Mary Mallon (paling dekat kamera) di ranjang rumah sakit. Ia dikarantina secara paksa sebagai pembawa bakteri penyebab tifoid (tipes) selama tiga tahun mulai 1907, lalu kembali dikarantina sejak 1915 hingga meninggal pada 1938. (commons.wikimedia.org/PBrieux)
Selama lebih dari seabad, nama Mary Mallon sering dikenang sebagai sosok yang membawa penyakit ke mana-mana. Namun, jika menengok lebih dalam, kisahnya lebih dalam.
Kasus Mallon membuka pertanyaan yang masih relevan hingga sekarang, yaitu ketika kesehatan masyarakat harus dilindungi, bagaimana nasib hak-hak individu? Apakah seseorang telah dinilai berdasarkan bukti yang cukup kuat? Apakah ia diberikan penjelasan yang jelas dan pilihan yang memungkinkan untuk menjalani hidup tanpa membahayakan orang lain?
Sejarawan Jacob Steere-Williams mencatat bahwa ada banyak pembawa tifoid lain pada masa itu yang tidak mengalami perlakuan sekeras Mallon. Ia juga menunjukkan bahwa identitas Mallon sebagai perempuan, imigran Irlandia, dan pekerja rumah tangga ikut memengaruhi cara masyarakat memandang dirinya.
Pandangan yang lebih luas ini juga muncul dalam artikel American Journal of Public Health tahun 2023. Penulisnya mengingatkan agar Mallon tidak begitu saja dicap sebagai "penyebar super". Label seperti itu memang mudah diingat, tetapi berisiko menyederhanakan kenyataan yang lebih kompleks. Mallon memang dikaitkan dengan sejumlah penularan, tetapi citra yang melekat padanya juga dibentuk oleh pemberitaan dan prasangka yang berkembang saat itu.
Karena itulah, perdebatan tentang karantina tidak pernah hanya soal menghentikan penyebaran penyakit. Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting, seperti seberapa kuat bukti yang digunakan untuk membatasi kebebasan seseorang? Apakah keputusan itu dijelaskan dengan baik kepada orang yang terdampak? Dan, ketika pengetahuan ilmiah berkembang, apakah kebijakan tersebut kembali ditinjau?
Di sisi lain, tifoid masih menjadi ancaman nyata di berbagai wilayah dunia yang akses air bersih dan sanitasinya terbatas. Penyakit ini mengingatkan bahwa pencegahan tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga pada ketersediaan air bersih, sanitasi yang baik, kebersihan pengolah makanan, serta vaksinasi di daerah yang membutuhkan.
Singkat cerita, Mary Mallon adalah seorang manusia yang hidup di masa ketika ilmu pengetahuan tentang pembawa bakteri masih berkembang, lalu harus menjalani pembatasan yang mengubah hidupnya. Kisahnya menjadi pengingat bahwa upaya mencegah penularan harus beriringan dengan memperlakukan seseorang secara manusiawi.
Referensi
Lawrence William White, “Mallon, Mary (‘Typhoid Mary’),” Dictionary of Irish Biography, Royal Irish Academy, diakses 22 Oktober 2026.
World Health Organization, “Typhoid,” diakses 22 Oktober 2026.
Library of Congress, “Typhoid Mary: Topics in Chronicling America,” diakses 22 Oktober 2026.
The Micrograph, National Museum of Health and Medicine, “Typhoid Mary/Mary Mallon: An Asymptomatic Carrier of Salmonella typhi,” diakses 22 Oktober 2026.
Jacob Steere-Williams, “A ‘Menace’ or a Martyr to the Public’s Health?” Isis 111, no. 4 (2020): 818–21, https://doi.org/10.1086/712254.
Amir Teicher, “Typhoid Mary Was Not a Super-Spreader (and Super-Spreaders Are Not ‘Typhoid Marys’),” American Journal of Public Health 113, no. 12 (2023): 1249–53, https://doi.org/10.2105/AJPH.2023.307434.