Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak Sakit Influenza, Berapa Hari Sebaiknya Tidak Sekolah?

4 min read
Anak Sakit Influenza, Berapa Hari Sebaiknya Tidak Sekolah?
ilustrasi anak sakit influenza (magnific.com/magnific)
  • Anak dapat menularkan virus influenza lebih lama dibandingkan orang dewasa, terutama anak yang lebih kecil.

  • Anak tidak otomatis harus absen sekolah selama 10 hari. Kondisi tubuh dan perkembangan gejala perlu menjadi pertimbangan.

  • Anak sebaiknya sudah bebas demam setidaknya 24 jam tanpa obat penurun demam, gejalanya membaik, dan cukup bugar untuk mengikuti kegiatan sekolah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Beberapa hari setelah sakit influenza atau flu, anak sering kali tampak lebih sehat. Demam reda, nafsu makan kembali, dan cukup berenergi untuk bermain. Melihat anak seperti ini, orang tua atau pengasuh mungkin bertanya-tanya apakah anak sudah siap kembali ke sekolah.

Akan tetapi, gejala yang mereda atau pulih tidak selalu berarti risiko penularan sudah hilang. Virus influenza masih bisa dikeluarkan dari tubuh meskipun anak terlihat membaik. Bahkan, dibandingkan orang dewasa, anak-anak dapat menularkan influenza dalam waktu yang lebih lama.

Jadi, keputusan untuk kembali ke sekolah sebaiknya tidak cuma berdasarkan dari kondisi yang terlihat. Lalu, kapan waktu yang tepat bagi anak yang sakit flu untuk masuk sekolah lagi?

  1. 1. Anak bisa menularkan influenza hingga sekitar 10 hari

    Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT, dari UKK Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa penularan influenza bahkan sudah dapat terjadi sebelum seseorang menyadari dirinya sakit.

    “Orang dengan influenza umumnya paling mudah menularkan virus sejak sekitar satu hari sebelum gejala muncul hingga beberapa hari setelahnya. Risiko penularan biasanya mulai menurun sekitar lima hari setelah timbul gejala. Namun, pada anak-anak, masa penularan dapat berlangsung lebih lama, bahkan hingga sekitar 10 hari,” jelas Prof. Anggraini dalam seminar media pada Jumat (18/9).

    Masa paling menular biasanya terjadi pada tiga hari pertama. Namun, anak kecil dan orang dengan sistem imun yang lemah dapat menularkan virus lebih lama.

    Penelitian menunjukkan bahwa anak, terutama yang berusia di bawah 5 tahun, cenderung melepaskan virus influenza lebih lama dibandingkan orang dewasa. Selain itu, kelompok usia ini juga memiliki tingkat pelepasan virus yang lebih tinggi, sehingga berpotensi menularkan influenza dalam periode yang lebih panjang.

  2. 2. Apakah anak berarti harus absen selama 10 hari?

    Angka 10 hari menunjukkan bahwa pada sebagian anak, pelepasan virus dapat berlangsung lebih lama. Keputusan untuk kembali ke sekolah juga perlu melihat kondisi klinis anak, bukan cuma menghitung hari sejak gejala pertama muncul.

    Prof. Anggraini memberi patokan praktis.

    “Bila anak masih demam, lemas, atau batuk berat, sebaiknya tidak kembali ke sekolah dulu,” ujarnya.

    Anak umumnya bisa kembali ke sekolah ketika sudah tidak demam selama setidaknya 24 jam tanpa menggunakan obat penurun demam, gejala infeksi pernapasan secara keseluruhan sudah membaik setidaknya selama 24 jam, serta kondisi tubuhnya cukup baik untuk mengikuti kegiatan sekolah.

  3. 3. Jangan cuma fokus pada demam

    Sejumlah anak duduk di meja kelas sambil belajar bersama menggunakan buku dan alat tulis di lingkungan sekolah.
    ilustrasi anak-anak belajar di kelas di sekolah (pexels.com/Ron Lach)

    Saat anak sakit, Prof. Anggraini meminta orang tua memperhatikan aktivitas, asupan cairan, dan pengeluaran cairan tubuh, termasuk buang air kecil.

    Misalnya, ketika demam turun, perhatikan apakah anak kembali berceloteh dan beraktivitas seperti biasanya. Orang tua juga perlu melihat apakah anak masih mau minum dan tetap buang air kecil.

    Untuk mengetahui kesiapan anak kembali ke sekolah, anak seharusnya sudah cukup sehat untuk mengikuti kegiatan, tidak terlalu kelelahan, serta mampu menangani batuk atau hidung tersumbat yang kondisinya terus membaik.

    Singkatnya, anak yang demamnya sudah hilang tetapi masih sangat lemas atau mengalami batuk berat belum tentu siap kembali ke kelas.

  4. 4. Sudah kembali ke sekolah bukan berarti risiko penularan nol

    Studi tentang viral shedding biasanya menggunakan pemeriksaan molekuler seperti RT-PCR untuk melihat keberadaan materi virus. Namun, terdeteksinya materi genetik virus tidak selalu dapat disamakan secara langsung dengan kemampuan seseorang menularkan virus hidup kepada orang lain. Penularan juga berubah sepanjang perjalanan penyakit dan cenderung lebih tinggi pada awal sakit.

    Itulah sebabnya rekomendasi kembali ke sekolah lebih sering menggunakan perkembangan gejala dan kemampuan anak menjalankan aktivitas normal.

    Meski sudah kembali sekolah, kebiasaan untuk melindungi diri dan mengurangi penularan tetap penting. Ajarkan anak mengenai etika batuk dan bersin, mencuci tangan, pakai masker ketika diperlukan, membersihkan benda-benda yang sering disentuh, serta memperbaiki ventilasi ruangan.

    Referensi

    Centers for Disease Control and Prevention, “How Flu Spreads,” September 17, 2024, diakses September 2026.

    Sophia Ng et al., “The Timeline of Influenza Virus Shedding in Children and Adults in a Household Transmission Study of Influenza in Managua, Nicaragua,” Pediatric Infectious Disease Journal 35, no. 5 (2016): 583–86, https://doi.org/10.1097/INF.0000000000001083.

    Sinead E. Morris et al., “Influenza Virus Shedding and Symptoms: Dynamics and Implications from a Multiseason Household Transmission Study,” PNAS Nexus 3, no. 9 (2024): pgae338, https://doi.org/10.1093/pnasnexus/pgae338.

    Centers for Disease Control and Prevention, “When Students or Staff Are Sick,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More