“Kalau di rumah sakit saya memang ada peningkatan. Yang namanya data rumah sakit, sangat mungkin rumah sakit tipe referral dengan rumah sakit misalnya RSUD sangat mungkin berbeda,” jelas Prof. Anggraini.
Musim Kemarau tapi Kasus Flu Meningkat, Dokter Jelaskan Alasannya

Di negara tropis seperti Indonesia, influenza dapat beredar sepanjang tahun sehingga tidak hanya muncul pada musim hujan.
Saat cuaca panas, polusi, atau karhutla membuat orang lebih banyak berkumpul di ruangan tertutup, kontak dekat dan ventilasi buruk dapat membantu penularan.
Peningkatan kasus di satu rumah sakit tidak otomatis menggambarkan situasi seluruh Indonesia; data surveilans yang lebih luas tetap diperlukan.
Banyak orang mengaitkan influenza dengan musim hujan, suhu yang lebih dingin, atau udara yang lembap. Karena itu, meningkatnya kasus flu saat cuaca sedang panas dan jarang hujan sering memicu pertanyaan.
Sebetulnya ini bukan pola langka di. Sebagai negara tropis, Indonesia tidak memiliki musim influenza yang jelas seperti negara-negara beriklim sedang. Virus influenza dapat beredar sepanjang tahun, dengan jumlah kasus yang sesekali meningkat, termasuk pada periode kemarau.
Dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang dilakukan secara daring pada Jumat (18/9), Prof. Dr. Anggraini Alam, dr., Sp.A, Subsp.Inf.P.T(K) dari UKK Infeksi Penyakit Tropis IDAI menyampaikan bahwa jumlah pasien influenza memang mengalami peningkatan di rumah sakit tempatnya bekerja. Namun, ia mengingatkan bahwa data dari satu rumah sakit tidak dapat langsung digunakan untuk menggambarkan situasi influenza di tingkat nasional.
Menurutnya, tren influenza perlu dinilai berdasarkan kumpulan data yang lebih luas agar dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi di masyarakat secara keseluruhan.
Table of Content
1. Di Indonesia, flu tidak menunggu musim hujan
Pola influenza di wilayah tropis berbeda dengan pola di negara empat musim. Epidemi influenza di wilayah beriklim sedang terutama terjadi pada musim dingin. Sebaliknya, di daerah tropis, virus influenza dapat beredar sepanjang tahun, dengan satu atau beberapa periode ketika aktivitasnya meningkat.
Analisis data surveilans influenza 2006–2011 di negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara menemukan bahwa Indonesia mengalami aktivitas influenza sepanjang tahun, dengan waktu puncak yang dapat berbeda dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Penelitian surveilans Indonesia pada 2003–2007 juga menemukan influenza A dan B beredar sepanjang tahun. Memang, peningkatan influenza A pada penelitian tersebut lebih sering ditemukan pada musim hujan, terutama sekitar Desember dan Januari. Namun, virus tetap terdeteksi di luar periode tersebut.
2. Saat cuaca panas, waktu yang dihabiskan di dalam ruangan lebih lama

ilustrasi orang tua dan anak belajar di dalam rumah (pexels.com/Annushka Ahuja) Menurut Prof. Anggraini, ada sebuah faktor yang perlu diperhatikan, yaitu perubahan perilaku manusia ketika cuaca di luar sangat panas.
“Sebenarnya musim kemarau si virus itu lebih mudah mati. Tetapi kita itu merasa gerah kalau keluar. Jadi malah berkumpul di dalam. AC menyala. Ditutup ventilasi semuanya,” ujarnya.
Hal yang sama dapat terjadi ketika kualitas udara memburuk akibat polusi atau kebakaran hutan dan lahan. Orang cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan dengan pintu atau jendela tertutup.
Prof. Anggraini juga menyinggung kondisi serupa pada tempat penitipan anak.
“Orang tua sekarang di perkotaan ke daycare. Di daycare-nya satu (anak) sakit, lalu menulari yang lain,” katanya.
Influenza memang mudah menyebar ketika orang berada berdekatan. Penularan berlangsung cepat di tempat yang ramai, termasuk sekolah, terutama melalui partikel pernapasan yang dikeluarkan orang yang terinfeksi.
Pola penyakit tidak hanya ditentukan oleh suhu atau kelembapan. Kondisi sosial, kepadatan, pola kontak antarmanusia, dan faktor lingkungan ikut memengaruhi bagaimana virus menyebar, menurut tinjauan mengenai influenza di kawasan tropis.
Singkatnya, pada musim kemarau, virus tetap bersirkulasi sementara pola aktivitas manusia menciptakan kesempatan lebih besar untuk penularan.
3. Jadi, apa yang bisa dilakukan?
Karena influenza tetap dapat beredar meski tidak sedang musim hujan, pencegahannya perlu dilakukan dalam keseharian.
Prof. Anggraini menyarankan memperbaiki ventilasi, menjaga kebersihan tangan, serta tidak memaksakan anak yang sakit untuk masuk sekolah.
“Kalau musim kemarau dalam waktu lama, kita perbaiki dengan ventilasi. Hand hygiene-nya diperhatikan. Yang sedang sakit jangan masuk sekolah atau ngantor,” jelasnya.
Ingat selalu etika batuk dan bersin, mencuci tangan, menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dibersihkan, memakai masker ketika sakit atau berada di lingkungan berisiko, serta memperbaiki ventilasi ruangan.
Vaksinasi influenza tahunan juga tetap menjadi salah satu langkah pencegahan terbaik untuk mengurangi risiko influenza dan penyakit berat.
Di Indonesia, virus dapat bersirkulasi sepanjang tahun. Cuaca cuma satu bagian dari gambaran yang lebih besar, yaitu perilaku manusia, kepadatan, ventilasi, mobilitas, serta virus yang sedang beredar juga ikut menentukan kapan penularan meningkat.
Referensi
Siddhivinayak Hirve et al., “Influenza Seasonality and Vaccination Timing in Tropical and Subtropical Areas of Southern and South-Eastern Asia,” Bulletin of the World Health Organization 92 (2014): 318–330.
Herman Kosasih et al., “Surveillance of Influenza in Indonesia, 2003–2007,” Influenza and Other Respiratory Viruses 7, no. 3 (2013): 312–320.
Vivek Shaman and Melvin Kohn, “Influenza Burden and Transmission in the Tropics,” Current Epidemiology Reports 2 (2015): 89–100.
World Health Organization, “How Can I Avoid Getting the Flu?,” diakses September 2026.
World Health Organization Regional Office for the Western Pacific, “Respiratory Viruses Surveillance Bulletin: Epidemiological Week 35, 2026,” diakses September 2026






















