- Keju keras, seperti parmesan dan cedar.
- Sayuran padat, seperti wortel, kol, dan paprika.
- Buah bertekstur keras, seperti apel atau pir yang masih kokoh.
- Daging yang diawetkan dan dikeringkan, seperti hard salami.
Makanan Berjamur, Masih Aman Dimakan setelah Dipotong?

- Jamur dapat menyebar lewat hifa mikroskopis dan menghasilkan mikotoksin, sehingga memotong bagian berjamur tidak selalu menghilangkan kontaminasi, terutama pada makanan lunak, berair, atau berpori.
- Keju keras, buah dan sayuran padat, serta daging kering masih dapat diselamatkan dengan membuang area berjamur minimal 2,5 sentimeter di sekeliling dan bawahnya.
- Roti, makanan matang, produk susu lunak, buah atau sayuran lunak, serta selai kacang sebaiknya langsung dibuang; penyimpanan tepat dan kulkas bersih membantu mencegah jamur.
Menemukan bagian makanan yang mulai ditumbuhi jamur bisa bikin dilema. Di satu sisi, rasanya sayang membuang makanan hanya karena ada sedikit bagian yang berubah warna atau ditumbuhi bulu-bulu halus. Tidak sedikit orang akhirnya memilih memotong bagian tersebut dan tetap memakan sisanya. Namun, apakah ini aman?
Pada beberapa jenis makanan, bagian yang berjamur memang bisa dipotong dan sisanya masih dapat dikonsumsi. Sementara itu, makanan tertentu justru sebaiknya langsung dibuang meski jamurnya hanya terlihat di satu titik. Lantas, bagaimana cara membedakannya?
1. Kenapa jamur pada makanan tidak selalu bisa dipotong?
Jamur dapat tumbuh dalam bentuk benang-benang mikroskopis yang disebut hifa. Bagian yang terlihat di permukaan makanan belum tentu menunjukkan seluruh pertumbuhan jamur.
Pada makanan yang lunak, berair, atau memiliki banyak pori, hifa dapat menembus lebih dalam dari bagian yang terlihat oleh mata. Beberapa jenis jamur juga dapat menghasilkan mikotoksin, yaitu senyawa beracun yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Itulah alasan kenapa memotong bagian yang tampak berjamur belum tentu menghilangkan seluruh kontaminasi. Risiko ini terutama perlu diperhatikan pada makanan dengan tekstur lunak dan kadar air tinggi.
2. Makanan apa saja yang masih bisa dipotong bagian berjamurnya?
Makanan yang teksturnya padat dan memiliki kadar air relatif rendah kadang masih bisa diselamatkan.
Beberapa makanan, seperti keju keras, sayuran yang teksturnya kokoh, dan buah yang keras dapat dipotong pada area yang berjamur. Bagian yang dibuang sebaiknya berjarak setidaknya 2,5 sentimeter dari dan di bawah area yang terkena jamur.
Saat memotong, jangan sampai pisau menyentuh bagian yang berjamur lalu digunakan kembali pada bagian makanan yang masih bersih. Setelah bagian tersebut dibuang, makanan juga sebaiknya dibungkus kembali dengan kemasan yang bersih.
Beberapa makanan yang umumnya masih bisa dipotong, antara lain:
Meski begitu, jika jamur sudah muncul di banyak bagian atau menyebar cukup luas, sebaiknya buang saja.
3. Makanan yang sebaiknya langsung dibuang

ilustrasi roti yang ditumbuhi jamur (commons.wikimedia.org/Vincent van Zeijst) Makanan lunak dan berpori lebih sulit dipastikan kebersihannya setelah bagian yang berjamur dipotong. Jamur dapat menyebar ke bagian dalam tanpa terlihat dari permukaan. Karena itu, makanan dengan tekstur seperti ini sebaiknya dibuang seluruhnya ketika sudah berjamur:
- Buah lunak, seperti stroberi, persik, dan jeruk.
- Sayuran lunak, seperti tomat dan mentimun.
- Roti dan kue atau makanan panggang lainnya.
- Yoghurt, sour cream, dan keju lunak.
- Selai kacang.
- Kacang-kacangan yang sudah dimasak.
- Makanan matang atau sisa makanan.
Memotong bagian yang terlihat berjamur tidak memberikan jaminan bahwa bagian lainnya bebas dari kontaminasi.
4. Apa yang terjadi jika tidak sengaja makan makanan berjamur?
Tidak sengaja menelan sedikit jamur biasanya tidak langsung menyebabkan masalah serius pada orang yang sehat. Namun, sebagian orang dapat mengalami reaksi alergi atau gangguan pencernaan setelah mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi jamur.
Beberapa jenis jamur juga dapat menghasilkan mikotoksin. Senyawa ini menjadi salah satu alasan makanan berjamur tidak boleh dianggap aman hanya karena bagian yang terlihat sudah dibuang.
Memasak makanan juga tidak bisa diandalkan untuk menghilangkan seluruh risiko. Karena itu, jika kondisi makanan sudah meragukan, lebih baik jangan mengonsumsinya.
5. Cara mencegah makanan cepat berjamur
Simpan makanan sesuai jenisnya dan perhatikan kondisi makanan secara berkala, terutama buah dan sayuran yang mudah rusak.
Kulkas juga perlu dijaga tetap bersih dan berada pada suhu yang sesuai untuk membantu memperlambat pertumbuhan mikroorganisme. Hindari menyimpan makanan terlalu lama jika sudah menunjukkan perubahan tekstur, aroma, atau penampilan.
Keputusan untuk memotong atau membuang makanan berjamur bergantung pada jenis dan teksturnya. Makanan yang keras dan rendah air kadang masih dapat diselamatkan, sedangkan makanan lunak, berair, dan berpori sebaiknya langsung dibuang.
Referensi
Cleveland Clinic. Diakses pada September 2026. "What Happens if You Accidentally Eat Moldy Food?"
Food & Wine. Diakses pada September 2026. "A New Survey Finds Nearly 1 in 3 People Cut Mold Off Produce and Eat the Rest. But Is It Safe?"
LSU AgCenter. Diakses pada September 2026. "Nutritionist Looks At Good And Bad Mold On Food."
Today. Diakses pada September 2026. "Is It OK to Eat Moldy Food?"
Verywell Health. Diakses pada September 2026. "Can You Cut Mold Off Fruit and Still Eat It?"





.jpg)
















