Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dugaan Keracunan MBG di Karo, Bisakah Berdampak pada Hilang Ingatan?
FP salah satu korban keracunan MBG saat menjalani pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Keluarga siswa dalam dugaan keracunan MBG di Karo melaporkan gangguan ingatan.

  • Menurut ahli, kejang disertai amnesia sangat jarang pada keracunan makanan dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

  • Gangguan elektrolit dan racun tertentu dapat memengaruhi saraf, tetapi tidak bisa ditetapkan sebagai penyebab hanya berdasarkan gejala.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

FP (16), siswi SMK di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, masih menjalani perawatan setelah diduga mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Agustus 2026. Menurut keluarganya, FP mengalami gangguan ingatan hingga tidak mengenali guru dan teman sekelasnya. Ia juga dilaporkan mengalami kejang, di antara masalah kesehatan lainnya.

Dalam laporan IDN Times Sumut pada 6 September 2026, keluarga menyebut FP telah menjalani perawatan di lima rumah sakit sejak 13 Agustus, yakni RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, dan RS Amanda di Karo.

Sang ayah, mengacu pada penjelasan dokter yang diterimanya, menyebut bakteri atau racun jamur sebagai kemungkinan penyebab yang masih diperiksa.

Kondisi yang dilaporkan keluarga FP memunculkan pertanyaan, bisakah keracunan makanan berdampak hingga mengganggu ingatan?

1. Kejang dan amnesia bukan gambaran yang lazim

Dokter spesialis mikrobiologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, M.Si., M.Ked.Klin., Sp.MK(K), menjelaskan bahwa keracunan makanan lebih sering menimbulkan mual, muntah, diare, kram atau nyeri perut, dan lemas.

“Sebenarnya kasus dengan kejang kemudian amnesia ini dalam kasus keracunan makanan ini sangat jarang,” ujar Dr. Agung kepada IDN Times.

Menurutnya, laporan kejang yang diikuti gangguan ingatan perlu ditelusuri lebih jauh, termasuk riwayat kesehatan sebelum kejadian.

2. Gangguan saraf tidak selalu berarti racun langsung menyerang otak

Dokter Agung menyebut ada beberapa kemungkinan yang perlu diperiksa, yang meliputi kehilangan cairan berat disertai gangguan elektrolit, efek toksin, atau infeksi yang melibatkan otak. Riwayat kejang sebelumnya juga perlu diperiksa.

Elektrolit adalah mineral, seperti natrium, yang membantu saraf dan otot bekerja. Gangguan elektrolit yang berat dan terjadi secara akut dapat memicu kejang. Penanganannya perlu mengatasi gangguan yang mendasarinya.

Itu berarti kejang tidak otomatis membuktikan adanya racun tertentu. Kemungkinan ini juga belum menjelaskan penyebab gangguan ingatan yang dilaporkan keluarga.

3. Bakteri dan toksinnya dapat menimbulkan gejala berbeda

Menu MBG (Dok. KPPG Sumut)

Dokter Agung menyebut sejumlah bakteri penghasil toksin dapat menyebabkan penyakit melalui makanan, seperti:

  • Staphylococcus aureus. Bakteri ini menghasilkan enterotoksin, yaitu racun yang bekerja pada saluran cerna. Gejalanya dapat berupa mual, muntah, kram perut, dan diare yang muncul mendadak, biasanya 30 menit hingga 8 jam setelah makan.

  • Bacillus cereus. Ini bisa terkait nasi yang terkontaminasi. Bakteri ini dapat menyebabkan dua bentuk penyakit, yaitu muntah akibat toksin cereulide yang sudah terbentuk dalam makanan, atau diare akibat enterotoksin yang diproduksi di usus.

  • Escherichia coli penghasil toksin Shiga (STEC). Tidak semua E. coli menghasilkan toksin ini. STEC dapat menyebabkan diare, termasuk diare berdarah, dan pada sebagian pasien memicu sindrom hemolitik uremik, komplikasi serius yang dapat menyebabkan gagal ginjal.

  • Clostridium botulinum. Toksin botulinum mengganggu fungsi saraf dan dapat menyebabkan sulit menelan, kelemahan otot, hingga kelumpuhan pernapasan. Botulisme melalui makanan tergolong jarang dan berkaitan dengan pengolahan atau pengawetan yang tidak tepat, termasuk pengalengan rumahan. Gambaran khasnya adalah kelumpuhan, bukan amnesia.

4. Racun jamur juga beragam, tidak semuanya terutama menyebabkan diare

Selain bakteri, Dr. Agung juga menyebut mikotoksin, yaitu racun yang dihasilkan jamur tertentu.

Beberapa jenis yang menjadi perhatian dalam keamanan pangan antara lain:

Toksin dan jamur penghasilnya

Contoh pangan yang dapat tercemar dan dampaknya

Aflatoksin, antara lain dari Aspergillus flavus

Dapat mencemari kacang dan serealia. Dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan akut dengan kerusakan hati; paparan jangka panjang meningkatkan risiko kanker hati.

Patulin, antara lain dari Penicillium dan Aspergillus

Sering dikaitkan dengan apel busuk dan produk olahannya. Pada manusia, dapat menimbulkan mual, muntah, dan gangguan pencernaan.

Okratoksin A, dari beberapa spesies Aspergillus dan Penicillium

Dapat mencemari serealia dan pangan lain. Efek toksik yang menjadi perhatian terutama kerusakan ginjal.

Fumonisin dan zearalenon, dari Fusarium

Dapat mencemari serealia, termasuk jagung. Efeknya, fumonisin dikaitkan dengan kanker kerongkongan pada manusia, sedangkan efek hormonal zearalenon terutama dibuktikan pada hewan.

Daftar di atas menunjukkan bahwa dampak mikotoksin tidak bisa disamaratakan, belum cukup untuk menjelaskan kejang atau gangguan ingatan.

5. Asam domoat pernah terbukti menyebabkan gangguan ingatan

ilustrasi tumis kerang hijau (vecteezy.com/swastika adi nugraha)

Dalam wawancara, Dr. Agung menyinggung asam domoat sebagai contoh racun yang pernah dilaporkan menyebabkan kejang dan amnesia. Zat ini dihasilkan oleh alga laut tertentu dan dapat terakumulasi pada kerang (termasuk sarden dan teri).

Penelitian dalam New England Journal of Medicine menelaah dampak neurologis pada 14 pasien dengan gejala berat setelah mengonsumsi kerang tercemar asam domoat di Kanada pada 1987. Beberapa bulan kemudian, 12 pasien mengalami gangguan berat dalam membentuk ingatan baru. Pemeriksaan jaringan otak pada empat pasien lain yang meninggal menemukan kerusakan terutama di hipokampus dan amigdala.

Walaupun temuan di atas menunjukkan bahwa racun tertentu dalam makanan bisa mengganggu ingatan, tetapi bukan bukti asam domoat yang menyebabkan keluhan siswa di Karo.

6. Pasien dan makanan yang dicurigai sama-sama perlu diperiksa

“Tidak hanya pada pasien, tetapi juga dari makanan yang menjadi sumber penyebab,” kata Dr. Agung mengenai pemeriksaan yang diperlukan.

Ia menekankan perlunya menelusuri setiap komponen makanan yang dicurigai serta membandingkan pola gejala antarkorban. Pemeriksaan tidak cukup berhenti pada pencarian kuman; kemungkinan efek toksin dan kondisi pasien juga perlu dinilai.

Karena itu, penyebab maupun kemungkinan pemulihan ingatan siswa tersebut belum bisa disimpulkan dari pemberitaan dan daftar menu. Kepastian perlu mengacu pada hasil pemeriksaan serta penjelasan tim medis yang merawat.

Referensi

IDN Times Sumut, “Keluarga Korban MBG di Karo Sebut Anaknya Hilang Ingatan 70 Persen,” diakses 7 September 2026.

Raffaele Nardone, Francesco Brigo, dan Eugen Trinka, “Acute Symptomatic Seizures Caused by Electrolyte Disturbances,” Journal of Clinical Neurology 12, no. 1 (2016): 21–33, https://doi.org/10.3988/jcn.2016.12.1.21.

Centers for Disease Control and Prevention, “About Staph Food Poisoning,” diakses 7 September 2026.

Richard Dietrich et al., “The Food Poisoning Toxins of Bacillus cereus,” Toxins 13, no. 2 (2021): 98, https://doi.org/10.3390/toxins13020098.

Centers for Disease Control and Prevention, “About Escherichia coli Infection,” diakses 7 September 2026.

World Health Organization, “Botulism,” diakses 7 September 2026.

World Health Organization, “Mycotoxins,” diakses 7 September 2026.

Washington State Department of Health, “Amnesic Shellfish Poisoning (ASP) from Domoic Acid,” diakses 7 September 2026.

J. S. Teitelbaum et al., “Neurologic Sequelae of Domoic Acid Intoxication Due to the Ingestion of Contaminated Mussels,” New England Journal of Medicine 322, no. 25 (1990): 1781–87, https://doi.org/10.1056/NEJM199006213222505.

Curated For You

Editorial Team

Related Article