Untuk keluarga, pasangan, maupun teman dari orang yang obesitas, hindari komentar yang menilai bentuk tubuh, membandingkan, menyindir, atau membuat orang merasa diawasi setiap makan.
Kalimat seperti “Kamu gemukan, diet dong” bisa diganti menjadi “Aku peduli dengan kesehatanmu. Kalau kamu butuh ditemani cek kesehatan atau mulai jalan kaki bareng, aku mau bantu.”
Para ahli menyarankan penggunaan bahasa yang mendahulukan orangnya, bukan melabeli seseorang dengan kondisi tubuhnya.
Misalnya, gunakan “orang dengan obesitas” alih-alih menjadikan obesitas sebagai identitas seseorang seperti "dia obesitas".
Dukungan yang sehat juga bisa berupa menemani kontrol ke dokter, memasak makanan lebih seimbang bersama, mengajak jalan santai tanpa target ambisius, membantu tidur lebih teratur, atau sekadar berhenti menjadikan tubuh sebagai bahan komentar.
Referensi
Rubino, Francesco, Rebecca M. Puhl, et al. “Joint International Consensus Statement for Ending Stigma of Obesity.” Nature Medicine 26 (2020): 485–497.
World Health Organization. “Obesity and Overweight.” Diakses Juli 2026.
Sutin, Angelina R., and Antonio Terracciano. “Perceived Weight Discrimination and Obesity.” PLOS ONE 8, no. 7 (2013): e70048.
Vartanian, Lenny R., and Alexis M. Porter. “Weight Stigma and Eating Behavior: A Review of the Literature.” Appetite 102 (2016): 3–14.
Tomiyama, A. Janet. “Weight Stigma Is Stressful: A Review of Evidence for the Cyclic Obesity/Weight-Based Stigma Model.” Appetite 82 (2014): 8–15.
Bevan, Nadia, Kerry S. O’Brien, Chung-Ying Lin, et al. “The Relationship between Weight Stigma, Physical Appearance Concerns, and Enjoyment and Tendency to Avoid Physical Activity and Sport.” International Journal of Environmental Research and Public Health 18, no. 19 (2021): 9957.
Obesity Evidence Hub. “Weight Stigma in Health Care.” Diakses Juli 2026.
Obesity Canada. “Weight Bias, Stigma & Discrimination.” Diakses Juli 2026.