Comscore Tracker

Apakah Benar Kurang Tidur Bisa Sebabkan Alzheimer?

Siapa yang masih suka begadang?

Tidur merupakan kebutuhan biologis yang sangat penting bagi manusia. Saat tidur, tubuh akan beristirahat dan ‘mengisi’ kembali energi untuk digunakan keesokan harinya. Lebih dari itu, dalam kondisi tidur, organ tubuh juga akan bekerja lebih optimal sehingga membuat kita jadi lebih sehat.

Sebaliknya, keseimbangan organ tubuh bisa terganggu dan berisiko menyebabkan masalah serius jika kita kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk tidur. Banyak ahli mengatakan bahwa masalah kognitif dan emosional yang dialami seseorang dapat terjadi karena adanya gangguan pada otak, dan salah satu penyebabnya adalah karena kurang tidur.

Dalam studi lebih lanjut, gangguan pada otak akibat kurang tidur ternyata juga identik dengan kondisi otak orang yang mengalami Alzheimer, lho! Lalu, apakah kurang tidur bisa sebabkan Alzheimer? Untuk mengetahunya, simak ulasannya berikut ini.

Namun sebelum itu, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa saja faktor yang menyebabkan seseorang bisa kekurangan waktu tidur, yang beberapa diantaranya mungkin juga pernah kamu alami.

1. Penyebab kurang tidur

Apakah Benar Kurang Tidur Bisa Sebabkan Alzheimer?ilustrasi seseorang yang mengalami kurang tidur (freepik.com/yanalya)

Mengacu pada laman Sleep Foundation, kurang tidur merupakan kondisi yang dialami ketika waktu yang kita gunakan untuk tidur, kurang dari yang seharusnya, yaitu 7-9 jam per hari untuk orang dewasa.

Beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami kurang tidur, antara lain:

  • Gaya hidup, seperti menonton teve atau menggunakan handphone hingga larut malam yang membuat porsi tidur jadi berkurang
  • Tuntutan pekerjaan atau tugas kuliah
  • Lingkungan tidur yang tidak sesuai, terlalu bising atau terlalu panas
  • Mengalami kondisi medis tertentu, seperti insomnia, sleep apnea, atau pun depresi yang bisa menyebabkan seseorang jadi sering tebangun di waktu tidur

Nah, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, berbagai kondisi yang membuat seseorang kurang tidur berkaitan dengan penyakit Alzheimer. Apa yang terjadi pada otak penderita Alzheimer?

2. Apa yang terjadi pada otak penderita Alzheimer?

Apakah Benar Kurang Tidur Bisa Sebabkan Alzheimer?ilustrasi otak seseorang yang mengalami Alzheimer pada beberapa fase (scientificanimations.com)

Penyakit Alzheimer sering ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir, masalah bicara, kebingungan, serta perubahan tingkah laku. Kondisi ini umumnya dipicu oleh faktor-faktor tertentu seperti usia, genetik, dan riwayat keluarga.

Apabila seseorang mengalami Alzheimer, artinya ada sesuatu yang terjadi pada otak pasien sehingga membuat sel-sel otak jadi menyusut dan mati. Melansir WebMD, sel otak seringkali mengalami 2 tipe kecacatan, diantaranya:

  • Neurofibrillary tangles, yaitu berupa serat yang saling membelit di dalam sel otak yang dapat menghambat nutrisi beserta hal penting lain untuk berpindah dari satu sel ke sel lain. Kondisi ini pada akhirnya akan meningkatkan kadar beta-amiloid pada otak.
  • Beta-amyloid plaques, yaitu berupa gumpalan protein yang menumpuk di antara sel-sel saraf. Beta-amiloid ini berasal dari protein abnormal yang umumnya mengalami masalah dalam proses mutasi dan pemecahan protein.

Kedua kondisi di atas sama-sama dapat merusak sel-sel otak yang ada di sekitarnya, sehingga menyebabkan sel menjadi mati, dan lama kelamaan otak pun mengalami penyusutan.

Meski ilmuwan belum mengetahui secara pasti apakah perubahan tersebut yang menjadi penyebab penyakit Alzheimer atau malah merupakan dampak dari Alzheimer, namun setidaknya, kelainan ini lah yang terjadi pada otak pasien yang mengalami gejala Alzheimer.

Hal ini seperti yang dilaporkan dalam sebuah review studi dari jurnal Current Opinion in Physiology tahun 2020, yaitu adanya penumpukan agregat protein atau plak beta-amiloid di otak merupakan tanda utama seseorang mengalami penyakit Alzheimer.

Studi lain menunjukkan, sebenarnya, otak dapat mengatasi penumpukan beta-amiloid pada otak secara mandiri.

Baca Juga: Diabetes hingga Alzheimer, Ini 7 Dampak Fatal Polusi pada Kesehatan

3. Peran sistem glimfatik dalam mengurangi beta-amiloid pada otak 

Apakah Benar Kurang Tidur Bisa Sebabkan Alzheimer?ilustrasi sel otal (neuronline.sfn.org)

Bukan rahasia lagi kalau tubuh dapat membersihkan diri dari toksin penyebab penyakit melalui berbagai organ secara mandiri. Beberapa tahun belakangan, peneliti kembali menemukan adanya serangkaian aktifitas pada otak yang aktif melakukan pembersihan toksin, yang disebut sebagai sistem glimfatik.

Secara umum, sistem makroskopis yang sangat terpolarisasi ini membantu dalam pendistribusian senyawa non-limbah seperti glukosa, lipid, asam amino, dan juga neurotransmitter, seperti yang dilaporkan oleh US National Library of Medicine.

Menariknya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistem ini juga memiliki fungsi lain, yaitu membersihkan ‘sampah’ pada sistem saraf pusat yang sumbernya berasal dari sisa-sisa aktivitas saraf selama kita beraktivitas, termasuk pembuangan produk sampingan metabolik berupa beta-amiloid.

Berbagai uji coba dilakukan untuk mengevaluasi fungsi sistem glimfatik terhadap pembersihan beta-amiloid, salah satunya yang dipublikasi oleh jurnal Science Translational Medicine tahun 2012. Dari uji coba tersebut, diketahui bahwa kandungan beta-amiloid yang telah diinjeksi pada otak tikus mampu dibersihkan dengan cepat melalui jalur glimfatik.

Hasil tersebut memperjelas pentingnya peran dari sistem glimfatik dalam mengurangi kadar beta-amiloid yang dimiliki orang dengan gejala Alzheimer.

Namun pembersihan pada otak melalui sistem ini tidak aktif setiap saat, melainkan aktif ketika kita tidur.

4. Fungsi pembersihan pada sistem glimfatik akan aktif saat kita tidur

Apakah Benar Kurang Tidur Bisa Sebabkan Alzheimer?ilustrasi saraf otak yang aktif ketika tidur (freepik.com/kjpargeter)

Ketika tidur, otak tidak sepenuhnya ikut tidur melainkan tetap beraktivitas dan menjalankan fungsi-fungsi lain, salah satunya fungsi pada sistem glimfatik.

Peneliti menemukan fakta bahwa sistem glimfatik akan menjadi lebih aktif dalam membersihkan toksin pada otak saat kita berada dalam kondisi tidur. Sebaliknya, ketika sedang berkegiatan, sistem ini diketahui membantu dalam pendistribusian berbagai senyawa seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Untuk menguji kebenaran tersebut, peneliti melakukan berbagai jenis percobaan dan mendapat hasil yang serupa.

Salah satunya adalah percobaan pada tikus yang diberi obat bius dan tikus yang tidur secara alami dengan menganalisis proses pertukaran cairan dalam aliran glimfatik pada otak. Penelitian yang dipublikasi pada tahun 2014 melalui jurnal Science itu menunjukkan hasil bahwa selama tidur, terjadi peningkatan laju pembersihan beta-amiloid secara mencolok pada kedua tikus percobaan.

Dengan demikian, tidur merupakan kondisi yang tepat untuk meningkatkan fungsi sistem glimfatik dalam membersihkan produk neurotoksik yang telah terakumulasi pada sistem saraf pusat selama kita terjaga.

5. Kurang tidur, beta-amiloid, dan Alzheimer

Apakah Benar Kurang Tidur Bisa Sebabkan Alzheimer?ilustrasi orang yang mengalami kurang tidur (freepik.com/pressfoto)

Seperti yang telah diulas sebelumnya, tidur memiliki peran penting dalam membersihkan toksin pada otak. Apabila kurang tidur, maka fungsi sistem glimfatik yang berperan dalam membersihkan sampah pada sistem saraf pusat menjadi terganggu. Ini menyebabkan proses pembuangan toksin, termasuk beta-amiloid menjadi tidak optimal.

Gangguan tidur akut yang menyebabkan seseorang kehilangan banyak waktu tidur bisa semakin meningkatkan kadar beta-amiloid pada otak, yang lama kelamaan akan menumpuk dan menjadi plak beta-amiloid yang merupakan indikasi seseorang mengalami Alzheimer.

Tak sampai disitu, kondisi ini pun dapat berlaku sebaliknya, seperti yang dilaporkan dalam jurnal Clinical Psychopharmacology and Neuroscience pada tahun 2017.

Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa tak hanya gangguan tidur yang mempengaruhi sistem glimfatik dan penumpukan beta-protein, melainkan beta-protein yang telah terakumulasi juga bisa mempengaruhi sistem glimfatik dan memperparah masalah tidur.

Hal yang saling berkaitan ini pun cukup menjawab pertanyaan terkait masalah tidur yang sering dialami pasien Alzheimer. Dengan beta-amiloid yang telah menumpuk pada otak, maka orang yang mengalami Alzheimer akan semakin mengalami sulit tidur.

Untuk memastikan dengan jelas apakah kurang tidur menjadi faktor kuat yang menyebabkan seseorang mengalami Alzheimer atau tidak, penelitian lebih lanjut pun masih terus dilakukan.

Namun dari ulasan di atas, jelas terdapat kaitan antara kurang tidur dan Alzheimer, sehingga ada kemungkinan bahwa kurang tidur bisa menjadi salah satu dari sekian banyak faktor penyebab seseorang mengalami penyakit degeneratif ini.

Dengan demikian, memastikan agar kita mendapat tidur yang cukup sangatlah penting supaya metabolisme tubuh tetap berjalan dengan semestinya dan bisa meminimalisir risiko terkena berbagai penyakit, termasuk Alzheimer.

Baca Juga: Penderita Alzheimer Lebih Rentan Depresi Selama PSBB COVID-19

Halifa Ghaisani Photo Verified Writer Halifa Ghaisani

Human being

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya