Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Makanan yang Berbau Normal Tetap Bisa Picu Keracunan?

Kenapa Makanan yang Berbau Normal Tetap Bisa Picu Keracunan?
ilustrasi makanan (pexels.com/Meruyert Gonullu)
  • Makanan dapat terlihat, terasa, dan berbau normal meski terkontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella, yang berbeda dari bakteri pembusuk penyebab bau atau tekstur berubah.
  • Racun yang dihasilkan Staphylococcus aureus dapat bertahan setelah makanan dipanaskan; pemanasan ulang tidak selalu membuat makanan yang lama dibiarkan pada suhu tidak aman kembali layak.
  • Keamanan makanan lebih ditentukan oleh waktu dan suhu penyimpanan, kebersihan pengolahan, pemisahan bahan mentah-matang, serta kematangan; makanan mudah rusak jangan dibiarkan di suhu ruang terlalu lama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makanan yang sudah tidak layak makan biasanya mudah dikenali dari baunya yang asam, rasa berubah, warna berbeda, atau teksturnya yang mulai berlendir. Namun, makanan yang masih terlihat segar dan berbau normal belum tentu aman dimakan. Ada jenis kuman penyebab penyakit yang bisa berada di dalam makanan tanpa membuat perubahan yang bisa dikenali oleh hidung atau lidah.

Itulah sebabnya mencium makanan sebelum dimakan tidak cukup untuk memastikan makanan tersebut aman. Makanan yang terkontaminasi bakteri atau kuman bisa tetap terlihat, terasa, dan berbau normal. Lalu, kenapa makanan yang kelihatannya baik-baik saja tetap bisa bikin keracunan?

  1. 1. Bakteri penyebab penyakit tidak selalu membuat makanan jadi basi

    ilustrasi makanan
    ilustrasi makanan (pexels.com/rangga ispraditya)

    Bakteri yang membuat makanan berubah bau dan rasa tidak selalu sama dengan bakteri yang menyebabkan penyakit. Bakteri pembusuk bisa membuat makanan menjadi asam, berlendir, berubah warna, atau mengeluarkan bau menyengat. Sebaliknya, bakteri patogen atau bakteri penyebab penyakit dapat berada di makanan tanpa membuat perubahan yang bisa dilihat atau dicium manusia.

    Salmonella, misalnya, merupakan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan. Bakteri ini bisa mencemari ayam, daging, telur, buah, dan sayuran, sementara makanannya tetap terlihat normal. Kalau makanan tersebut sudah lama berada di suhu yang tidak aman atau penanganannya kurang bersih, waktu penyimpanan dan cara pengolahannya perlu diperiksa meskipun tidak ada perubahan bau atau rasa.

  2. 2. Racun dari bakteri bisa tetap ada meski makanannya dipanaskan

    ilustrasi memanaskan makanan
    ilustrasi memanaskan makanan (vecteezy.com/ikarahma)

    Beberapa jenis bakteri bisa menghasilkan racun di dalam makanan sebelum makanan tersebut dimakan. Staphylococcus aureus adalah bakteri yang dapat ditemukan pada kulit dan hidung manusia, kemudian berpindah ke makanan saat makanan disentuh atau diolah. Bakteri ini dapat menghasilkan racun pada makanan yang dibiarkan dalam kondisi yang mendukung pertumbuhannya, termasuk makanan seperti daging irisan, sandwich, puding, dan kue.

    Masalahnya, racun tersebut dapat bertahan terhadap panas. Memasak atau memanaskan kembali makanan bisa membunuh bakterinya, tetapi tidak selalu menghancurkan racun yang sudah terbentuk. Jadi, makanan yang sudah lama dibiarkan di suhu yang tidak aman sebaiknya tidak diselamatkan hanya dengan cara dipanaskan kembali.

  3. 3. Cara penyimpanan lebih bisa dijadikan patokan

    ilustrasi menyimpan makanan
    ilustrasi menyimpan makanan (vecteezy.com/condrea.dragos8874)

    Kalau makanan masih berbau normal tetapi sudah lama berada di luar kulkas, waktu dan suhu penyimpanannya lebih penting untuk diperiksa. Makanan matang yang mudah rusak sebaiknya segera dimasukkan ke kulkas setelah selesai dimakan atau disiapkan untuk disimpan. makanan yang mudah rusak tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam, atau satu jam jika suhu lingkungan berada di atas 32 derajat Celsius.

    Cara memasaknya juga perlu diperhatikan, terutama untuk ayam, daging, telur, dan makanan laut. Gunakan peralatan yang bersih, pisahkan bahan mentah dari makanan matang, lalu masak makanan sampai mencapai tingkat kematangan yang sesuai. Kalau makanan sudah disimpan terlalu lama atau kamu tidak tahu bagaimana makanan tersebut ditangani sebelumnya, membuangnya lebih aman daripada mencoba mencicipinya sedikit untuk memastikan rasanya.

    Makanan yang aman bukan ditentukan dari aromanya saja. Waktu makanan berada di suhu ruang, cara penyimpanan, kebersihan saat mengolah, serta tingkat kematangannya memberikan petunjuk yang jauh lebih berguna saat menentukan apakah makanan masih layak dimakan. Kebiasaan mengecek hal-hal tersebut bisa membantu mengurangi risiko keracunan meskipun makanan tidak menunjukkan tanda-tanda basi.

    Referensi

    "Debunking the Myth: Why Look, Smell, and Taste Aren’t Enough for Food Safety." FCS. Diakses pada September 2026.

    "Food Safety Myths." Washington State Department of Health. Diakses pada September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More