Comscore Tracker

Terapi Puisi Bantu Ekspresikan Emosi melalui Media Literatur

Terapi puisi adalah bentuk terapi yang ekspresif

Mendengar kata "puisi" apa yang pertama kali terlintas dalam benakmu? Sebuah karya sastra yang lahir dari pemikiran brilian para pujangga? Ya, ini benar. Namun, tahukah kamu bahwa puisi bisa dijadikan salah satu metode untuk membantu mengelola kondisi kesehatan mental

Sesuai namanya, terapi puisi adalah suatu bentuk terapi seni ekspresif yang melibatkan penggunaan media lisan atau tertulis untuk mempromosikan kesejahteraan dan penyembuhan gangguan mental.

Pada praktiknya, para terapis cenderung menggunakan literatur sebagai bagian dari pengobatan untuk menjadikannya media dalam mengekspresikan emosi yang tengah dirasakan klien. Menarik untuk disimak, berikut ini ulasan lengkap terkait terapi puisi dari perspektif medis.

1. Sejarah singkat terapi puisi

Terapi Puisi Bantu Ekspresikan Emosi melalui Media Literaturilustrasi seorang wanita sedang menulis (freepik.com/jannoon028)

Efek penyembuhan melalui kata-kata telah lama dikenal dalam sejarah manusia. Sekitar 4.000 SM, orang-orang Mesir Kuno melakukan aktivitas tulis-menulis menggunakan papirus (bahan pembuat kertas pada zaman dahulu) lalu melarutkannya dalam bentuk cairan dan memberikan cairan tersebut kepada orang yang sakit sebagai bentuk obat.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas membaca dan menulis ekspresif mengalami perkembangan menjadi strategi perawatan tambahan untuk mengatasi tekanan mental maupun emosional.

Pada awal tahun 1800-an, Dr. Benjamin Rush memperkenalkan puisi sebagai bentuk terapi kepada pasien yang tengah dirawat di rumah sakit. Pada tahun 1928, penyair dan apoteker bernama Eli Griefer membentuk kelompok terapi puisi dengan dukungan psikiater Dr. Jack L. Leedy dan Dr. Sam Spector.

Salah satu pelopor terapi puisi ialah pustakawan rumah sakit bernama Arleen Hynes. Dalam kiprahnya, Arleen melakukan berbagai kegiatan seperti membacakan cerita dan puisi dengan keras serta memfasilitasi diskusi mengenai materi dan relevansi terhadap kondisi pasien.

Pada tahun 1980, semua pemimpin diundang ke dalam sebuah pertemuan untuk meresmikan pedoman pelatihan dan sertifikasi. Pada pertemuan tersebut, terbentuklah National Association for Poetry Therapy (NAPT).

2. Terapi puisi adalah subtipe biblioterapi

Terapi Puisi Bantu Ekspresikan Emosi melalui Media Literaturilustrasi praktik terapi puisi (freepik.com/Racool_studio)

Dilansir Medical News Today, terapi puisi termasuk dalam ranah biblioterapi yang mengacu pada aktivitas terapi dengan melibatkan kegiatan membaca atau menulis. Dalam praktiknya, terapis menggunakan media puisi untuk menunjang perawatan guna membantu klien memahami perasaan (baik perasaan diri sendiri maupun orang lain).

Meskipun membaca dan menulis puisi dapat membantu seseorang mengatasi dan mengekspresikan emosinya dengan lebih baik, perlu diingat jika "puisi" bukanlah bentuk terapi yang berdiri sendiri. Untuk alasan demikian, biasanya terapis memasukkan terapi puisi ke dalam jenis terapi lainnya.

Baca Juga: 9 Cara Menghilangkan Mood Jelek, Saran dari Pakar Kesehatan Mental

3. Cara kerja terapi puisi

Terapi Puisi Bantu Ekspresikan Emosi melalui Media Literaturilustrasi membaca puisi (freepik.com/freepik)

Beberapa jenis terapi puisi mengikuti formula tertentu dengan setiap sesi memiliki tujuan unik tersendiri. Dalam sesi terapi, klien dapat menulis puisi, membaca puisi, atau berbagi puisi dengan orang lain sesuai dengan tujuan perawatan.

Beberapa contoh penerapan terapi puisi di antaranya adalah:

  • Terapis dapat menggunakan puisi sebagai cara untuk membantu klien mencapai tujuan perawatan. Misalnya, mendorong seorang klien yang mengalami pelecehan untuk membaca puisi bertemakan tentang kemarahan sebagai cara untuk mengidentifikasi perasaan marah dengan lebih baik.
  • Klien dapat menggunakan puisi untuk mengekspresikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Melalui metafora dan ritme dalam puisi akan memudahkan beberapa orang untuk mengungkapkan perasaannya.
  • Puisi dapat membantu klien berkomunikasi dengan orang lain (misalnya orang tua atau sahabat) terkait luapan emosi.
  • Citra dan metafora yang digunakan dapat menjadi representasi hubungan emosional yang sedang dialami. Misalnya, metafora yang terkait dengan pengabaian dapat membantu terapis mengidentifikasi masalah keterikatan.

4. Teknik yang digunakan dalam terapi puisi

Terapi Puisi Bantu Ekspresikan Emosi melalui Media Literaturilustrasi sesi terapi (freepik.com/senivpetro)

Dilansir Good Therapy, terdapat beberapa model terapi puisi yang berbeda, tetapi yang paling populer dan paling sering digunakan adalah model yang diperkenalkan oleh Nicholas Mazz dengan melibatkan tiga komponen utama, yakni:

  • Komponen reseptif (preskriptif): terapis akan memperkenalkan puisi atau karya sastra dan mendorong klien untuk bereaksi. Materi yang dipilih biasanya dibacakan oleh terapis atau klien sehingga nada dan ritme puisi dapat sepenuhnya merasuk. Saat puisi dibacakan, terapis akan mencatat reaksi verbal dan nonverbal klien. Reaksi tersebut umumnya dieksplorasi melalui beberapa pertanyaan seperti:

"Saya perhatikan kamu tersenyum saat puisi dibacakan. Bisakah kamu memberi tahu saya mengenai perasaanmu?"

"Apakah ada baris tertentu dalam puisi yang menyentuhmu?"

"Bagaimana perasaanmu terhadap puisi ini?"

  • Komponen ekspresif (kreatif): melibatkan penggunaan tulisan kreatif (puisi, surat, dan jurnal pribadi) untuk tujuan penilaian dan pemberdayaan. Proses menulis bisa menjadi salah satu cara untuk membebaskan emosi negatif atau kenangan buruk yang dialami klien. 

  • Komponen simbolik (seremonial): melibatkan penggunaan metafora, cerita, dan aktivitas tertentu sebagai alat untuk memengaruhi perubahan. Pada dasarnya kedudukan metafora adalah sebagai simbol yang dapat membantu klien untuk menjelaskan emosi dan pengalaman yang kompleks secara singkat namun mendalam.

5. Manfaat terapi puisi

Terapi Puisi Bantu Ekspresikan Emosi melalui Media Literaturilustrasi menulis puisi (freepik.com/ArthurHidden)

Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa terapi puisi sangat efektif untuk membantu mengelola perasaan kalut pada bayak orang. Salah satunya, studi dalam Journal of Poetry Therapy tahun 2008 menjelaskan jika puisi sebagai terapi dapat mengurangi gejala trauma sekunder pada kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Manfaat lain dari terapi puisi adalah:

  • Memberikan kesempatan pada klien untuk lebih kreatif
  • Menjadi cara yang lebih mudah bagi sebagian orang untuk mengekspresikan diri dan menuangkan perasaan
  • Dapat membantu orang dengan masalah neurologis kompleks agar tidak merasa sendirian. Misalnya, pengidap skizofrenia dapat menyuarakan pengalaman melalui bait-bait puisi yang ditulisnya
  • Terapi puisi dapat membantu memberi pemahaman kepada klien terkait emosi umum dan masalah komunikasi. Dengan membaca puisi orang lain dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian dan mendorong diri untuk lebih terbuka
  • Terapi puisi memberi klien kesempatan untuk mengeksplorasi isu-isu eksistensial yang menantang

Puisi telah membantu manusia mengidentifikasi dan berbagi emosi selama berabad-abad. Kendati demikian, terapi puisi tidak sepenuhnya efektif untuk semua orang. Pasalnya, beberapa orang mungkin tidak suka menulis atau membaca puisi. Terlepas dari persoalan tersebut, setiap orang memiliki preferensi tersendiri khususnya dalam pemilihan perawatan kesehatan mental.

Baca Juga: 8 Tanda Kamu Terlalu Lama Mengabaikan Kesehatan Mental, Segera Atasi

Indriyani Photo Verified Writer Indriyani

Business inquiries: indriyaniann124@gmail.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya