Tidak semua kanker prostat harus langsung diobati. Pada sebagian kanker berisiko rendah, dokter dapat memilih active surveillance, yaitu pemantauan rutin dengan PSA dan pemeriksaan lain.
Pengobatan baru diberikan apabila kanker menunjukkan tanda perkembangan atau memang tergolong berisiko tinggi.
Pendekatan ini bukan berarti kanker diabaikan, melainkan untuk menghindari efek samping pengobatan yang mungkin tidak diperlukan pada kanker yang tumbuh lambat.
Penelitian menunjukkan bahwa pada kanker prostat yang masih terlokalisasi, angka kematian akibat kanker prostat tidak berbeda bermakna antara pemantauan aktif, operasi, dan radioterapi. Namun, penyebaran kanker lebih sering terjadi pada kelompok pemantauan aktif, sehingga pilihan terapi tetap perlu disesuaikan dengan risiko dan kondisi masing-masing pasien.
Skrining PSA juga tidak memberikan manfaat yang sama pada semua orang. Meski dapat mengurangi sebagian kematian akibat kanker prostat, tetapi skrining juga dapat menimbulkan hasil positif palsu, biopsi yang tidak diperlukan, overdiagnosis, dan efek samping pengobatan. Karena itu, manfaat dan risikonya perlu dipertimbangkan secara individual.
Skrining kanker prostat perlu mempertimbangkan manfaat dan risikonya. Sebelum menjalani pemeriksaan PSA, sebaiknya diskusikan usia, riwayat keluarga, kondisi kesehatan, penggunaan obat, serta langkah yang akan diambil jika hasilnya tidak normal. Hasil PSA menjadi bagian dari pengambilan keputusan medis yang lebih menyeluruh.
Referensi
US Preventive Services Task Force, “Screening for Prostate Cancer: US Preventive Services Task Force Recommendation Statement,” JAMA 319, no. 18 (2018): 1901–13, https://doi.org/10.1001/jama.2018.3710.
National Cancer Institute, “Prostate-Specific Antigen (PSA) Test,” diakses September 2026.
John T. Wei et al., “Early Detection of Prostate Cancer: AUA/SUO Guideline Part I: Prostate Cancer Screening,” The Journal of Urology 210, no. 1 (2023): 46–53, https://doi.org/10.1097/JU.0000000000003491.
Freddie C. Hamdy et al., “Fifteen-Year Outcomes after Monitoring, Surgery, or Radiotherapy for Localized Prostate Cancer,” New England Journal of Medicine 388, no. 17 (2023): 1547–58, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2214122.
Pada usia berapa laki-laki sebaiknya mulai membahas skrining kanker prostat? | Tidak ada satu usia untuk semua orang. Laki-laki berisiko rata-rata dapat mulai berdiskusi sekitar usia 50 tahun, sementara kelompok berisiko tinggi mungkin perlu membahasnya lebih awal, sekitar usia 40–45 tahun. |
Apakah PSA termasuk tes untuk mendiagnosis kanker? | PSA adalah tes skrining atau penilaian awal, bukan diagnosis pasti. Kanker prostat dikonfirmasi melalui pemeriksaan jaringan dari biopsi. |
Apa yang harus dilakukan jika PSA tinggi? | Jangan langsung menyimpulkan kanker. Dokter dapat mengulang PSA, mencari infeksi atau peradangan, menilai obat dan faktor lain, lalu mempertimbangkan MRI, tes tambahan, atau biopsi. |
Apakah PSA rendah menjamin tidak ada kanker? | Tidak. PSA rendah menurunkan kemungkinan, tetapi tidak menghapusnya. Faktor risiko, gejala, dan hasil pemeriksaan lain tetap penting. |
Apakah semua kanker prostat harus segera diobati? | Tidak. Kanker berisiko rendah dapat dipantau melalui active surveillance, sedangkan kanker berisiko tinggi atau yang berkembang memerlukan pembahasan terapi aktif. |