“Anak yang makin kecil usianya, makin besar kemungkinan mengalami komplikasi,” jelas Prof. Anggraini dalam seminar media IDAI yang digelar secara daring pada Jumat (18/9).
Influenza Bisa Menyerang Otak Anak? Ini Penjelasan Dokter

Influenza dapat menyebabkan komplikasi neurologis pada anak, termasuk ensefalopati dan ensefalitis, tetapi kejadian ini tergolong jarang.
Beberapa studi populasi memperkirakan influenza-associated encephalopathy/encephalitis terjadi sekitar 2,8 kasus per 1 juta anak per tahun.
Kejang, sulit dibangunkan, penurunan kesadaran, atau perubahan perilaku yang tidak biasa saat anak mengalami influenza perlu segera mendapat pertolongan medis.
Influenza lebih dikenal sebagai penyakit saluran pernapasan. Anak demam, batuk, sakit tenggorokan, tidak enak badan, kemudian berangsur pulih dalam beberapa hari.
Namun, pada sejumlah kecil kasus, dampaknya dapat meluas hingga otak. Influenza dapat berkaitan dengan gangguan pada sistem saraf, termasuk ensefalopati atau ensefalitis—kondisi yang dapat menyebabkan perubahan kesadaran, kejang, hingga gangguan fungsi otak yang berat.
Table of Content
1. Seberapa sering influenza menyebabkan komplikasi otak?
Prof. Dr. Anggraini Alam, dr., Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K), dari UKK Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengatakan usia anak menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membicarakan komplikasi influenza.
Seberapa sering komplikasi pada otak terjadi sulit dinyatakan dengan satu angka. Definisi kasus, sistem surveilans, usia anak, dan beratnya musim influenza angkanya bisa berbeda-beda di setiap negara.
Ada data populasi dari surveilans anak di Australia selama tiga musim influenza. Dari 710 anak yang dirawat di rumah sakit dengan influenza terkonfirmasi, 10 mengalami influenza-associated encephalitis/encephalopathy (IAE), atau sekitar 1,4 persen dari anak yang dirawat karena influenza. Jika dihitung pada seluruh populasi anak usia 14 tahun ke bawah, kejadian rata-ratanya hanya sekitar 2,8 kasus per 1 juta anak per tahun.
Angka yang hampir sama ditemukan melalui sistem surveilans nasional Jepang. Dari tahun 2010 hingga 2015, tercatat 283 kasus IAE pada orang berusia di bawah 18 tahun, dengan rata-rata kejadian sekitar 2,83 kasus per 1 juta anak per musim influenza.
Pada musim influenza 2024–2025 di Amerika Serikat, CDC menerima laporan 109 anak dengan IAE. Sebagian besar butuh perawatan intensif dan 19 persen meninggal.
Walaupun merupakan komplikasi neurologis influenza yang jarang, tetapi jika sampai terjadi kondisinya bisa menjadi serius.
2. Apakah virus influenza bisa masuk ke otak?
Influenza dapat berkaitan dengan ensefalitis, yaitu peradangan jaringan otak, maupun ensefalopati, istilah yang lebih luas untuk gangguan fungsi otak. Keduanya merupakan kemungkinan komplikasi neurologis influenza pada anak, bersama komplikasi lain seperti mielitis.
Namun, pada banyak kasus IAE, kerusakan otak tampaknya bukan terjadi karena virus secara langsung menyerbu jaringan otak.
Virus influenza jarang ditemukan di cairan serebrospinal atau cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Para peneliti menduga respons imun tubuh yang sangat kuat, pelepasan zat peradangan, serta gangguan pada pembuluh darah dan sawar darah-otak ikut berperan dalam terjadinya gangguan neurologis.
Pada laporan CDC selama musim influenza 2024–2025, gejala neurologis pada anak dengan IAE muncul relatif cepat, dengan median sekitar dua hari setelah penyakit influenza dimulai. Perubahan status mental merupakan salah satu temuan yang paling sering dilaporkan.
3. Kejang saat influenza belum tentu berarti otak terdampak

ilustrasi anak demam tinggi saat mengalami flu (magnific.com/magnific) Demam akibat influenza juga dapat memicu kejang demam pada anak. Kondisi ini berbeda dengan ensefalopati atau ensefalitis.
Prof. Anggraini menegaskan perbedaan tersebut.
“Terkena persarafan, terkena otak, sangat berbeda dengan kejang demam,” ujarnya.
Kejang demam didefinisikan sebagai kejang yang terjadi bersama demam pada anak usia sekitar 6–60 bulan, tanpa adanya infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam sederhana umumnya berlangsung singkat, mengenai seluruh tubuh, dan hanya terjadi sekali dalam 24 jam.
Jadi, adanya kejang saat anak demam tidak otomatis berarti influenza telah menyebabkan kerusakan otak. Namun, kejang tetap perlu diperiksakan ke dokter, terutama jika berlangsung lama, berulang, hanya mengenai sebagian tubuh, atau disertai gangguan kesadaran berkepanjangan.
4. Kenali tanda-tanda peringatan
Walaupun "cuma" influenza, tetapi orang tua maupun pengasuh perlu mengenali perubahan pada kondisi anak. Prof. Anggraini memberikan beberapa tanda bahaya yang menurutnya memerlukan penanganan segera.
“Segera ke IGD kalau anak sulit dibangunkan, atau anak gelisah tidak seperti biasa. Ada kejang, ada napas cepat, tampak kebiruan, atau ada bleeding, juga jika 6 jam anak belum kencing,” jelasnya.
Untuk komplikasi neurologis, orang tua harus segera mencari pertolongan medis apabila anak dengan demam atau gejala pernapasan mengalami kejang, halusinasi, atau perubahan tingkat kesadaran.
Anak yang sangat sulit dibangunkan, tidak berinteraksi seperti biasanya, tampak kebingungan, atau menunjukkan perubahan perilaku yang mencolok juga membutuhkan perhatian.
5. Bisa terjadi pada anak yang sebelumnya sehat
Anak dengan riwayat gangguan neurologis memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza berat dan komplikasinya. Kondisi seperti epilepsi, cerebral palsy, gangguan perkembangan, penyakit neuromuskular, dan sejumlah gangguan otak atau sumsum tulang belakang dikategorikan sebagai kelompok yang berisiko lebih tinggi.
Namun, komplikasi neurologis tidak hanya ditemukan pada anak dengan penyakit sebelumnya.
Dalam laporan CDC pada musim influenza tahun 2024–2025, sekitar 55 persen anak dengan IAE sebelumnya sehat dan tidak memiliki kondisi medis yang mendasari. Karena itu, tidak adanya penyakit penyerta tidak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan komplikasi.
Walaupun demikian, risiko absolut komplikasi otak tetap sangat kecil dibandingkan dengan besarnya jumlah infeksi influenza pada anak. Yang terpenting adalah mengetahui perubahan apa yang tidak boleh dianggap sebagai influenza biasa.
Anak dengan influenza yang tiba-tiba mengalami kejang, sulit dibangunkan, kebingungan, perubahan perilaku atau kesadaran, maupun kondisi yang memburuk cepat perlu segera mendapat penilaian medis.
Referensi
Philip N. Britton et al., “Spectrum and Burden of Influenza-Associated Neurological Disease in Children: Combined Encephalitis and Influenza Sentinel Site Surveillance From Australia, 2013–2015,” Clinical Infectious Diseases 65, no. 4 (2017): 653–60.
Jeffrey W. Sellers et al., “Characteristics and Outcomes of Influenza-Associated Encephalopathy Cases Among Children and Adults in Japan, 2010–2015,” Clinical Infectious Diseases 68, no. 11 (2019): 1831–37.
Amara Fazal et al., “Pediatric Influenza-Associated Encephalopathy and Acute Necrotizing Encephalopathy—United States, 2024–25 Influenza Season,” Morbidity and Mortality Weekly Report 74, no. 36 (2025): 556–64.
Kevin K. C. Robinson and Craig Frankel, “Neurologic Manifestations of Influenza in Children,” Canadian Journal of Hospital Pharmacy 73, no. 3 (2020): 209–12.
American Academy of Pediatrics, Subcommittee on Febrile Seizures, “Febrile Seizures: Guideline for the Neurodiagnostic Evaluation of the Child With a Simple Febrile Seizure,” Pediatrics 127, no. 2 (2011): 389–94.
Anggraini Alam, “Influenza pada Anak: Risiko, Gejala, Penularan, dan Pencegahannya (PDF)," diakses September 2026.








![[QUIZ] Dari Karaktermu saat Stres, Ini Tipe Stress Language Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)











