Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Influenza A Lebih Sering Jadi Sorotan?

6 min read
Mengapa Influenza A Lebih Sering Jadi Sorotan?
ilustrasi virus influenza A (unsplash.com/CDC)
  • H1N1 dan H3N2 bukan penyakit yang sepenuhnya berbeda, melainkan subtipe influenza A yang dinamai berdasarkan dua protein pada permukaan virus.

  • Influenza A lebih disorot karena terus berevolusi, mempunyai reservoir pada berbagai hewan, dan dapat mengalami perubahan besar yang berpotensi memicu pandemi.

  • Komposisi vaksin influenza ditinjau dan diperbarui secara berkala agar tetap mendekati virus yang sedang atau diperkirakan akan beredar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

H1N1, H3N2, kemudian muncul istilah seperti subclade K. Bagi awam, deretan nama tersebut mudah memberi kesan bahwa dunia virus baru terus bermunculan. Padahal, sebagian sebenarnya menunjukkan "saudara" dari influenza A yang terus berevolusi.

Perubahan inilah yang membuat influenza A lebih sering menjadi perhatian dalam surveilans penyakit.

  1. 1. Memahami arti H1N1, H3N2, dan subclade pada influenza

    Influenza yang menyebabkan penyakit musiman pada manusia terutama berasal dari influenza A dan B. Saat ini, dua subtipe influenza A yang rutin bersirkulasi pada manusia adalah A(H1N1)pdm09 dan A(H3N2). Influenza B tidak dibagi menjadi subtipe H dan N seperti influenza A.

    Huruf H dan N berasal dari dua protein pada permukaan virus, yaitu hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA). Sederhananya, kombinasi keduanya menjadi salah satu cara ilmuwan mengelompokkan influenza A. Tercatat ada 18 variasi HA dan 11 variasi NA yang telah dikenali pada influenza A.

    Di bawah satu subtipe masih terdapat cabang yang lebih kecil lagi, yang disebut clade dan subclade. Jadi, munculnya nama seperti H3N2 subclade K tidak berarti H3N2 menjadi jenis influenza yang sama sekali berbeda.

    Subclade K diidentifikasi sebagai cabang dari A(H3N2) yang memiliki sejumlah perubahan pada gen hemagglutinin dan berbeda secara antigenik dari beberapa virus H3N2 yang sebelumnya bersirkulasi.

  2. 2. Kenapa influenza A lebih disorot?

    Dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. Anggraini Alam, dr., Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K), dari UKK Infeksi Penyakit Tropis IDAI, menjelaskan bahwa influenza A merupakan tipe yang perlu mendapat perhatian khusus karena kemampuannya untuk terus berubah.

    “Yang dominan itu influenza A. Ternyata influenza A ini yang kita harus hati-hati karena dia ini hobinya cepat sekali mutasi, tidak hanya manusia, hewan juga,” jelas Prof. Anggraini.

    Influenza A memiliki reservoir pada berbagai hewan, terutama burung, tetapi virus-virus influenza A juga ditemukan pada babi dan sejumlah mamalia lainnya. Sesekali, virus dari hewan dapat menginfeksi manusia. Sebagian besar berhenti di sana, tetapi dalam kondisi tertentu perubahan virus dapat menghasilkan influenza A yang sangat berbeda dari virus yang sebelumnya dikenali sistem imun manusia.

    Karena itulah semua pandemi influenza modern berasal dari influenza A, termasuk pandemi H1N1 tahun 2009. Influenza B tetap dapat menyebabkan penyakit berat dan bukan berarti lebih ringan, tetapi tidak mempunyai pola reservoir hewan dan potensi pandemi yang sama seperti influenza A.

  3. 3. Tidak semua perubahan virus sama

    Ilustrasi mikroskopis virus influenza berbentuk bulat dengan tonjolan protein di permukaannya berlatar warna gelap.
    ilustrasi virus influenza (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

    Untuk memahami kenapa nama influenza seolah terus berkembang, ada dua istilah yang membantu: antigenic drift dan antigenic shift.

    Antigenic drift adalah perubahan-perubahan kecil yang menumpuk ketika virus memperbanyak diri. Perubahan ini dapat sedikit mengubah bentuk protein di permukaan virus yang selama ini dikenali oleh antibodi.

    Proses tersebut terjadi pada influenza A maupun B dan berlangsung terus-menerus. Jika perubahan sudah cukup besar, antibodi yang terbentuk dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya mungkin tidak mengenali virus baru sebaik sebelumnya. Inilah salah satu penjelasan kenapa seseorang bisa sakit flu berulang kali sepanjang hidup.

    Penelitian menunjukkan bahwa kecepatan perubahan antigenik tidak sama pada setiap kelompok influenza. Analisis terhadap A(H3N2), A(H1N1), B/Victoria, dan B/Yamagata menemukan bahwa A(H3N2) berubah secara antigenik lebih cepat dibandingkan kelompok lain yang diteliti.

    Ini membantu menjelaskan mengapa H3N2 sering muncul dengan nama clade atau subclade baru.

    Sementara itu, antigenic shift adalah perubahan yang jauh lebih besar dan terjadi pada influenza A. Perubahan tersebut dapat menghasilkan virus dengan antigen yang sangat berbeda sehingga sebagian besar populasi manusia hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki kekebalan terhadapnya. Jika virus baru itu mampu menular dengan baik antarmanusia, kondisi tersebut dapat membuka jalan menuju pandemi.

    Namun, mutasi atau munculnya subclade baru tidak otomatis berarti virus menjadi lebih berbahaya. Perubahan genetik perlu dinilai bersama data tentang penularan, keparahan penyakit, kekebalan populasi, dan kemampuan antibodi mengenali virus tersebut.

  4. 4. Lalu, kenapa vaksin influenza harus diperbarui?

    Vaksin influenza bekerja dengan memperkenalkan antigen tertentu kepada sistem imun sehingga tubuh memiliki bekal untuk mengenali virus ketika terpapar kemudian. Yang jadi masalah, target tersebut bergerak.

    Ketika virus mengalami antigenic drift, bentuk antigen yang beredar bisa makin menjauh dari virus yang digunakan dalam vaksin. Makin baik kecocokan antara virus vaksin dan virus yang beredar, secara umum makin besar peluang antibodi hasil vaksinasi dapat mengenalinya dengan baik. Sebaliknya, ketidakcocokan antigenik dapat menurunkan perlindungan vaksin.

    Itulah alasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) terus memantau virus influenza di berbagai negara. Para ahli menilai karakteristik genetik dan antigeniknya, kemudian WHO mengeluarkan rekomendasi komposisi vaksin dua kali setahun, masing-masing untuk musim influenza belahan bumi utara dan selatan.

    Sebagai contoh, untuk vaksin trivalen musim 2026 di belahan bumi selatan, WHO merekomendasikan komponen yang menargetkan satu virus A(H1N1)pdm09, satu A(H3N2), dan satu virus B/Victoria.

    Jadi, pembaruan vaksin komposisinya disesuaikan karena sasaran virus juga terus bergerak.

  5. 5. Influenza B juga berubah

    Influenza B juga mengalami antigenic drift dan dapat menghasilkan varian-varian baru. Hanya saja, secara umum perubahan genetik dan antigeniknya berlangsung lebih lambat daripada influenza A, khususnya A(H3N2).

    Bahkan komponen influenza B dalam vaksin juga dapat berubah mengikuti hasil surveilans.

    Contoh terbaru terlihat pada B/Yamagata. WHO melaporkan bahwa garis keturunan ini tidak lagi terdeteksi sejak Maret 2020 dan menilai komponennya tidak lagi diperlukan dalam vaksin influenza musiman. Karena itu, rekomendasi vaksin terbaru beralih menuju formulasi trivalen yang mencakup dua komponen influenza A dan satu B/Victoria.

  6. 6. Pentingnya vaksin flu tahunan

    Ilustrasi vaksin influenza tahunan dengan perlengkapan medis sebagai pengingat pentingnya imunisasi flu rutin.
    ilustrasi vaksin flu tahunan (unsplash.com/CDC)

    Dijelaskan oleh Prof. Anggraini, vaksin influenza direkomendasikan setiap tahun dan dapat mulai diberikan sejak usia 6 bulan.

    “... tetap diberikan setiap tahunnya yang pemberiannya mulai dari usia 6 bulan yang bisa melindungi terhadap flu A dan flu B,” jelasnya.

    Ia juga mengingatkan bahwa perlindungan tidak terbentuk seketika setelah vaksinasi karena respons imun membutuhkan waktu.

    Perubahan virus menjadi alasan vaksin influenza diperbarui, tetapi bukan satu-satunya alasan vaksinasi perlu diulang. Perlindungan imun setelah vaksinasi juga dapat berkurang seiring waktu. Vaksinasi influenza tahunan tetap menjadi strategi utama pencegahan karena influenza A dan B terus menyebabkan epidemi musiman dan terus berevolusi.

    Kesimpulannya, banyaknya nama pada influenza A menggambarkan betapa dekatnya virus ini terus dipantau. H1N1 dan H3N2 menunjukkan subtipenya, sedangkan nama clade atau subclade menunjukkan cabang yang lebih spesifik dalam perjalanan evolusinya.

    Influenza A lebih disorot karena virus A berubah secara dinamis, memiliki reservoir hewan, dan mempunyai kemampuan yang secara historis dapat melahirkan pandemi.

    Referensi

    Trevor Bedford et al., “Integrating Influenza Antigenic Dynamics with Molecular Evolution,” eLife 3 (2014): e01914, https://doi.org/10.7554/eLife.01914.

    Brendan Flannery et al., “Effect of Antigenic Drift on Influenza Vaccine Effectiveness in the United States—2019–2020,” Clinical Infectious Diseases 73, no. 11 (2021): e4244–e4250.

    Timothy M. Uyeki et al., “Influenza,” The Lancet 400, no. 10353 (2022): 693–706, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)00982-5.

    Centers for Disease Control and Prevention. “How Flu Viruses Can Change: ‘Drift’ and ‘Shift.’” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention. “Types of Influenza Viruses,” diakses September 2026.

    World Health Organization. “Recommended Composition of Influenza Virus Vaccines for Use in the 2026 Southern Hemisphere Influenza Season,” diakses September 2026.

    World Health Organization. “Recommendations for Influenza Vaccine Composition for the 2026–2027 Northern Hemisphere Season,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More