Walaupun angka 84 persen terdengar mengkhawatirkan, tetapi perlu dilihat bersama keterbatasan penelitiannya. Studi ini hanya melibatkan 61 orang dan hanya 19 di antaranya mengalami STEMI.
Desainnya juga bersifat potong lintang (darah diperiksa ketika pasien datang untuk menjalani angiografi) sehingga urutan sebab dan akibat tidak dapat ditentukan.
Para peneliti tidak menilai seluruh kemungkinan sumber paparan, seperti makanan, air, kemasan, obat-obatan, atau alat medis. Pasien serangan jantung non-STEMI juga tidak dimasukkan.
Para penulis sendiri menyatakan bahwa hasilnya masih bersifat eksploratif dan bertujuan membentuk hipotesis, bukan memberikan angka risiko yang pasti.
Saat ini belum ada pemeriksaan darah mikroplastik yang direkomendasikan sebagai bagian dari skrining penyakit jantung. Belum ada pula obat, suplemen, atau metode “detoks” yang terbukti dapat membersihkan mikroplastik dari tubuh.
Mikroplastik memang telah tercatat ditemukan dalam makanan, air, darah, dan organ manusia. Namun, bukti yang tersedia belum cukup untuk menentukan risiko kesehatan dari kadar mikroplastik yang ditemukan dalam makanan. Metode pengukuran antarpenelitian juga belum sepenuhnya standar.
Langkah yang paling masuk akal adalah mengurangi paparan yang memang sudah diketahui merugikan jantung, seperti:
Tidak merokok dan menghindari asap rokok.
Memeriksa kualitas udara dan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan ketika polusi sangat tinggi.
Memilih rute yang lebih jauh dari lalu lintas padat jika memungkinkan.
Tidak membakar sampah plastik.
Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang tidak diperlukan.
Tetap mengontrol tekanan darah, kolesterol, diabetes, pola makan, dan aktivitas fisik.
Polusi udara juga merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Orang dengan penyakit jantung dapat mempertimbangkan mengurangi waktu di lingkungan yang sangat tercemar dan menggunakan penyaring udara di dalam ruangan bila diperlukan.
Studi terbaru ini memang menunjukkan partikel plastik bisa masuk ke aliran darah yang menyuplai jantung. Bukan berarti satu botol plastik langsung menyebabkan serangan jantung, tetapi menambah bukti bahwa paparan gabungan (rokok, polusi udara, dan pencemaran plastik) perlu perhatian serius karena berpotensi merusak pembuluh darah.
Referensi
Pasquale Paolisso et al., “Micro- and Nano-Plastics in the Coronary Circulation and Air Pollution Exposure in Ischaemic Heart Disease Presentation,” European Heart Journal, diterbitkan daring 14 Juli 2026, ehag447, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehag447.
Raffaele Marfella et al., “Microplastics and Nanoplastics in Atheromas and Cardiovascular Events,” New England Journal of Medicine 390, no. 10 (2024): 900–910, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2309822.
U.S. Food and Drug Administration, “Microplastics and Nanoplastics in Foods,” diakses Juli 2026.
World Health Organization, “Air Pollution: Personal Interventions and Risk Communication,” diakses Juli 2026.
American Heart Association, “Air Pollution, Heart Disease and Stroke,” diakses Juli 2026.
European Society of Cardiology, “Microplastics Found in 84% of Serious Heart Attack Patients,” SciTechDaily, diakses Juli 2026.