Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Bisul Bisa Muncul Berulang Kali?
ilustrasi bisul di tangan (freepik.com/freepik
  • Sebagian besar bisul disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus yang masuk ke folikel rambut atau kelenjar minyak.

  • Bisul yang sering kambuh dapat dipicu oleh faktor tertentu, seperti kebersihan kulit yang kurang, diabetes, sistem imun yang lemah, atau kolonisasi bakteri di kulit dan hidung.

  • Penanganan yang tidak tuntas dan kebiasaan memencet bisul juga dapat menyebabkan infeksi berulang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bisul sering dianggap sebagai infeksi kulit yang tidak berbahaya, yang akhirnya pecah atau mengering, lalu sembuh. Namun pada sebagian orang, bisul tidak cuma muncul sekali. Setelah sembuh, beberapa waktu kemudian bisul bisa muncul lagi di area tubuh yang sama atau di bagian tubuh lain. Ini membuat orang bertanya-tanya, kenapa bisul bisa kambuh?

Bisul atau furunkel adalah infeksi bakteri pada folikel rambut yang menyebabkan peradangan pada kulit dan jaringan di sekitarnya. Sebagian besar kasus bisul disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, mikroorganisme yang sebenarnya sering hidup di kulit atau di dalam hidung tanpa menimbulkan masalah.

Namun dalam kondisi tertentu, bakteri ini dapat masuk ke dalam kulit melalui luka kecil atau gesekan. Ketika sistem pertahanan tubuh tidak mampu mengendalikannya dengan cepat, infeksi dapat terjadi dan membentuk bisul.

Apa yang terjadi saat bisul terbentuk?

Bisul terbentuk ketika bakteri menginfeksi folikel rambut atau kelenjar minyak. Tubuh merespons infeksi ini dengan mengirimkan sel imun untuk melawan bakteri.

Proses peradangan tersebut menyebabkan:

  • Kemerahan pada kulit.

  • Pembengkakan.

  • Nyeri.

  • Terbentuknya nanah.

S. aureus memiliki kemampuan untuk menembus jaringan kulit dan menghindari respons imun, sehingga infeksi dapat berkembang menjadi abses yang berisi nanah. Jika infeksi tidak sepenuhnya hilang atau bakteri tetap berada di kulit, bisul dapat muncul kembali.

Selain itu, inilah beberapa alasan kenapa bisul bisa muncul berulang kali.

1. Kolonisasi bakteri di kulit atau hidung

Sebagian orang membawa bakteri S. aureus di kulit atau di dalam hidung tanpa mengalami gejala apa pun. Kondisi ini disebut kolonisasi bakteri.

Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20–30 persen populasi membawa S. aureus secara permanen di rongga hidung. Bakteri ini dapat dengan mudah berpindah ke kulit dan menyebabkan infeksi berulang.

2. Sistem imun yang melemah

ilustrasi bisul (© DermNet)

Sistem kekebalan tubuh yang lemah membuat tubuh lebih sulit melawan infeksi bakteri.

Kondisi seperti diabetes, HIV, malnutrisi, atau penggunaan obat imunosupresif dapat meningkatkan risiko infeksi kulit berulang.

Pada orang dengan sistem imun yang lemah, bakteri lebih mudah berkembang dan menyebabkan bisul.

3. Diabetes

Diabetes merupakan salah satu faktor risiko penting untuk infeksi kulit berulang.

Kadar gula darah yang tinggi dapat mengganggu fungsi sistem imun dan mempermudah pertumbuhan bakteri. Menurut studi, orang dengan diabetes lebih rentan mengalami infeksi kulit, termasuk bisul dan abses.

4. Kurang menjaga kebersihan kulit

Keringat, kotoran, dan minyak pada kulit dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri.

Menjaga kebersihan kulit dengan mandi secara teratur dan mengganti pakaian bersih dapat membantu mengurangi risiko infeksi kulit bakteri.

5. Gesekan pada kulit

ilustrasi bisul atau furunkel (commons.wikimedia.org/El Pantera)

Bisul sering muncul di area yang mengalami banyak gesekan, seperti:

  • Ketiak.

  • Paha.

  • Bokong.

  • Leher.

Gesekan dapat menyebabkan iritasi kecil pada kulit yang memudahkan bakteri masuk ke dalam folikel rambut.

6. Kebiasaan memencet atau menggaruk bisul

Memencet bisul mungkin terasa menggoda, tetapi tindakan ini dapat memperburuk infeksi.

Memencet bisul dapat mendorong bakteri masuk lebih dalam ke jaringan kulit dan bahkan menyebarkannya ke area lain. Akibatnya, infeksi dapat menjadi lebih luas atau muncul kembali setelah sembuh.

7. Kondisi kulit tertentu

Beberapa penyakit kulit juga dapat meningkatkan risiko bisul berulang.

Salah satunya adalah hidradenitis suppurativa, kondisi peradangan kronis pada kelenjar keringat yang menyebabkan benjolan mirip bisul di area lipatan tubuh. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai bisul karena gejalanya mirip.

Cara mengurangi risiko bisul berulang

ilustrasi bisul atau furunkel (commons.wikimedia.org/Mahdouch)

Beberapa langkah yang dapat membantu mencegah bisul kambuh antara lain:

  • Menjaga kebersihan kulit dengan mandi secara teratur.

  • Tidak berbagi handuk atau pakaian.

  • Menghindari memencet bisul.

  • Mencuci tangan secara rutin.

  • Mengontrol penyakit kronis seperti diabetes.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan antibiotik atau melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah seseorang membawa bakteri S. aureus secara kronis.

Bisul yang muncul berulang kali sering menandakan bakteri penyebab infeksi masih berada di kulit atau tubuh. Kolonisasi bakteri, sistem imun yang lemah, diabetes, hingga kebiasaan memencet bisul dapat meningkatkan risiko infeksi berulang.

Memahami penyebabnya penting untuk mencegah bisul kambuh. Dengan menjaga kebersihan kulit, menghindari kebiasaan yang memperburuk infeksi, serta mengontrol kondisi kesehatan yang mendasarinya, risiko bisul berulang dapat diminimalkan.

Jika bisul muncul terus-menerus atau disertai gejala yang berat, temui dokter untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.

Referensi

Mayo Clinic. “Boils and Carbuncles.” Diakses Maret 2026.

Tong, Steven Y. C., Joshua S. Davis, Emily Eichenberger, Thomas L. Holland, and Vance G. Fowler. “Staphylococcus Aureus Infections: Epidemiology, Pathophysiology, Clinical Manifestations, and Management.” Clinical Microbiology Reviews 28, no. 3 (May 28, 2015): 603–61. https://doi.org/10.1128/cmr.00134-14.

J Kluytmans, A Van Belkum, and H Verbrugh, “Nasal Carriage of Staphylococcus Aureus: Epidemiology, Underlying Mechanisms, and Associated Risks,” Clinical Microbiology Reviews 10, no. 3 (July 1, 1997): 505–20, https://doi.org/10.1128/cmr.10.3.505.

National Institute of Allergy and Infectious Diseases. “Staphylococcal Infections.” Diakses Maret 2026.

L. M. a. J. Muller et al., “Increased Risk of Common Infections in Patients With Type 1 and Type 2 Diabetes Mellitus,” Clinical Infectious Diseases 41, no. 3 (July 6, 2005): 281–88, https://doi.org/10.1086/431587.

American Academy of Dermatology. “Boils: Diagnosis and Treatment.” Diakses Maret 2026.

Cleveland Clinic. “Boils and Carbuncles.” Diakses Maret 2026.

Gregor B. E. Jemec, “Hidradenitis Suppurativa,” Journal of Cutaneous Medicine and Surgery 7, no. 1 (January 1, 2003): 47–56, https://doi.org/10.1177/120347540300700109.

Editorial Team