Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jenis Keracunan yang Bisa Menyebabkan Mulut Berbusa
ilustrasi seorang laki-laki kolaps diduga mengalami keracunan (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Mulut berbusa bukan penanda satu jenis racun. Busa dapat berasal dari air liur berlebih, kejang, cairan di saluran napas, atau produk berbusa yang tertelan.

  • Keracunan pestisida organofosfat atau karbamat merupakan penyebab yang paling khas, terutama jika disertai keringat berlebih, pupil mengecil, muntah, diare, dan sesak.

  • Orang yang tidak sadar, kejang, bernapas tidak normal, atau bibirnya membiru membutuhkan pertolongan darurat. Jangan memaksanya minum atau membuatnya muntah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau menemukan seseorang terbaring, napas berbunyi, dan busa keluar dari mulut, banyak orang langsung mengira itu adalah akibat dari keracunan. Orang yang menolong mungkin langsung mencari tahu racun apa yang tertelan.

Mulut berbusa tidak dapat digunakan untuk mengenali zat tertentu. Cairan tersebut dapat berupa air liur yang bercampur udara saat kejang, sekresi saluran napas yang sangat banyak, cairan dari paru-paru, atau sisa produk pembersih yang mudah menghasilkan busa.

Karena sebagian penyebabnya bisa menghentikan pernapasan dalam waktu singkat, prioritasnya adalah memastikan korban segera mendapat bantuan medis, bukan menebak-nebak apa penyebab keracunan.

1. Pestisida adalah penyebab yang paling khas

Keracunan insektisida golongan organofosfat atau karbamat merupakan salah satu kondisi yang paling sering dikaitkan dengan air liur dan cairan saluran napas berlebihan. Zat ini dapat ditemukan dalam sejumlah pestisida pertanian maupun pembasmi serangga.

Organofosfat dan karbamat menghambat kerja enzim kolinesterase. Akibatnya, asetilkolin (zat yang membawa sinyal pada saraf) menumpuk, membuat kelenjar tubuh bekerja secara berlebihan.

Korban dapat mengeluarkan banyak air liur, air mata, keringat, dan cairan dari saluran napas. Saat bercampur dengan udara, cairan tersebut bisa terlihat seperti busa di mulut.

Tanda lain yang perlu dicurigai meliputi:

  • Pupil mata sangat kecil.

  • Keringat dan air mata berlebihan.

  • Mual, muntah, kram perut, atau diare.

  • Sesak, mengi, dan suara napas basah.

  • Otot berkedut atau terasa sangat lemah.

  • Kebingungan, penurunan kesadaran, atau kejang.

Pada kasus berat, kematian dapat terjadi akibat gabungan cairan yang menyumbat saluran napas, penyempitan bronkus, kelemahan otot pernapasan, dan penekanan pusat pernapasan di otak.

Paparan tidak hanya terjadi setelah pestisida tertelan. Beberapa senyawa dapat diserap melalui kulit, mata, atau udara yang terkontaminasi.

Pakaian dan muntahan korban juga dapat mencemari orang yang menolongnya. Karena itu, jangan menyentuh cairan atau pakaian yang terkena pestisida dengan tangan kosong.

Di rumah sakit, keracunan organofosfat dapat ditangani dengan dukungan pernapasan serta antidot seperti atropin dan, pada kondisi yang sesuai, pralidoksim. Obat tersebut harus diberikan oleh tenaga medis.

2. Kejang, opioid, dan produk pembersih juga bisa memicu mulut berbusa

ilustrasi penanganan pasien keracunan di rumah sakit (unsplash.com/OlgaKononenko)

  • Keracunan obat atau zat yang menyebabkan kejang

Pada orang yang mengalami kejang tonik-klonik, ia tidak mampu menelan air liur secara normal. Gerakan rahang dan aliran udara kemudian membuat air liur tampak berbusa.

Berbagai overdosis dapat menimbulkan kejang, termasuk obat antidepresan tertentu, obat perangsang, antihistamin, bupropion, tramadol, venlafaksin, isoniazid, dan teofilin.

Sebuah tinjauan toksikologi memperkirakan obat atau racun bertanggung jawab atas hingga 9 persen kasus status epilepticus, yaitu kejang berkepanjangan atau berulang tanpa pemulihan penuh.

Busa yang muncul saat kejang tidak dapat menunjukkan obat mana yang dikonsumsi. Petunjuk terpenting adalah riwayat paparan, kemasan obat yang ditemukan, kondisi korban, serta pemeriksaan di rumah sakit.

  • Overdosis opioid

Pada overdosis opioid, tanda utama biasanya bukan mulut berbusa, melainkan korban sulit dibangunkan, tubuh lemas, napas sangat lambat atau berhenti, bibir membiru, dan pupil mengecil. Suara mendengkur atau gemericik sering disalahartikan sebagai tidur biasa.

Dalam kasus berat, cairan berbusa bisa keluar dari mulut akibat sekresi di saluran napas atau edema paru nonkardiogenik, yaitu penumpukan cairan di paru-paru yang jarang, tetapi serius.

Nalokson dapat membalikkan penekanan napas akibat opioid. Apabila nalokson tersedia dan penolong telah memahami cara menggunakannya, obat tersebut dapat diberikan sambil tetap menghubungi layanan darurat. Efeknya bisa lebih singkat daripada opioid sehingga korban tetap harus dibawa ke rumah sakit.

  • Detergen dan produk pembersih

Produk yang mengandung surfaktan, seperti sabun atau detergen, dapat menghasilkan gelembung di mulut setelah tertelan. Pada paparan kecil terhadap sabun biasa, gejalanya sering terbatas pada iritasi mulut, mual, muntah, atau diare ringan.

Namun, detergen pekat, terutama produk untuk mesin pencuci piring atau pembersih industri, dapat menyebabkan luka bakar pada mulut dan tenggorokan. Busa atau muntahan juga dapat masuk ke saluran napas dan memicu batuk, mengi, nyeri dada, atau sesak.

Banyaknya busa tidak selalu sebanding dengan beratnya keracunan. Sedikit busa dapat berasal dari produk yang mudah berbuih, sedangkan keracunan yang sangat berat mungkin tidak menghasilkan busa sama sekali.

3. Apa yang harus dilakukan?

Mulut berbusa disertai penurunan kesadaran atau gangguan napas harus dianggap sebagai kondisi darurat medis. Kamu bisa menghubungi 119. Sambil menunggu bantuan:

  • Jauhkan korban dari sumber paparan apabila aman. Jika zat terhirup, pindahkan ke udara segar tanpa memasuki area berbahaya.

  • Periksa respons dan pernapasannya. Jika korban tidak bernapas, ikuti petunjuk petugas darurat dan lakukan resusitasi jika terlatih.

  • Jika korban kejang, miringkan tubuhnya. Singkirkan benda keras, beri alas lembut di bawah kepala, longgarkan pakaian di leher, dan catat durasi kejang.

  • Jangan menahan gerakannya atau memasukkan apa pun ke mulut. Benda di mulut dapat menyebabkan cedera dan menyumbat napas.

  • Jangan memaksa korban minum atau membuatnya muntah. Ini sangat berbahaya apabila korban mengantuk, kejang, sulit menelan, atau keracunannya melibatkan cairan berbusa maupun bahan korosif.

  • Jika pestisida mengenai pakaian atau kulit, lindungi diri. Pakai sarung tangan, lepaskan pakaian yang terkontaminasi, lalu bilas kulit dengan banyak air. Hindari menyentuh cairan tubuh korban dengan tangan kosong.

  • Bawa kemasan atau foto label produk. Catat nama zat, perkiraan jumlah, waktu paparan, dan jalur paparan. Jangan menunda keberangkatan hanya untuk mencari kemasan.

Untuk orang yang sepenuhnya sadar setelah menelan sedikit sabun atau detergen, mulut dapat dibilas dengan air. Namun, tindakan selanjutnya tetap perlu mengikuti petunjuk pada label atau tenaga medis karena komposisi dan tingkat kepekatan setiap produk berbeda.

Segera cari bantuan tanpa menunggu gejala membaik apabila korban sulit dibangunkan, mengalami kejang, bernapas lambat atau tersengal, mengeluarkan suara gemericik, bibirnya membiru, atau diduga terpapar pestisida. Beberapa pestisida organofosfat dapat menimbulkan gejala yang tertunda hingga beberapa jam.

Mulut berbusa memang dapat menjadi tanda keracunan, tetapi tidak memberi tahu zat penyebabnya. Informasi terpenting adalah apa yang mungkin terpapar, kapan kejadiannya, bagaimana kondisi pernapasan korban, dan seberapa cepat pertolongan medis diberikan.

Referensi

Agency for Toxic Substances and Disease Registry, “Parathion: Medical Management Guidelines,” Centers for Disease Control and Prevention, diakses Juli 2026.

Michael Eddleston, Nick A. Buckley, Peter Eyer, and Andrew H. Dawson, “Management of Acute Organophosphorus Pesticide Poisoning,” The Lancet 371, no. 9612 (2008): 597–607, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(07)61202-1.

Hsien-Yi Chen, Timothy E. Albertson, and Kent R. Olson, “Treatment of Drug-Induced Seizures,” British Journal of Clinical Pharmacology 81, no. 3 (2016): 412–19, https://doi.org/10.1111/bcp.12720.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI, “Kenali Tanda Keracunan Obat Nyeri Opioid dan Penanganannya,” diakses Juli 2026.

Yazan Hegazy et al., “Heroin-Induced Non-cardiogenic Pulmonary Edema: A Rare but Serious Complication,” Cureus 17, no. 3 (2025): e81548, https://doi.org/10.7759/cureus.81548.

National Capital Poison Center, “My Child Swallowed Dishwashing Detergent,” diakses Juli 2026.

Kemenkes RI, “Akses Darurat Medis 119 Kini Bisa Melalui SATUSEHAT Mobile,” diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “First Aid for Seizures,” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article