Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harus Diwaspadai! 6 Gangguan Mental Ini Kerap Dialami Perempuan Muda

Harus Diwaspadai! 6 Gangguan Mental Ini Kerap Dialami Perempuan Muda
pexels.com/Rafael Barros
Share Article

Lulus kuliah, mencari pekerjaan pertama, hingga awal memulai kehidupan berkeluarga membuat perempuan berusia 20-an dan 30-an sering menghadapi sejumlah perubahan luar biasa. Ini juga bisa menjadi saat-saat di mana perempuan muda mengalami gangguan mental.

Ini adalah masa di mana perempuan harus banyak membuat keputusan besar tentang hidup mereka. Saat perempuan muda tumbuh dewasa, mereka juga lebih mungkin mengalami perubahan hormonal yang dapat memicu masalah juga. Semua faktor ini berpotensi membuat perempuan sering merasa stres dan tentu saja stres tidaklah baik bagi kesehatan mental.

Di bawah ini adalah beberapa masalah kesehatan mental yang rentan menyerang perempuan muda berusia 20-an dan 30-an, dan harus diwaspadai.

1. Gangguan kecemasan

unsplash.com/Tina Markova
unsplash.com/Tina Markova

Kecemasan dapat berdampak besar pada hidup. Jika gangguan kecemasan mulai muncul di usia 20-an atau 30-an, kemungkinan hal ini ada hubungannya dengan tekanan kehidupan yang dialami di masa dewasa. Menurut The National Institute of Mental Health, gejala kecemasan ini bisa diiringi kelelahan, cepat marah, masalah tidur, dan sulit mengendalikan kekhawatiran.

Ini dikarenakan pada usia tersebut perempuan sudah dituntut untuk mandiri baik secara fisik maupun finansial, yang mungkin membuat mereka merasa sulit menangani tanggung jawab ini. Kewajiban untuk bekerja, membayar tagihan, menangani hubungan, dan menjaga diri sendiri bisa membuat mereka merasa kewalahan dan menimbulkan kecemasan.

Walaupun begitu, diagnosis gangguan kecemasan ini hanya bisa dilakukan oleh ahlinya. Dengan begitu, dokter akan membantu menavigasi beberapa pemicu awal gangguan tersebut.

2. Post-traumatic stress disorder

pexels.com/Rafael Barros
pexels.com/Rafael Barros

Secara teknis, post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah jenis gangguan kecemasan, yang juga mencakup gangguan panik, fobia, dan gangguan kecemasan perpisahan. Walaupun bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan, tetapi perempuan dua kali lebih mungkin mengembangkannya daripada laki-laki, dan sekitar empat kali lebih mungkin untuk mendapatkannya secara kronis, menurut laman Prevention.

Hal ini bukan karena perempuan cenderung memiliki lebih banyak jenis trauma, seperti pelecehan dan penyerangan seksual, yang dikaitkan dengan risiko lebih besar untuk PTSD. Selain itu, dibandingkan dengan laki-laki, perempuan cenderung bereaksi dengan menyalahkan diri sendiri, yang menyebabkan trauma.

3. Bipolar disorder

pexels.com/Engin Akyurt
pexels.com/Engin Akyurt

Dilansir dari laman Office On Women's Health, gangguan bipolar adalah kondisi medis yang serius. Seseorang dengan gangguan bipolar memiliki episode mania yang ekstrem, atau menjadi sangat bersemangat atau energik dan aktif, dan episode depresi, atau menjadi sangat sedih. Meskipun gangguan ini dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan secara setara, tetapi hormon dapat membuat pengalaman berbeda untuk perempuan muda.

Perubahan hormon selama siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause dapat memengaruhi seberapa parah gangguan bipolar seorang perempuan. Walaupun begitu, fluktuasi suasana hati selama siklus menstruasi tidak sama dengan gangguan bipolar.

4. Borderline personality disorder (BPD)

unsplash.com/Ernest Brillo
unsplash.com/Ernest Brillo

Seseorang lebih mungkin mengembangkan borderline personality disorder (BPD) saat di awal usia 20-an. Pada saat itu, perempuan muda mengalami sejumlah perubahan sosial di tempat kerja, di sekolah, dan dalam hubungan.

BPD adalah penyakit mental yang ditandai dengan pola suasana hati, citra diri, dan perilaku yang bervariasi. Gejala gangguan ini termasuk episode kemarahan yang intens, depresi, dan kecemasan yang bisa berlangsung berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Gejala dapat berkisar dari perasaan hampa kronis hingga terlibat dalam perilaku yang merugikan diri sendiri, menurut The National Institute of Mental Health. Karenanya, gangguan ini dapat memengaruhi banyak area kehidupan dan perlu segera diatasi.

5. Skizofrenia

pexels.com/Moose Photos
pexels.com/Moose Photos

Skizofrenia adalah gangguan kesehatan mental yang jarang dibahas, tetapi kelainan ini dapat muncul pada perempuan berusia 20-an dan 30-an. Dilansir dari laman Genomin, di antara usia 20 dan 30 tahun adalah saat kebanyakan perempuan mengalami gangguan skizofrenia. Gejala skizofrenia termasuk perilaku aneh, delusi, halusinasi, paranoia, dan pikiran penganiayaan.

Sama seperti gangguan mental lainnya, gangguan ini hanya bisa didiagnosis oleh dokter. Ada enam jenis skizofrenia yang berbeda dan penderita memerlukan pengobatan dengan didampingi oleh dokter atau terapis.

6. Binge eating disorder

ilustrasi pola makan (freepik.com/senivpetro)
ilustrasi pola makan (freepik.com/senivpetro)

Binge eating disorder atau gangguan makan memang dapat menimpa laki-laki maupun perempuan, tetapi umumnya dianggap sebagai penyakit perempuan. Ini karena gangguan makan berkaitan dengan hal hal-hal yang umumnya bersifat feminin, seperti harga diri, pengendalian diri, emosionalitas, dan perfeksionisme.

Sebagai contoh, kamu sendiri pasti sering melihat papan iklan, iklan TV, internet, atau majalah dan tahu betul tekanan eksponensial yang diberikan pada perempuan untuk menyesuaikan diri dengan standar kecantikan tertentu. Standar budaya untuk perempuan sangat diarahkan pada berat, bentuk, dan penampilan, yang memengaruhi anggapan perempuan tentang makanan dan tubuh mereka, dilansir dari laman Prevention.

Demikianlah beberapa gangguan mental yang kerap dialami perempuan muda. Walaupun saat ini banyak informasi seputar kesehatan mental bisa kamu dapatkan melalui internet, tetapi bukan berarti kamu bisa melakukan self diagnose. Tetap cari bantuan dokter jika kamu merasa mengalami gangguan pada mental untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Eka Ami
EditorEka Ami

Related Articles

See More

10 Penyebab Telapak Kaki Sakit setelah Lari, dari Sepatu hingga Cedera

03 Jun 2026, 23:30 WIBHealth