"Smallpox." World Health Organization (WHO). Diakses Januari 2026.
"Ebola disease." WHO. Diakses Januari 2026.
"Rabies." WHO. Diakses Januari 2026.
"Global HIV & AIDS statistics — Fact sheet." UNAIDS. Diakses Januari 2026.
"Pandemic Flu." Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Januari 2026.
"Coronavirus disease (COVID-19) pandemic." WHO. Diakses Januari 2026.
"Marburg virus disease." WHO. Diakses Januari 2026.
"Nipah virus." WHO. Diakses Januari 2026.
"Lassa fever." WHO. Diakses Januari 2026.
"Hantavirus." CDC. Diakses Januari 2026.
Dari Cacar hingga Ebola: 10 Virus Paling Berbahaya di Dunia

- Virus menjadi mematikan karena kombinasi daya tular, tingkat fatalitas, dan ketiadaan obat spesifik.
- Sejumlah virus telah membunuh jutaan orang sepanjang sejarah, sebagian masih menjadi ancaman hingga kini.
- Surveilans, vaksin, dan respons kesehatan publik terbukti mampu menekan dampak virus paling berbahaya.
Sepanjang sejarah manusia, virus menjadi salah satu penyebab kematian terbesar, sering kali datang tanpa peringatan dan menyebar melampaui batas geografis, sosial, dan ekonomi.
Tidak seperti bakteri, virus bergantung pada sel hidup untuk berkembang biak. Saat berhasil menginfeksi, sebagian virus mampu melumpuhkan sistem imun, merusak organ vital, atau memicu respons peradangan yang justru memperparah kondisi pasien.
Virus menjadi sangat berbahaya ketika memiliki tingkat penularan tinggi, fatalitas besar, dan tidak tersedia pengobatan atau vaksin yang efektif. Faktor lain seperti mutasi cepat, reservoir hewan, dan keterlambatan deteksi turut memperbesar ancamannya. Dari pandemi global hingga wabah lokal mematikan, sejarah kesehatan manusia dipenuhi pelajaran mahal tentang betapa dahsyatnya patogen mikroskopis ini.
Berikut ini 10 virus paling berbahaya berdasarkan jumlah korban, tingkat fatalitas, dan dampaknya terhadap kesehatan global hingga saat ini.
Table of Content
1. Variola (cacar/smallpox)

Virus variola adalah salah satu virus paling mematikan dalam sejarah manusia. Sebelum berhasil diberantas pada tahun 1980, cacar diperkirakan telah membunuh lebih dari 300 juta orang hanya pada abad ke-20.
Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi, ruam bernanah, dan komplikasi serius yang sering berujung kematian.
Tingkat fatalitas cacar berkisar 30 persen, bahkan lebih tinggi pada beberapa variannya. Mereka yang selamat sering mengalami cacat permanen, seperti kebutaan atau jaringan parut berat. Cacar menyebar terutama melalui droplet pernapasan dan kontak langsung, menjadikannya sangat mudah menular di komunitas padat.
Keberhasilan eradikasi cacar melalui vaksinasi global menjadi tonggak terbesar kesehatan publik dunia. Namun, virus ini tetap dianggap ancaman biosafety karena hanya disimpan di dua laboratorium resmi dunia dan berpotensi disalahgunakan.
2. Ebola

Ebola dikenal sebagai simbol wabah mematikan modern. Virus ini menyebabkan penyakit demam berdarah akut dengan tingkat fatalitas 25–90 persen, tergantung strain dan kualitas perawatan.
Ebola menyerang sistem imun dan pembuluh darah, menyebabkan perdarahan internal, kegagalan organ, dan syok.
Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh pasien, termasuk jenazah, yang membuat wabah sering memburuk di area dengan sistem kesehatan terbatas.
Meski vaksin Ebola telah tersedia, tetapi wabah masih terus terjadi di Afrika. Tingginya fatalitas, stigma sosial, dan keterbatasan fasilitas kesehatan menjadikan Ebola tetap sebagai salah satu virus paling ditakuti.
3. Rabies

Rabies adalah virus yang hampir 100 persen fatal setelah gejala klinis muncul. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan hewan yang terinfeksi, terutama anjing, dan menyerang sistem saraf pusat.
Yang membuat rabies sangat berbahaya adalah fase inkubasi yang panjang dan tampak jinak. Saat gejala muncul—seperti hidrofobia, delirium, dan kelumpuhan—penyakit hampir selalu berujung kematian.
Setiap tahun, rabies masih menyebabkan sekitar 59.000 kematian, sebagian besar di Asia dan Afrika. Kematian ini sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi hewan dan profilaksis pascapajanan pada manusia.
4. Human immunodeficiency virus (HIV)

HIV telah membunuh lebih dari 40 juta orang sejak pertama kali dikenali. Virus ini menyerang sel CD4 sistem imun, membuat tubuh rentan terhadap infeksi dan kanker oportunistik.
Tanpa pengobatan, HIV berkembang menjadi AIDS dan secara perlahan melemahkan tubuh hingga dapat berujung fatal. Tidak seperti virus akut, HIV membunuh secara perlahan, sering kali selama bertahun-tahun.
Meski terapi antiretroviral telah mengubah HIV menjadi penyakit kronis yang dapat dikendalikan, tetapi belum adanya vaksin atau obat yang menyembuhkan menjadikan HIV tetap sebagai ancaman global besar.
5. Influenza (pandemi flu)

Influenza tampak umum, tetapi beberapa strain diketahui mematikan. Pandemi flu Spanyol 1918 diperkirakan membunuh 50 juta orang di seluruh dunia.
Virus influenza berbahaya karena kemampuan mutasi dan reassortment genetiknya (dua strain influenza berbeda menginfeksi sel yang sama lalu bertukar segmen genetik; hasilnya muncul virus baru dengan kombinasi gen unik, yang bisa membuatnya lebih berbahaya atau sulit dikenali sistem imun). Strain baru dapat muncul tiba-tiba dan menyebar cepat sebelum sistem kesehatan siap merespons.
Hingga kini, influenza tetap menjadi ancaman pandemi global, terutama bagi lansia, anak-anak, dan individu dengan penyakit kronis.
6. SARS-CoV-2

SARS-CoV-2 menyebabkan pandemi COVID-19 yang telah menewaskan jutaan orang secara global. Virus ini menyebar sangat cepat melalui udara dan droplet, dengan spektrum gejala luas dari ringan hingga fatal.
Bahaya utama SARS-CoV-2 terletak pada kombinasi penularan tinggi, mutasi cepat, dan beban sistem kesehatan. Lonjakan kasus dalam waktu singkat terbukti mematikan.
Pandemi ini mengingatkan dunia bahwa virus baru dapat mengubah kehidupan global hanya dalam hitungan minggu.
7. Marburg

Marburg adalah kerabat dekat Ebola dengan tingkat fatalitas hingga 88 persen. Virus ini menyebabkan demam berdarah berat dan kegagalan organ.
Penularannya mirip Ebola, melalui kontak cairan tubuh, dan sering dikaitkan dengan paparan kelelawar gua. Wabahnya jarang, tetapi jika terjadi bisa sangat mematikan.
Karena belum ada pengobatan spesifik, Marburg masuk kategori patogen prioritas WHO.
8. Nipah

Nipah adalah virus zoonotik dengan fatalitas 40–75 persen. Penyakit ini dapat menyebabkan ensefalitis akut dan gangguan pernapasan berat.
Yang membuat Nipah berbahaya adalah reservoir alaminya (kelelawar buah) dan potensi penularan antarmanusia. Wabah telah terjadi di Asia Selatan dan Tenggara.
WHO menempatkan Nipah sebagai salah satu virus dengan potensi pandemi tinggi.
9. Lassa

Virus Lassa endemik di Afrika Barat dan menyebabkan ribuan kematian setiap tahun. Tingkat fatalitas bisa mencapai 15–20 persen pada kasus berat.
Penularan terjadi melalui kontak dengan urin atau feses tikus, serta antarmanusia di fasilitas kesehatan. Banyak kasus tidak terdiagnosis karena gejala awal menyerupai flu.
Kurangnya vaksin membuat Lassa tetap menjadi ancaman kesehatan regional serius.
10. Hantavirus

Hantavirus menyebabkan sindrom paru atau demam berdarah ginjal dengan fatalitas tinggi. Virus ini ditularkan melalui aerosol dari kotoran tikus terinfeksi.
Infeksi dapat berkembang cepat menjadi gagal napas akut. Wabah sering muncul tiba-tiba dan sulit diprediksi.
Meski kasusnya relatif jarang, tingkat keparahan menjadikan Hantavirus sangat berbahaya.
Daftar ini menunjukkan bahwa virus paling mematikan tidak selalu yang paling sering muncul di berita, tetapi yang memiliki kombinasi fatalitas tinggi, penularan efektif, dan keterbatasan pengobatan. Sejarah membuktikan bahwa dampak virus bisa melampaui krisis kesehatan, memengaruhi ekonomi, sosial, dan psikologis masyarakat global.
Referensi

















