Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Anak Lebih Mudah Kena Influenza daripada Orang Dewasa?

5 min read
Kenapa Anak Lebih Mudah Kena Influenza daripada Orang Dewasa?
ilustrasi anak pakai masker untuk melindungi diri dari virus (vecteezy.com/Decha Huayyai)
  • Anak lebih sering mengalami influenza karena pengalaman sistem imunnya terhadap berbagai virus influenza masih lebih sedikit dibandingkan orang dewasa.

  • Sekolah, daycare, dan lingkungan padat meningkatkan kesempatan anak terpapar virus dari orang lain.

  • Anak kecil juga dapat melepaskan virus lebih lama, sehingga influenza mudah berpindah di rumah maupun lingkungan sekolah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di sekolah atau tempat penitipan anak, kasus influenza sering muncul secara berkelompok. Tidak jarang satu anak yang sakit tak lama disusul oleh teman-temannya yang mengalami demam, batuk, dan harus beristirahat di rumah. Pola penularan seperti ini umum terjadi pada influenza.

Anak-anak merupakan kelompok yang lebih sering mengalami influenza bergejala dibanding orang dewasa. Bukan karena faktor imun yang masih berkembang, tetapi juga karena beberapa faktor lain.

Sistem imun anak masih memiliki pengalaman yang lebih sedikit dalam mengenali virus influenza, sementara peluang terpapar virus di lingkungan sehari-hari juga lebih tinggi. Selain itu, pola penularan influenza pada usia anak turut berperan dalam tingginya angka kasus pada kelompok ini.

Dalam seminar media yang digelar secara daring pada Jumat (18/9), Prof. Dr. Anggraini Alam, dr., Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K) dari UKK Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa anak lebih sering mengalami influenza yang bergejala dibanding orang dewasa.

“Anak sampai usia 17 tahun dua kali lipat untuk mengalami flu yang bergejala dibandingkan dewasa,” jelas Prof. Anggraini.

  1. 1. Tubuh anak belum punya banyak pengalaman menghadapi influenza

    Seiring bertambahnya usia, seseorang berkali-kali bertemu dengan berbagai virus influenza melalui infeksi maupun vaksinasi. Pertemuan tersebut membangun memori imun terhadap bagian-bagian virus yang pernah dikenali tubuh.

    Anak, terutama yang masih kecil, belum memiliki riwayat paparan sebanyak orang dewasa.

    “Anak-anak itu belum banyak terpapar flu sehingga belum mencukupi daya tahan tubuhnya. Mereka mudah terinfeksi juga,” kata Prof. Anggraini.

    Penelitian mengenai imunitas influenza menunjukkan bahwa riwayat paparan memang berpengaruh terhadap kerentanan seseorang. Infeksi atau vaksinasi sebelumnya dapat membentuk antibodi dan sel imun memori yang memberikan perlindungan terhadap virus yang serupa, meskipun influenza terus berubah dari waktu ke waktu.

    Singkatnya, pengalaman sistem imun anak dalam mengenali berbagai jenis influenza masih lebih terbatas.

  2. 2. Data menunjukkan anak lebih sering terinfeksi

    Analisis dalam jurnal Clinical Infectious Diseases memperkirakan kejadian influenza bergejala pada anak di bawah 18 tahun lebih tinggi dibanding orang dewasa. Dalam metaanalisis terhadap kelompok yang tidak divaksinasi, sekitar 12 persen anak mengalami influenza bergejala dalam satu musim, dibanding sekitar 6,1 persen orang dewasa usia 18–64 tahun. Setelah disesuaikan dengan cakupan dan efektivitas vaksinasi, perkiraannya menjadi 8,7 persen pada anak dan 5,1 persen pada orang dewasa.

    Studi di Selandia Baru juga menemukan bahwa anak usia di bawah 5 tahun maupun 5–19 tahun memiliki risiko infeksi influenza yang secara signifikan lebih tinggi dibanding orang dewasa usia 20–64 tahun.

    Angkanya bisa berbeda antarnegara dan musim influenza, tetapi pola umumnya konsisten, bahwa anak merupakan salah satu kelompok yang paling sering terinfeksi.

  3. 3. Sekolah dan daycare memberi banyak kesempatan untuk penularan

    Anak-anak bermain bersama di daycare dalam ilustrasi yang menggambarkan suasana interaksi dan aktivitas kelompok.
    ilustrasi anak-anak bermain bersama di daycare (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Sekolah, tempat bermain, dan daycare membuat anak berada dalam kontak dekat selama berjam-jam. Mereka bermain bersama, berbicara dari jarak dekat, berbagi benda, serta menyentuh banyak permukaan yang sama.

    Influenza dapat menyebar dengan cepat di lingkungan ramai seperti sekolah. Virus terutama berpindah melalui partikel pernapasan yang dilepaskan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, atau bernapas.

    “Di daycare-nya satu sakit, lalu menulari yang lain,” ujar Prof. Anggraini.

    Ia juga mengingatkan bahwa ruangan tertutup dan kebersihan permukaan yang kurang baik dapat membantu penularan.

    Dalam sebuah studi terhadap 328 rumah tangga dengan anak, kasus influenza yang berasal dari komunitas paling sering ditemukan pada anak kecil berusia di bawah 9 tahun. Risiko tertular setelah terpapar anggota keluarga yang sakit juga paling tinggi pada kelompok anak kecil.

  4. 4. Anak juga dapat mengeluarkan virus lebih lama

    Begitu terinfeksi, anak dapat melepaskan virus influenza dalam waktu lebih panjang dibandingkan kebanyakan orang dewasa.

    Anak yang lebih kecil cenderung melakukan viral shedding atau melepaskan virus lebih lama dan sudah dapat menyebarkannya sebelum gejala terlihat.

    Prof. Anggraini menyebut masa penularan pada anak bahkan dapat berlangsung hingga sekitar 10 hari pada sebagian kasus.

    Itu menjelaskan mengapa satu infeksi bisa dengan mudah berlanjut menjadi beberapa kasus di rumah, sekolah, atau daycare—terutama jika anak kembali beraktivitas ketika masih sakit.

  5. 5. Lebih mudah tertular tidak sama dengan selalu lebih parah

    Perlu dibedakan antara risiko terkena influenza dan risiko mengalami penyakit berat.

    Anak secara umum sering mengalami infeksi influenza, tetapi risiko komplikasi berat paling menonjol pada kelompok tertentu.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan anak di bawah usia 5 tahun sebagai kelompok yang lebih berisiko mengalami influenza berat atau komplikasi. Perhatian khusus juga meliputi anak usia di bawah 2 tahun, serta anak dengan kondisi seperti gangguan neurologis, penyakit kronis, atau sistem imun yang terganggu.

    Anak lebih mudah terkena influenza karena kombinasi beberapa faktor. Tubuh mereka masih membangun pengalaman imun terhadap influenza, sementara kehidupan sehari-hari di sekolah dan daycare memberi banyak kesempatan untuk terpapar virus. Setelah terinfeksi, sebagian anak juga dapat menularkannya lebih lama.

    Pencegahan tetap mencakup vaksinasi influenza sesuai rekomendasi usia, mencuci tangan, memperbaiki ventilasi, menerapkan etika batuk, serta tidak memaksakan anak masuk sekolah saat sedang sakit.

    Referensi

    Carrie Reed et al., “Seasonal Incidence of Symptomatic Influenza in the United States,” Clinical Infectious Diseases 66, no. 10 (2018): 1511–1518, https://doi.org/10.1093/cid/cix1060.

    Suzanne E. Ohmit et al., “Influenza Transmission in a Cohort of Households with Children: 2010–2011,” PLoS ONE 8, no. 9 (2013): e75339, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0075339.

    Diane M. Bandaranayake et al., “Risk Factors and Attack Rates of Seasonal Influenza Infection: Results of the Southern Hemisphere Influenza and Vaccine Effectiveness Research and Surveillance Seroepidemiologic Cohort Study,” Journal of Infectious Diseases 219, no. 3 (2019): 347–357.

    World Health Organization. “Influenza (Seasonal).” diakses September 2026.

    World Health Organization Indonesia. “Bagaimana Cara Terhindar dari Flu?” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More