- Migrain dan sakit kepala tipe tegang.
- Carpal tunnel syndrome.
- Sindrom iritasi usus besar.
- Artritis reumatoid.
- Fibromialgia.
Kenapa Perempuan Lebih Rentan Mengalami Gangguan Tidur?

- Perempuan lebih rentan mengalami gangguan tidur karena siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause.
- Tanggung jawab pengasuh dan pekerjaan dapat mengganggu jadwal tidur perempuan, menyebabkan stres dan gangguan suasana hati.
- Nyeri kronis juga membuat tidur sulit bagi perempuan, sehingga mereka lebih rentan terhadap insomnia.
Pernahkah kamu mengalami hal ini: lelah bekerja seharian dan berharap bisa langsung tidur, tapi setelah berbaring selama satu jam di tempat tidur, kamu tetap tidak bisa tidur? Pengalaman ini tentu saja bisa bikin frustrasi, apalagi jika kamu harus bangun pagi keesokan harinya.
Sulit tidur bisa dialami siapa saja, tapi perempuan lebih cenderung mengalaminya. Menurut laporan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perempuan 1,8 kali lebih mungkin daripada laki-laki untuk melaporkan bahwa mereka tidak pernah merasa cukup istirahat. Ini selanjutnya dapat berdampak negatif pada kesehatan dan kesejahteraan, kemampuan seseorang untuk melakukan tugas sehari-hari, dan hubungan serta kualitas hidup mereka. Karena alasan ini, perempuan harus menyadari penyebabnya dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mendapatkan tidur yang lebih baik.
1. Siklus menstruasi
Perempuan lebih mungkin mengalami masalah tidur pada titik-titik tertentu selama siklus menstruasi mereka. Pada periode antara ovulasi dan menstruasi, perempuan lebih mungkin terbangun pada malam hari dan kesulitan untuk kembali tidur. Hal ini mungkin dipicu oleh perubahan pola tidur yang dipengaruhi hormon, yang mengurangi lamanya waktu perempuan berada dalam fase tidur nyenyak atau deep sleep.
Kesulitan tidur bahkan merupakan salah satu gejala umum dari sindrom pramenstruasi (PMS) atau gangguan disforia pramenstruasi (PMDD), yang keduanya menyebabkan ketidaknyamanan fisik dan emosi yang intens menjelang menstruasi.
PMDD, khususnya, dikaitkan dengan penurunan respons terhadap hormon tidur melatonin dan pengurangan durasi tidur selama beberapa minggu sebelum menstruasi.
Selain itu, nyeri perut, pendarahan hebat, dan periode menstruasi yang tidak teratur semuanya dapat menyebabkan kualitas tidur yang buruk.
2. Kehamilan
Perempuan juga lebih mungkin mengalami kesulitan tidur selama kehamilan, terutama pada trimester ketiga. Ketidaknyamanan fisik, refluks asam, sering buang air kecil, dan gerakan bayi dapat menyebabkan peningkatan frekuensi terbangun pada malam hari dan kesulitan tidur.
Selain itu, banyak orang mengalami sindrom kaki gelisah atau sleep apnea obstruktif selama kehamilan, yang keduanya dapat menyebabkan sulit tidur.
Perempuan hamil juga mungkin mengalami kesulitan tidur karena kekhawatiran tentang kesehatan bayi, kesehatan mereka sendiri, persalinan, atau perubahan yang akan datang dalam hidup. Sayangnya, insomnia yang dimulai selama kehamilan sering kali berlanjut hingga periode pascapersalinan.
3. Menopause

Masalah tidur menjadi makin umum pada tahun-tahun sebelum dan sesudah menopause, yang terjadi dua belas bulan setelah periode menstruasi terakhir seseorang.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan insomnia menopause, termasuk hot flash dan keringat malam. Peristiwa-peristiwa ini memengaruhi sebagian besar perempuan selama masa transisi menopause. Ketidaknyamanan fisik, bersamaan dengan harus mengganti pakaian dan seprai yang basah, dapat menyebabkan perasaan cemas yang membuat semakin sulit untuk tidur.
Sinyal hormonal yang mengatur tidur dan bangun juga melemah setelah menopause, yang dapat berkontribusi pada gangguan tidur. Selain itu, selama dan setelah transisi menopause, individu memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengembangkan kondisi yang telah dikaitkan dengan insomnia, termasuk sindrom kaki gelisah, sleep apnea, depresi, dan kecemasan.
4. Tumpang tindih tanggung jawab pengasuh dan pekerjaan
Meskipun zaman telah berubah, tetapi tetap saja perempuan lebih sering menjadi pengasuh utama anak-anak. Di kemudian hari, perempuan mungkin akhirnya menjadi pengasuh orang tua atau mertua mereka. Beberapa melakukan tugas ganda: merawat anak-anak dan orang tua lanjut usia pada saat yang bersamaan.
Selain itu, perempuan mungkin masih harus bekerja di luar rumah sambil merawat keluarga saat pulang ke rumah. Semua aktivitas ini mengurangi waktu tidur mereka.
5. Stres dan gangguan suasana hati
Perempuan lebih cenderung mengalami kurang tidur akibat stres dibandingkan laki-laki. Selain itu, perempuan juga lebih rentan terpengaruh oleh kondisi kesehatan mental tertentu yang cenderung terjadi bersamaan dengan insomnia, termasuk depresi dan kecemasan. Gangguan ini tampaknya memiliki hubungan dua arah dengan insomnia, artinya depresi dan kecemasan dapat menyebabkan insomnia, dan insomnia dapat memperburuk gejala depresi dan kecemasan.
Perempuan sangat mungkin mengalami depresi pada tahap akhir siklus menstruasi mereka, selama dan setelah kehamilan, dan menjelang menopause. Ini membuat para ahli berspekulasi bahwa perubahan hormon dapat memicu depresi. Hal ini mungkin menjelaskan peningkatan prevalensi insomnia pada periode waktu tersebut.
6. Gangguan jadwal tidur

Untuk mendapatkan tidur yang sehat, jadwal tidur perlu diselaraskan dengan ritme sirkadian individu. Ritme sirkadian sendiri adalah pola biologis internal yang beroperasi dalam sistem 24 jam. Namun, banyak perempuan menghadapi tekanan dan tanggung jawab di rumah yang mencegah mereka tidur ketika tubuh mereka memberi sinyal untuk tidur.
Secara umum, perempuan mengalami peningkatan hormon tidur melatonin lebih awal pada malam hari daripada laki-laki, yang berarti bahwa perempuan biasanya mendapat manfaat dari waktu tidur yang lebih awal. Namun, karena berbagai alasan, perempuan mungkin memilih untuk menunda jam tidur. Misalnya, untuk merawat anak, menunggu suami pulang bekerja, merawat orang tua yang sakit, mengerjakan pekerjaan rumah, dan sebagainya. Semua ini dapat mengganggu ritme sirkadian dan membuat tidur lebih sulit.
7. Nyeri
Nyeri dapat membuat tidur jadi lebih sulit. Begitu pun sebaliknya, kesulitan tidur dapat memperparah nyeri dan bahkan menyebabkan nyeri baru muncul. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih mungkin mengembangkan kondisi nyeri, termasuk:
Oleh karena itu, perempuan memiliki risiko lebih besar untuk mengembangkan masalah tidur karena nyeri kronis.
Pada akhirnya, sebagian besar orang pasti pernah mengalami kesulitan tidur pada suatu waktu dalam hidup mereka selama beberapa hari atau lebih. Jika masalah ini tidak mengganggu kehidupan atau rutinitas harian, jangan khawatir. Di sisi lain, jika mengalami kesulitan tidur tiga malam seminggu selama tiga bulan atau lebih, artinya kamu mengalami insomnia kronis dan harus mencari bantuan dari dokter atau spesialis pengobatan tidur.
Referensi
Barsha, R. a. A., & Hossain, M. B. (2020). Trouble sleeping and depression among US women aged 20 to 30 years. Preventing Chronic Disease, 17, E29. https://doi.org/10.5888/pcd17.190262.
Casale, R., Atzeni, F., Bazzichi, L., Beretta, G., Costantini, E., Sacerdote, P., & Tassorelli, C. (2021). Pain in Women: A Perspective Review on a Relevant Clinical Issue that Deserves Prioritization. Pain and Therapy, 10(1), 287–314. https://doi.org/10.1007/s40122-021-00244-1.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada Desember 2025. Sleep Difficulties in Adults: United States, 2020.
Sleep Foundation. Diakses pada Desember 2025. Insomnia and Women.
University of Michigan. Diakses pada Desember 2025. 3 Reasons Women Are More Likely to Have Insomnia.



















