Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Miskonsepsi Umum tentang Skrining Kanker Prostat

5 min read
7 Miskonsepsi Umum tentang Skrining Kanker Prostat
ilustrasi pasien laki-laki berkonsultasi dengan dokter mengenai skrining kanker prostat (vecteezy.com/korawat thatinchan)

  • Skrining kanker prostat bukan kewajiban seragam; keputusan PSA perlu disesuaikan dengan usia, riwayat keluarga, risiko genetik, kondisi kesehatan, serta manfaat dan risikonya.
  • PSA tinggi tidak otomatis menandakan kanker, sementara PSA normal tidak menjamin bebas kanker; hasilnya perlu dinilai bersama gejala, faktor risiko, dan pemeriksaan lanjutan.
  • Hasil PSA abnormal tidak selalu membutuhkan biopsi langsung, dan kanker berisiko rendah dapat dipantau aktif; pilihan tindak lanjut ditentukan berdasarkan risiko serta kondisi pasien.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bagi sebagian orang, hasil pemeriksaan prostate-specific antigen (PSA) dapat langsung menimbulkan kekhawatiran tentang kanker prostat.

PSA adalah protein yang diproduksi oleh prostat dan memang dapat meningkat pada kanker prostat. Namun, kadarnya juga bisa naik karena kondisi lain, seperti pembesaran prostat jinak, peradangan, infeksi, atau aktivitas tertentu. Sebaliknya, tidak semua pasien kanker prostat memiliki PSA yang tinggi.

Karena itu, hasil PSA tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan ada atau tidaknya kanker.

Berikut beberapa miskonsepsi seputar skrining kanker prostat yang sering muncul.

  1. Miskonsepsi 1: Semua laki-laki wajib mulai skrining pada usia 50 tahun

    Tidak ada satu usia yang berlaku untuk semua orang. Pedoman berbeda dalam menentukan kapan pembicaraan tentang skrining sebaiknya dimulai.

    American Cancer Society (ACS) menyarankan diskusi pada usia 50 tahun untuk laki-laki dengan risiko rata-rata, 45 tahun untuk kelompok berisiko tinggi, dan 40 tahun untuk laki-laki dengan lebih dari satu kerabat tingkat pertama yang mengalami kanker prostat pada usia muda.

    Pedoman American Urological Association/Society of Urologic Oncology menyebut skrining bisa mulai ditawarkan pada usia 45–50 tahun untuk laki-laki berisiko rata-rata dan lebih awal pada kelompok berisiko tinggi.

    Sementara itu, United States Preventive Services Task Force (USPSTF) menyatakan bahwa laki-laki usia 55–69 tahun perlu mengambil keputusan secara individual setelah memahami manfaat dan risikonya. Skrining PSA tidak dianjurkan secara rutin untuk laki-laki berusia 70 tahun ke atas.

    Singkatnya, skrinig menjadi keputusan bersama, bukan kewajiban. Riwayat keluarga, varian genetik tertentu seperti BRCA2, keturunan, penyakit lain, dan perkiraan harapan hidup ikut dipertimbangkan.

  2. Miskonsepsi 2: PSA tinggi pasti berarti kanker prostat

    PSA adalah penanda aktivitas atau perubahan pada prostat, bukan bukti kanker.

    Pembesaran prostat jinak dan prostatitis dapat meningkatkan kadarnya. Ejakulasi atau bersepeda juga dapat menaikkan PSA untuk sementara pada beberapa orang.

    Karena itu, satu hasil PSA yang tinggi biasanya perlu dibaca bersama usia, ukuran prostat, obat yang dikonsumsi, gejala, riwayat kesehatan, dan hasil pemeriksaan lain.

    Dokter dapat menyarankan mengulang tes atau menganjurkan pemeriksaan tambahan sebelum memutuskan perlu tidaknya biopsi.

  3. Miskonsepsi 3: PSA normal pasti bebas kanker

    Sampel darah dalam tabung laboratorium dipegang dengan sarung tangan medis sebagai ilustrasi pemeriksaan tes PSA.
    ilustrasi sampel darah untuk tes PSA (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

    PSA yang rendah tidak menjamin seseorang bebas dari kanker prostat. Sebaliknya, PSA yang tinggi juga tidak selalu berarti ada kanker.

    Menurut ACS, sebagian laki-laki dengan PSA di bawah 4 ng/mL tetap dapat memiliki kanker jika dilakukan biopsi. Sebaliknya, banyak laki-laki dengan PSA di atas angka tersebut tidak mengalami kanker.

    Karena itu, hasil PSA perlu dinilai bersama faktor risiko dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

    Selain itu, keluhan seperti darah dalam urine atau air mani, sulit berkemih, aliran urine melemah, atau nyeri tulang tetap perlu diperiksakan meskipun kadar PSA tidak tinggi.

  4. Miskonsepsi 4: Tidak ada gejala berarti tidak perlu skrining

    Justru skrining ditujukan untuk orang yang belum mengalami gejala. Kanker prostat tahap awal sering tidak menimbulkan keluhan sehingga pemeriksaan dapat menemukan sebagian kanker sebelum terasa mengganggu.

    Namun, skrining bukan pengganti pemeriksaan medis ketika gejala sudah muncul. Laki-laki dengan keluhan berkemih atau darah dalam urine membutuhkan evaluasi untuk mencari penyebabnya. Gejala tersebut tidak otomatis berarti kanker karena bisa juga disebabkan pembesaran prostat atau infeksi, tetapi sebaiknya tidak diabaikan.

  5. Miskonsepsi 5: Pemeriksaan colok dubur dapat menggantikan tes PSA

    Pada pemeriksaan colok dubur (digital rectal examination/DRE), dokter meraba bagian prostat yang dapat dijangkau melalui dinding rektum. Pemeriksaan ini bisa menemukan benjolan atau bagian yang mengeras, tetapi tidak dapat melihat seluruh prostat dan kurang efektif dibanding tes PSA untuk menemukan kanker.

    DRE juga tidak selalu menjadi pemeriksaan skrining wajib. Bukti manfaat DRE sebagai metode skrining tersendiri masih kurang. Dalam praktik, dokter dapat menggunakannya sebagai informasi tambahan, terutama jika ada hasil PSA yang tidak normal atau kecurigaan klinis tertentu.

  6. Miskonsepsi 6: PSA tinggi berarti harus langsung biopsi

    Ilustrasi pasien laki-laki berkonsultasi dengan dokter tentang skrining kanker prostat di ruang pemeriksaan.
    ilustrasi pasien laki-laki berkonsultasi dengan dokter mengenai skrining kanker prostat (pexels.com/cottonbro studio)

    Biopsi memang merupakan pemeriksaan yang dapat memastikan ada tidaknya sel kanker. Namun, hasil PSA tinggi tidak selalu berarti jarum biopsi harus langsung dilakukan saat itu juga.

    Dokter dapat mempertimbangkan pengulangan PSA, pemeriksaan urine atau darah tambahan, DRE, kalkulator risiko, serta MRI multiparametrik. Pilihannya bergantung pada seberapa tinggi PSA, apakah kadarnya menetap atau berubah, usia, riwayat keluarga, ukuran prostat, obat, dan hasil pemeriksaan lain.

    Jika biopsi dibutuhkan, pasien perlu memahami manfaat dan risikonya. Prosedur ini dapat menyebabkan nyeri, perdarahan, darah dalam air mani, atau infeksi.

  7. Miskonsepsi 7: Jika kanker ditemukan lewat skrining, operasi atau radiasi pasti harus segera dilakukan

    Tidak semua kanker prostat harus langsung diobati. Pada sebagian kanker berisiko rendah, dokter dapat memilih active surveillance, yaitu pemantauan rutin dengan PSA dan pemeriksaan lain.

    Pengobatan baru diberikan apabila kanker menunjukkan tanda perkembangan atau memang tergolong berisiko tinggi.

    Pendekatan ini bukan berarti kanker diabaikan, melainkan untuk menghindari efek samping pengobatan yang mungkin tidak diperlukan pada kanker yang tumbuh lambat.

    Penelitian menunjukkan bahwa pada kanker prostat yang masih terlokalisasi, angka kematian akibat kanker prostat tidak berbeda bermakna antara pemantauan aktif, operasi, dan radioterapi. Namun, penyebaran kanker lebih sering terjadi pada kelompok pemantauan aktif, sehingga pilihan terapi tetap perlu disesuaikan dengan risiko dan kondisi masing-masing pasien.

    Skrining PSA juga tidak memberikan manfaat yang sama pada semua orang. Meski dapat mengurangi sebagian kematian akibat kanker prostat, tetapi skrining juga dapat menimbulkan hasil positif palsu, biopsi yang tidak diperlukan, overdiagnosis, dan efek samping pengobatan. Karena itu, manfaat dan risikonya perlu dipertimbangkan secara individual.

    Skrining kanker prostat perlu mempertimbangkan manfaat dan risikonya. Sebelum menjalani pemeriksaan PSA, sebaiknya diskusikan usia, riwayat keluarga, kondisi kesehatan, penggunaan obat, serta langkah yang akan diambil jika hasilnya tidak normal. Hasil PSA menjadi bagian dari pengambilan keputusan medis yang lebih menyeluruh.

    Referensi

    US Preventive Services Task Force, “Screening for Prostate Cancer: US Preventive Services Task Force Recommendation Statement,” JAMA 319, no. 18 (2018): 1901–13, https://doi.org/10.1001/jama.2018.3710.

    National Cancer Institute, “Prostate-Specific Antigen (PSA) Test,” diakses September 2026.

    John T. Wei et al., “Early Detection of Prostate Cancer: AUA/SUO Guideline Part I: Prostate Cancer Screening,” The Journal of Urology 210, no. 1 (2023): 46–53, https://doi.org/10.1097/JU.0000000000003491.

    Freddie C. Hamdy et al., “Fifteen-Year Outcomes after Monitoring, Surgery, or Radiotherapy for Localized Prostate Cancer,” New England Journal of Medicine 388, no. 17 (2023): 1547–58, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2214122.

    Pada usia berapa laki-laki sebaiknya mulai membahas skrining kanker prostat?

    Tidak ada satu usia untuk semua orang. Laki-laki berisiko rata-rata dapat mulai berdiskusi sekitar usia 50 tahun, sementara kelompok berisiko tinggi mungkin perlu membahasnya lebih awal, sekitar usia 40–45 tahun.

    Apakah PSA termasuk tes untuk mendiagnosis kanker?

    PSA adalah tes skrining atau penilaian awal, bukan diagnosis pasti. Kanker prostat dikonfirmasi melalui pemeriksaan jaringan dari biopsi.

    Apa yang harus dilakukan jika PSA tinggi?

    Jangan langsung menyimpulkan kanker. Dokter dapat mengulang PSA, mencari infeksi atau peradangan, menilai obat dan faktor lain, lalu mempertimbangkan MRI, tes tambahan, atau biopsi.

    Apakah PSA rendah menjamin tidak ada kanker?

    Tidak. PSA rendah menurunkan kemungkinan, tetapi tidak menghapusnya. Faktor risiko, gejala, dan hasil pemeriksaan lain tetap penting.

    Apakah semua kanker prostat harus segera diobati?

    Tidak. Kanker berisiko rendah dapat dipantau melalui active surveillance, sedangkan kanker berisiko tinggi atau yang berkembang memerlukan pembahasan terapi aktif.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More