediatric Populations: A Consensus Statement of the American Academy of Sleep Medicine,” Journal of Clinical Sleep Medicine 12, no. 6 (2016): 785–86, https://doi.org/10.5664/jcsm.5866.

June C. Lo et al., “Cognitive Performance, Sleepiness, and Mood in Partially Sleep Deprived Adolescents: The Need for Sleep Study,” Sleep 39, no. 3 (2016): 687–98, https://doi.org/10.5665/sleep.5552.

Bror M. Ranum et al., “Association Between Objectively Measured Sleep Duration and Symptoms of Psychiatric Disorders in Middle Childhood,” JAMA Network Open 2, no. 12 (2019): e1918281, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2019.18281.

Michelle A. Miller et al., “Sleep Duration and Incidence of Obesity in Infants, Children, and Adolescents: A Systematic Review and Meta-Analysis of Prospective Studies,” Sleep 41, no. 4 (2018): zsy018, https://doi.org/10.1093/sleep/zsy018.

Sonia Sparano et al., “Sleep Duration and Blood Pressure in Children: Analysis of the Pan-European IDEFICS Cohort,” Journal of Clinical Hypertension 21, no. 5 (2019): 572–78, https://doi.org/10.1111/jch.13520.

Curated For You

Editorial Team

Related Article