Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Mood Lebih Sensitif saat Puasa?

Kenapa Mood Lebih Sensitif saat Puasa?
ilustrasi mood lebih sensitif (freepik.com/benzoix)
Intinya Sih
  • Puasa menyebabkan perubahan metabolik dan hormonal yang memengaruhi regulasi emosi, terutama karena otak kekurangan glukosa sebagai sumber energi utama selama jam-jam panjang tanpa asupan makanan.

  • Fluktuasi hormon stres seperti kortisol selama Ramadan dapat mengubah ritme sirkadian tubuh, membuat seseorang lebih mudah cemas, tegang, atau mengalami mood yang tidak stabil.

  • Sensitivitas mood saat puasa bersifat sementara; setelah tubuh beradaptasi dengan pola energi baru, suasana hati biasanya membaik jika didukung tidur cukup, hidrasi baik, dan pola makan seimbang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak orang merasa lebih mudah tersinggung, cepat lelah, atau lebih emosional saat berpuasa. Kamu termasuk? Ternyata, fenomena ini bukan sekadar persepsi subjektif.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa, terutama diurnal intermittent fasting (puasa intermiten yang terkait ritme siang‑malam) seperti Ramadan, memicu perubahan metabolik, hormonal, dan ritme sirkadian yang dapat memengaruhi regulasi emosi.

Untuk mengetahui lebih lanjut kenapa mood bisa lebih sensitif saat puasa, baca terus artikel ini, ya!

Table of Content

1. Otak kekurangan bahan bakar

1. Otak kekurangan bahan bakar

Otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Saat puasa berlangsung berjam-jam, cadangan glikogen hati menurun dan tubuh mulai beralih ke penggunaan asam lemak dan badan keton.

Penelitian menunjukkan bahwa perubahan metabolik ini dapat memengaruhi fungsi kognitif dan regulasi emosi, terutama pada fase awal puasa ketika tubuh belum sepenuhnya beradaptasi. Penurunan ketersediaan glukosa dikaitkan dengan:

  • Jadi lebih sulit menahan diri, misalnya cepat bereaksi tanpa berpikir panjang atau lebih susah mengendalikan emosi.
  • Jadi lebih mudah kesal, gampang tersinggung, atau cepat marah meskipun karena hal-hal kecil.
  • Sensitivitas emosional yang lebih tinggi.

Artinya, ketika energi terbatas, kapasitas otak untuk mengelola stres dan emosi juga bisa ikut menurun.

2. Perubahan hormon stres

Emosi yang meledak-ledak.
ilustrasi emosi yang meledak-ledak (pexels.com/Gustavo Fring)

Puasa Ramadan dapat mengubah pola ritme sirkadian hormon, terutama kortisol. Kortisol berfungsi untuk:

  • Mengatur respons stres.
  • Membantu mobilisasi energi.
  • Menjaga tekanan darah dan metabolisme.

Beberapa studi menunjukkan bahwa selama Ramadan terjadi perubahan distribusi sekresi kortisol harian, misalnya penurunan kadar pagi dan pergeseran ke malam hari akibat perubahan pola tidur dan makan.

Disrupsi ritme kortisol ini berpotensi menyebabkan:

  • Perasaan tegang.
  • Mudah cemas.
  • Mood lebih labil.

Walaupun perubahan ini tidak selalu patologis, tetapi fluktuasi hormonal tetap dapat memengaruhi stabilitas emosional.

3. Adaptasi hormon tubuh

Puasa bisa memicu perubahan di otak yang pada akhirnya justru bermanfaat, misalnya meningkatkan BDNF (faktor yang membantu otak tetap lentur dan mengatur emosi). Namun, efeknya tidak langsung: di awal puasa suasana hati sering kali lebih sensitif, karena tubuh sedang beralih dari sumber energi biasa ke mode lain. Setelah tubuh beradaptasi, banyak orang malah merasa lebih tenang dan lebih fokus.

Seberapa kuat perubahan mood itu berbeda‑beda pada setiap orang dan dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, kualitas tidur, serta apa dan kapan kamu makan saat sahur dan berbuka.

Mood yang lebih sensitif saat puasa biasanya muncul karena gabungan beberapa hal: ketersediaan energi otak yang menurun sementara, perubahan hormon stres seperti kortisol, fluktuasi insulin dan gula darah, serta gangguan ritme tidur. Kondisi ini bersifat fisiologis dan sementara. Dengan tidur cukup, makan seimbang saat sahur/berbuka, dan hidrasi yang baik, sensitivitas mood biasanya bisa dikurangi.

Referensi

Lone, Ayoob, Abdulaziz Shary Hadadi, Ahmed Khalid Alnawah, Alya Abdualrahman Alshammary, Razan Manei Almutairi, Sayed Ibrahim Ali, and Naushad Abid. “Exploring Mood and Anxiety Disturbances Across Ramadan: A Comparative Study of Saudi Medical Students Before, During, and After Fasting.” Frontiers in Psychology 16 (June 25, 2025): 1570557.

Poursalehian, Mohammad, Shahrzad Mohseni, Zhaleh Shadman, Mohammadreza Mohajeri-Tehrani, Rasha Atlasi, Mohsen Khoshniat Nikoo, Mostafa Qorbani, and Bagher Larijani. “Impact of Ramadan Fasting on Serum Levels of Major Endocrinology Hormonal and Biochemical Parameters in Healthy Non-athlete Adults: A Systematic Review and Meta-analyses.” PLoS ONE 19, no. 5 (May 23, 2024): e0299695.

"How Ramadan Fasting Affects Your Hormones The Impact of Fasting on Insulin Cortisol and Thyroid Hormones". Primacure Odoo. Diakses Februari 2026.

Alogaiel, Deema M., Abdulaziz Alsuwaylihi, May S. Alotaibi, Ian A. Macdonald, and Dileep N. Lobo. “Effects of Ramadan Intermittent Fasting on Hormones Regulating Appetite in Healthy Individuals: A Systematic Review and Meta-analysis.” Clinical Nutrition 45 (January 6, 2025): 250–61.

Erik M. Benau et al., “How Does Fasting Affect Cognition? An Updated Systematic Review (2013–2020),” Current Nutrition Reports 10, no. 4 (September 30, 2021): 376–90, https://doi.org/10.1007/s13668-021-00370-4.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More