Referensi
Lawrence William White, “Mallon, Mary (‘Typhoid Mary’),” Dictionary of Irish Biography, Royal Irish Academy, diakses 22 Oktober 2026.
World Health Organization, “Typhoid,” diakses 22 Oktober 2026.
Library of Congress, “Typhoid Mary: Topics in Chronicling America,” diakses 22 Oktober 2026.
The Micrograph, National Museum of Health and Medicine, “Typhoid Mary/Mary Mallon: An Asymptomatic Carrier of Salmonella typhi,” diakses 22 Oktober 2026.
Jacob Steere-Williams, “A ‘Menace’ or a Martyr to the Public’s Health?” Isis 111, no. 4 (2020): 818–21, https://doi.org/10.1086/712254.
Amir Teicher, “Typhoid Mary Was Not a Super-Spreader (and Super-Spreaders Are Not ‘Typhoid Marys’),” American Journal of Public Health 113, no. 12 (2023): 1249–53, https://doi.org/10.2105/AJPH.2023.307434.
Kisah Mary Mallon, Pembawa Tifoid Tanpa Gejala Dikarantina 26 Tahun

Mary Mallon tampak sehat, tetapi bakteri tifoid ditemukan dalam sampelnya. Ia dikaitkan dengan sejumlah wabah setelah bekerja sebagai juru masak.
Setelah sempat dibebaskan dengan syarat tak lagi memasak, Mallon kembali bekerja sebagai juru masak. Ia lalu dikarantina lagi hingga meninggal pada 1938.
Kisahnya menunjukkan dilema kesehatan masyarakat: melindungi orang dari penularan sekaligus memastikan pembatasan didukung bukti, dijelaskan dengan baik, dan tidak mengabaikan hak serta kebutuhan hidup seseorang.
Mary Mallon mencari nafkah dengan memasak untuk keluarga-keluarga di New York. Pada musim panas 1906, ia bekerja di rumah peristirahatan sebuah keluarga di Oyster Bay. Dalam beberapa pekan, 6 dari 11 orang di rumah itu jatuh sakit tifoid. Mallon sendiri tampak sehat.
Saat itu, gagasan bahwa orang yang tampak sehat bisa membawa dan menyebarkan bakteri masih merupakan hal asing. Penyelidik George Soper menelusuri riwayat pekerjaan Mallon dan menemukan sejumlah rumah tangga lain yang pernah mengalami tifoid setelah ia bekerja di sana. Menurut biografi akademik Dictionary of Irish Biography, penelusuran itu mengaitkan Mallon dengan 22 kasus dan 1 kematian di 7 rumah tangga.
Bakteri penyebab tifoid, Salmonella Typhi, menyebar terutama melalui makanan atau air yang tercemar tinja orang yang membawa bakteri. Orang yang sudah sembuh pun kadang masih membawa dan mengeluarkan bakteri tanpa menyadarinya. Jadi, risiko dalam kasus Mallon berkaitan dengan pekerjaannya menangani makanan.
Dari pemeriksaan paksa ke karantina di pulau
Pada 1907, petugas kesehatan membawa Mallon secara paksa untuk menjalani pemeriksaan. Sampelnya menunjukkan keberadaan bakteri tifoid. Ia kemudian ditempatkan di Riverside Hospital, di North Brother Island, sebuah pulau di East River, New York. Perpustakaan Kongres Amerika Serikat mencatat Mallon sempat mengajukan permohonan pembebasan ke pengadilan pada 1909, tetapi ditolak.
Bagi Mallon, yang merasa sehat, ia sulit menerima dirinya dapat membahayakan orang lain. Sementara itu, otoritas kesehatan menghadapi penyakit yang dapat menimbulkan wabah, dengan pemahaman dan pilihan penanganan yang masih terbatas. Sejarawan Jacob Steere-Williams juga mengingatkan bahwa bukti pemeriksaan pada masa itu tidak sesederhana kisah yang kerap diceritakan, bahwa hasil tes diperdebatkan, tetapi pengadilan tetap berpihak pada keputusan pemerintah kota.
Pada tahun 1910, Mallon dibebaskan dengan syarat tidak lagi bekerja sebagai juru masak dan menjaga kebersihan untuk mencegah penularan. Ia sempat bekerja di penatu, pekerjaan yang pada waktu itu berupah lebih rendah dan lebih berat secara fisik. Beberapa tahun kemudian, ia kembali memasak dengan nama “Mary Brown.” Pada tahun 1915, wabah di Sloane Maternity Hospital dikaitkan dengan juru masak rumah sakit itu: 25 orang terinfeksi dan 2 orang meninggal. Petugas kemudian mengenali bahwa “Mrs. Brown” adalah Mallon.
Mallon dikembalikan ke North Brother Island dan tinggal di sana sampai meninggal pada tahun 1938. Secara total, ia menghabiskan sekitar 26 tahun di pulau itu dalam dua periode, dengan jeda setelah dibebaskan pada 1910.
Perlindungan publik dan hak seseorang

Mary Mallon (paling dekat kamera) di ranjang rumah sakit. Ia dikarantina secara paksa sebagai pembawa bakteri penyebab tifoid (tipes) selama tiga tahun mulai 1907, lalu kembali dikarantina sejak 1915 hingga meninggal pada 1938. (commons.wikimedia.org/PBrieux) Selama lebih dari seabad, nama Mary Mallon sering dikenang sebagai sosok yang membawa penyakit ke mana-mana. Namun, jika menengok lebih dalam, kisahnya lebih dalam.
Kasus Mallon membuka pertanyaan yang masih relevan hingga sekarang, yaitu ketika kesehatan masyarakat harus dilindungi, bagaimana nasib hak-hak individu? Apakah seseorang telah dinilai berdasarkan bukti yang cukup kuat? Apakah ia diberikan penjelasan yang jelas dan pilihan yang memungkinkan untuk menjalani hidup tanpa membahayakan orang lain?
Sejarawan Jacob Steere-Williams mencatat bahwa ada banyak pembawa tifoid lain pada masa itu yang tidak mengalami perlakuan sekeras Mallon. Ia juga menunjukkan bahwa identitas Mallon sebagai perempuan, imigran Irlandia, dan pekerja rumah tangga ikut memengaruhi cara masyarakat memandang dirinya.
Pandangan yang lebih luas ini juga muncul dalam artikel American Journal of Public Health tahun 2023. Penulisnya mengingatkan agar Mallon tidak begitu saja dicap sebagai "penyebar super". Label seperti itu memang mudah diingat, tetapi berisiko menyederhanakan kenyataan yang lebih kompleks. Mallon memang dikaitkan dengan sejumlah penularan, tetapi citra yang melekat padanya juga dibentuk oleh pemberitaan dan prasangka yang berkembang saat itu.
Karena itulah, perdebatan tentang karantina tidak pernah hanya soal menghentikan penyebaran penyakit. Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting, seperti seberapa kuat bukti yang digunakan untuk membatasi kebebasan seseorang? Apakah keputusan itu dijelaskan dengan baik kepada orang yang terdampak? Dan, ketika pengetahuan ilmiah berkembang, apakah kebijakan tersebut kembali ditinjau?
Di sisi lain, tifoid masih menjadi ancaman nyata di berbagai wilayah dunia yang akses air bersih dan sanitasinya terbatas. Penyakit ini mengingatkan bahwa pencegahan tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga pada ketersediaan air bersih, sanitasi yang baik, kebersihan pengolah makanan, serta vaksinasi di daerah yang membutuhkan.
Singkat cerita, Mary Mallon adalah seorang manusia yang hidup di masa ketika ilmu pengetahuan tentang pembawa bakteri masih berkembang, lalu harus menjalani pembatasan yang mengubah hidupnya. Kisahnya menjadi pengingat bahwa upaya mencegah penularan harus beriringan dengan memperlakukan seseorang secara manusiawi.




















![[QUIZ] Pilih Menu Ayam Favoritmu, Kami Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)
![[QUIZ] Pilih Mesin Gym Favorit, Kami Tebak Personality Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)

