Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak Sakit Flu, Kenali Tanda Harus Segera ke IGD

4 min read
Anak Sakit Flu, Kenali Tanda Harus Segera ke IGD
ilustrasi anak mengalami demam tinggi saat flu (vecteezy.com/Pitsanu Jaroenpipitaphorn)
  • Demam tinggi bukan satu-satunya patokan. Perubahan aktivitas, kemampuan minum, buang air kecil, pernapasan, dan kesadaran anak juga penting diperhatikan.

  • Sulit dibangunkan, kejang, napas cepat atau sulit bernapas, tampak kebiruan, serta tanda dehidrasi merupakan tanda untuk segera mencari pertolongan medis.

  • Bayi dan anak kecil, terutama usia di bawah 2 tahun, serta anak dengan penyakit penyerta lebih berisiko mengalami influenza berat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Anak yang terserang influenza bisa mendadak demam, lemas, tidak selera makan, batuk, dan hanya ingin berbaring. Melihatnya bisa membuat orang tua atau pengasuh cemas. Namun, tidak setiap anak dengan influenza harus langsung dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD).

Sebagian besar influenza dapat pulih dengan istirahat dan perawatan suportif. Yang penting adalah mengetahui kapan kondisi anak mulai keluar dari gambaran flu yang bisa dipantau di rumah.

Prof. Dr. Anggraini Alam, dr., Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K) dari UKK Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan untuk tidak terpaku pada angka di termometer.

  1. 1. Lihat aktivitas, minum, dan buang air kecil anak

    Saat demam, anak memang cenderung lebih lemas. Namun, Prof. Anggraini menyarankan orang tua memperhatikan bagaimana kondisi anak ketika demam mulai turun.

    Apakah ia kembali berceloteh atau bermain seperti biasanya? Apakah masih mau minum? Apakah masih buang air kecil?

    “Jadi itulah petunjuk orang tua. Aktivitas, intake, output,” jelas Prof. Anggraini dalam seminar media yang digelar secara daring pada Jumat (18/9).

    Anak yang masih mau minum, tetap buang air kecil, dan kembali cukup aktif setelah demam turun memberikan gambaran yang berbeda dari anak yang terus lemas, sulit diberi cairan, atau makin jarang kencing.

  2. 2. Sulit dibangunkan, kejang, atau sesak: segera ke IGD

    Ada beberapa perubahan yang menurut Prof. Anggraini tidak boleh ditunggu di rumah.

    “Segera ke IGD kalau anak sulit dibangunkan, atau anak gelisah tidak seperti biasa,” katanya.

    Ia juga menyebut kejang, napas cepat, tubuh tampak kebiruan, perdarahan, serta tidak buang air kecil selama sekitar 6 jam sebagai tanda bahaya yang butuh pertolongan segera.

    Menurut panduan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tanda-tanda bahaya yang perlu diperhatikan antara lain:

    • Napas cepat atau kesulitan bernapas.
    • Bibir atau wajah tampak kebiruan.
    • Tulang rusuk tampak tertarik ke dalam setiap kali bernapas.
    • Nyeri dada.
    • Anak tidak sadar penuh atau tidak berinteraksi ketika terjaga.
    • Kejang.
    • Nyeri otot sangat berat sampai anak tidak mau berjalan.
    • Tanda dehidrasi.

    Pada bayi berusia kurang dari 12 minggu, bergegas cari pertolongan medis jika mengalami demam 38 derajat Celsius atau lebih. Demam atau batuk yang sempat membaik lalu kembali dan makin berat juga termasuk tanda peringatan.

  3. 3. Jarang kencing bisa menandakan dehidrasi

    Seorang ibu mengenakan masker merawat anak yang sakit flu di rumah dengan mengompres dahinya saat berbaring.
    ilustrasi ibu merawat anaknya yang sakit flu di rumah (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Saat anak sakit, ia biasanya makan lebih sedikit. Yang lebih penting untuk dipantau adalah apakah ia masih mampu minum.

    Prof. Anggraini menyebut tidak buang air kecil selama sekitar 6 jam sebagai salah satu alasan untuk segera membawa anak ke IGD.

    Perhatikan juga gejala lainnya, seperti mulut kering, atau tidak mengeluarkan air mata saat menangis. Ini merupakan tanda dehidrasi yang butuh pertolongan medis segera.

    Sebaiknya kondisi anak tidak cuma dinilai dari satu patokan waktu. Jika anak tidak sanggup minum, makin lemas, atau produksi urine jauh berkurang, ia butuh perhatian ekstra.

  4. 4. Influenza pada anak bisa menjadi berat

    Influenza bukan hanya pilek biasa. Penyakit ini dapat menyebabkan pneumonia, memperburuk penyakit yang sudah dimiliki anak, dan dalam kasus yang lebih jarang menyebabkan komplikasi pada jantung atau sistem saraf.

    Penelitian terhadap 516 anak yang dirawat dengan infeksi virus pernapasan di 12 pusat rujukan anak di Italia menemukan 104 anak terinfeksi influenza. Dari kelompok influenza tersebut, 13,5 persen mengalami penyakit yang dikategorikan berat dan 11,5 persen memerlukan perawatan ICU.

    Anak kecil merupakan salah satu kelompok yang butuh perhatian lebih. Risiko influenza berat lebih tinggi pada anak usia muda, terutama anak di bawah 2 tahun, serta anak dengan kondisi tertentu seperti gangguan neurologis atau penyakit yang menekan sistem kekebalan.

    Kelompok ini disarankan menghubungi tenaga kesehatan lebih dini ketika mengalami gejala influenza karena terapi antivirus memberikan manfaat terbesar ketika diberikan sedini mungkin.

    Referensi

    Cristina Moracas et al., “Pathogen and Patient Characteristics and the Severity of Viral Respiratory Infections in Children,” JAMA Network Open 9, no. 2 (2026): e260129, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2026.0129.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Signs and Symptoms of Flu,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Flu: What To Do If You Get Sick,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More