- Muncul mendadak.
- Sangat berat sejak awal.
- Terasa di dada, punggung, atau perut.
- Pada beberapa pasien terasa tajam, seperti robek, atau berpindah.
6 Gejala Gangguan Aorta, Jangan Mengabaikannya

Tidak semua penyakit aorta menimbulkan gejala. Aneurisme aorta dapat tumbuh perlahan tanpa keluhan dan baru ditemukan saat pemeriksaan pencitraan untuk alasan lain.
Nyeri dada, punggung, atau perut yang muncul mendadak dan sangat berat merupakan tanda penting sindrom aorta akut, termasuk diseksi atau ruptur aorta.
Pingsan, gejala seperti stroke, perbedaan denyut nadi atau tekanan darah antarlengan, sesak, dan gangguan aliran darah ke tungkai dapat menunjukkan keterlibatan cabang aorta dan memerlukan evaluasi segera.
Aorta keluar langsung dari jantung lalu membentang melewati dada dan perut untuk mendistribusikan darah ke seluruh tubuh. Karena ukurannya besar dan cabangnya menuju banyak organ, gangguan pada pembuluh darah ini tidak selalu menghasilkan satu jenis gejala.
Aneurisme, yakni kondisi pelebaran atau penonjolan abnormal pada dinding pembuluh darah yang berisiko pecah, bisa tidak disadari penderitanya. Diseksi (robekan) bisa muncul dalam hitungan detik dengan nyeri hebat. Penyempitan bawaan seperti koarktasio bahkan bisa baru diketahui setelah seseorang bertahun-tahun mengalami hipertensi.
Para ahli membahas penyakit aorta sebagai kelompok kondisi yang luas, mulai dari aneurisme dan sindrom aorta akut hingga penyakit bawaan serta gangguan inflamasi.
Berikut tanda-tanda gangguan aorta yang perlu dikenali.
Table of Content
1. Mungkin saja tidak ada gejala sama sekali
Karakteristik penting penyakit aorta adalah tidak adanya keluhan tidak selalu berarti aorta normal.
Aneurisme aorta terjadi ketika sebagian dinding aorta melemah dan melebar. Aneurisme di dada (aneurisme aorta torakalis) maupun perut (aneurisma aorta abdominal) sering berkembang perlahan tanpa gejala.
Karena itu, sebagian aneurisme ditemukan secara tidak sengaja saat seseorang menjalani CT, MRI, ekokardiografi, atau ultrasonografi untuk alasan lain.
Gejala biasanya lebih mungkin terjadi ketika aneurisme sudah cukup besar untuk menekan struktur di sekitarnya, atau ketika terjadi komplikasi seperti diseksi dan ruptur.
2. Nyeri dada, punggung, atau perut
Nyeri merupakan gejala paling penting pada diseksi aorta akut, yaitu kondisi ketika lapisan dalam aorta robek dan darah masuk di antara lapisan dinding pembuluh.
Waspadai nyeri yang:
Data International Registry of Acute Aortic Dissection (IRAD) menunjukkan gejalanya cukup beragam. Dalam analisis ribuan pasien, nyeri berat atau terberat yang pernah dirasakan dilaporkan pada sekitar 93–94 persen pasien, sedangkan nyeri dada terjadi pada sekitar 83 persen kasus tipe A dan 71 persen tipe B.
Studi IRAD awal terhadap 464 pasien juga menemukan hanya sekitar separuh pasien yang menggambarkan nyerinya sebagai dirobek atau dicabik. Yang lebih sering dilaporkan adalah nyeri tajam.
Diseksi tipe A yang melibatkan aorta asendens lebih sering menimbulkan nyeri dada, sedangkan nyeri punggung dan perut relatif lebih umum pada diseksi tipe B.
Pada aneurisme yang belum mengalami diseksi atau ruptur, rasa sakit biasanya tidak dramatis. Aneurisme abdominal yang membesar, misalnya, dapat menyebabkan nyeri perut atau punggung yang menetap serta sensasi berdenyut di sekitar perut.
3. Sesak, suara serak, batuk, atau sulit menelan

Aorta di rongga dada berada dekat dengan trakea, esofagus, paru-paru, serta saraf yang menuju pita suara.
Ketika aneurisme torakalis membesar, pembuluh tersebut dapat menekan struktur di sekitarnya. Akibatnya, keluhannya tidak selalu terasa seperti masalah pembuluh darah.
Beberapa kemungkinan gejalanya antara lain sesak napas, sulit atau nyeri saat menelan, batuk, suara serak, serta nyeri di dada, punggung, leher, rahang, atau bahu.
Gejala-gejala di atas memang tidak spesifik untuk penyakit aorta. Namun, pada orang yang sudah diketahui memiliki aneurisme atau faktor risiko penyakit aorta, perubahan gejala perlu dievaluasi.
4. Pingsan atau gejala seperti stroke
Aorta bercabang untuk mengantar darah ke otak, organ perut, ginjal, dan seluruh anggota tubuh. Ketika diseksi meluas ke cabang tersebut, suplai darah dapat ikut terganggu. Akibatnya, bisa terjadi pingsan, kelemahan satu sisi tubuh, kesulitan berjalan atau berbicara, hingga gangguan penglihatan.
Data menunjukkan, sekitar 9,4 persen pasien mengalami sinkop, dan stroke ditemukan pada sebagian pasien saat datang ke rumah sakit.
Gangguan aliran darah juga dapat menghasilkan denyut nadi yang lebih lemah pada satu sisi atau perbedaan tekanan darah antaranggota tubuh. Para ahli memasukkan defisit nadi, perbedaan tekanan darah, defisit neurologis, serta hipotensi atau syok sebagai temuan yang meningkatkan kecurigaan terhadap diseksi aorta.
Karena gejalanya dapat menyerupai stroke atau serangan jantung, pemeriksaan pencitraan diperlukan untuk memastikan penyebab diseksi aorta.
5. Tekanan darah tinggi dan kaki cepat lelah
Tidak semua gangguan aorta bersifat akut. Pada koarktasio aorta, terjadi penyempitan pada suatu bagian aorta, biasanya sebagai kelainan bawaan. Kalau penyempitannya tidak terlalu berat, seseorang dapat mencapai usia dewasa sebelum penyakit tersebut diketahui.
Temuan yang paling umum pada orang dewasa adalah hipertensi yang muncul relatif lebih cepat, sementara aliran darah menuju bagian bawah tubuh berkurang.
Akibatnya, tekanan darah di lengan dapat jauh lebih tinggi daripada di tungkai. Denyut nadi pada kaki juga dapat lebih lemah atau lebih lambat dibanding lengan. Sebagian pasien mengalami sakit kepala, mudah lelah, atau tungkai terasa lemah dan nyeri ketika beraktivitas.
Kasus koarktasio bahkan dapat terlewat bertahun-tahun karena hipertensi menjadi satu-satunya tanda.
Jadi, tekanan darah tinggi pada usia muda, terutama jika terdapat perbedaan tekanan atau nadi antara tubuh bagian atas dan bawah, bisa menjadi petunjuk kelainan aorta.
6. Demam dan kelelahan pada aortitis

Ada pula gangguan aorta yang berawal dari peradangan dinding pembuluh, atau aortitis.
Penyebab noninfeksius yang penting antara lain Takayasu arteritis dan giant cell arteritis. Karena penyakitnya melibatkan inflamasi sistemik, gejala awal dapat terlihat sangat umum, seperti demam, kelelahan, malaise, penurunan berat badan, serta nyeri otot atau sendi.
Ketika peradangan menyebabkan penyempitan aorta atau cabangnya, gejalanya berubah sesuai area yang kekurangan aliran darah.
Pada Takayasu arteritis, misalnya, gejala yang cukup khas meliputi:
- Lengan atau kaki cepat nyeri dan lelah ketika digunakan.
- Denyut nadi pada satu lengan melemah.
- Perbedaan tekanan darah antarlengan.
- Suara bruit (suara berdesis atau gemericik yang terdengar dengan stetoskop) pada pembuluh darah besar.
Apa gejala yang harus dianggap darurat?
Yang paling perlu dibedakan adalah keluhan kronis dengan tanda sindrom aorta akut atau ruptur.
Segera cari pertolongan medis darurat jika muncul nyeri dada, punggung, atau perut yang sangat berat dan mendadak, terutama jika disertai:
- Pingsan atau hampir pingsan.
- Sesak napas mendadak.
- Kelemahan atau mati rasa satu sisi tubuh.
- Kesulitan bicara atau berjalan.
- Kehilangan penglihatan.
- Kulit pucat dan dingin.
- Denyut nadi sangat cepat atau lemah.
- Tekanan darah turun dan tanda syok.
Deteksi dan terapi sesegera mungkin penting pada diseksi aorta karena kondisi ini dapat mengancam nyawa.
Yang juga penting, tidak adanya nyeri tidak sepenuhnya menyingkirkan diseksi. Studi menemukan keterlambatan diagnosis lebih sering terjadi pada pasien dengan presentasi tidak khas, termasuk mereka yang tidak mengalami nyeri dada atau punggung dan yang nyerinya tidak muncul secara tiba-tiba.
Tidak ada satu gejala khas yang berlaku untuk gangguan aorta. Aneurisme bisa diam, diseksi dapat terasa dramatis, koarktasio terlihat seperti hipertensi, sedangkan aortitis dapat dimulai dari demam dan kelelahan. Jenis penyakit, lokasi bagian aorta yang terkena, dan apakah aliran darah ke organ lain terganggu menentukan bagaimana gejalanya muncul.
Referensi
National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), "Aortic dissections: Are you at risk? Here’s what to know," diakses Agustus 2026.
NHLBI, "Aortic Aneurysm Symptoms," diakses Agustus 2026.
Eduardo Bossone et al., “Presentation, Diagnosis, and Outcomes of Acute Aortic Dissection: 17-Year Trends from the International Registry of Acute Aortic Dissection,” Journal of the American College of Cardiology 66, no. 4 (2015): 350–58, https://doi.org/10.1016/j.jacc.2015.05.029.
Peter G. Hagan et al., “The International Registry of Acute Aortic Dissection (IRAD): New Insights into an Old Disease,” JAMA 283, no. 7 (2000): 897–903, https://doi.org/10.1001/jama.283.7.897.
Tajammal Zahid et al., “Coarctation of the Aorta: Review of Current Literature,” Cardiology in Review (2025), https://doi.org/10.1097/CRD.0000000000000936.
James H. Lee et al., “Diagnostic Accuracy of Clinical Findings for Takayasu Arteritis: A Rapid Review and Meta-Analysis,” Seminars in Arthritis and Rheumatism (2025).
Kevin M. Harris et al., “Correlates of Delayed Recognition and Treatment of Acute Type A Aortic Dissection: The International Registry of Acute Aortic Dissection (IRAD),” Circulation 124, no. 18 (2011): 1911–18, https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.110.006320.
Eric M. Isselbacher et al., “2022 ACC/AHA Guideline for the Diagnosis and Management of Aortic Disease,” Circulation 146, no. 24 (2022): e334–e482, https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001106.











![[QUIZ] Dari Aktivitas Harianmu, Plank atau Push Up yang Cocok Buatmu?](https://image.idntimes.com/post/20250527/rekomendasi-jadwal-workout-di-rumah-jadwal-workout-di-rumah-hari-keempat-push-up-9cde86371d7fc78c91ae80a6ffab250e-e9e34022b49f39951bd44c66acf23603.jpg)


![[QUIZ] Dari Aktivitas Fisik Harian Kamu, Ini Perkiraan Kalori yang Kamu Bakar](https://image.idntimes.com/post/20230305/pexels-felicity-tai-7963791-9f2690fd965b0b529c7039fa544e675e-fd919f8949c6502fbad200a67992f882.jpg)

![[QUIZ] Kardio vs Latihan Beban, Mana yang Lebih Bagus Buatmu?](https://image.idntimes.com/post/20250508/16190-06da9cb21925c208b6c5f4982411b31d-64cf4b37dcccc6b4a69fd3cc38dec42a.jpeg)



