Magnesium dari makanan umumnya aman karena ginjal membuang kelebihannya. Namun, suplemen magnesium dosis tinggi dapat menyebabkan diare, mual, dan kram perut.
Dalam jumlah sangat tinggi, terutama pada orang dengan gangguan fungsi ginjal, magnesium dapat menumpuk dan menyebabkan hipotensi, gangguan pernapasan, aritmia, bahkan henti jantung.
Magnesium juga dapat mengganggu penyerapan beberapa antibiotik dan obat osteoporosis.
Batas asupan maksimum magnesium yang dapat ditoleransi dari suplemen dan obat umumnya sebesar 350 mg per hari pada orang dewasa. Batas ini tidak menghitung magnesium dari makanan.
Melatonin relatif aman untuk penggunaan jangka pendek pada kebanyakan orang, tetapi data keamanan jangka panjang masih terbatas.
Melatonin juga dapat berinteraksi dengan obat tertentu; orang dengan epilepsi atau yang menggunakan obat pengencer darah perlu mendiskusikannya dengan dokter.
Kualitas produk juga menjadi persoalan. Studi tahun 2023 menguji 25 produk gummy melatonin di Amerika Serikat dan menemukan 22 di antaranya tidak sesuai label. Kandungan melatonin aktual berkisar antara 74 hingga 347 persen dari jumlah yang tercantum pada kemasan.
Jadi, untuk membantu tidur, melatonin memiliki bukti yang lebih kuat daripada magnesium, terutama jika masalah berkaitan dengan ritme sirkadian, jet lag, atau waktu mulai tidur. Namun, efeknya pada insomnia kronis orang dewasa relatif kecil dan tidak konsisten.
Magnesium menunjukkan manfaat kecil, tetapi bukti klinisnya masih sangat terbatas. Memperbaiki kekurangan magnesium tetap penting, tetapi itu berbeda dengan menggunakan magnesium sebagai terapi insomnia.
Kalau kamu terus-terusan sulit tidur setidaknya beberapa kali seminggu dalam jangka panjang, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mencari tahu penyebabnya.
Referensi
Tracey L. Sletten et al., “Efficacy of Melatonin with Behavioural Sleep-Wake Scheduling for Delayed Sleep-Wake Phase Disorder: A Double-Blind, Randomised Clinical Trial,” PLoS Medicine 15, no. 6 (2018): e1002587, https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1002587.
Francy Cruz-Sanabria et al., “Optimizing the Time and Dose of Melatonin as a Sleep-Promoting Drug: A Systematic Review of Randomized Controlled Trials and Dose-Response Meta-Analysis,” Journal of Pineal Research 76, no. 5 (2024): e12985, https://doi.org/10.1111/jpi.12985.
Simone Palagini et al., “Efficacy of Melatonin and Ramelteon for the Acute and Long-Term Management of Insomnia Disorder in Adults: A Systematic Review and Meta-analysis,” Journal of Sleep Research (2023), https://doi.org/10.1111/jsr.13939.
Kyungseon Choi et al., “Efficacy of Melatonin for Chronic Insomnia: Systematic Reviews and Meta-Analyses,” Sleep Medicine Reviews 66 (2022): 101692, https://doi.org/10.1016/j.smrv.2022.101692.
Jasmine Mah and Tyler Pitre, “Oral Magnesium Supplementation for Insomnia in Older Adults: A Systematic Review & Meta-Analysis,” BMC Complementary Medicine and Therapies 21 (2021): 125, https://doi.org/10.1186/s12906-021-03297-z.
Julius Schuster et al., “Magnesium Bisglycinate Supplementation in Healthy Adults Reporting Poor Sleep: A Randomized, Placebo-Controlled Trial,” Nature and Science of Sleep 17 (2025): 2027–2040, https://doi.org/10.2147/NSS.S524348.
Dieter Riemann et al., “The European Insomnia Guideline: An Update on the Diagnosis and Treatment of Insomnia 2023,” Journal of Sleep Research 32, no. 6 (2023): e14035, https://doi.org/10.1111/jsr.14035.
Pieter A. Cohen et al., “Quantity of Melatonin and CBD in Melatonin Gummies Sold in the US,” JAMA 329, no. 16 (2023): 1401–1402, https://doi.org/10.1001/jama.2023.2296.
National Center for Complementary and Integrative Health, "Sleep Disorders and Complementary Health Approaches," diakses Agustus 2026.