Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Mitos Asap Karhutla yang Perlu Diluruskan
Asap tebal akibat karhutla masih menyelimuti Kalbar. (IDN Times/Teri)
  • Asap karhutla tetap dapat berbahaya meski tidak terlihat pekat atau tidak lagi tercium; kualitas udara sebaiknya dinilai dengan pemantauan PM2.5/indeks kualitas udara.

  • Masker kain atau bedah tidak memberikan perlindungan optimal terhadap partikel halus asap. Respirator yang pas seperti N95 memberi perlindungan lebih baik.

  • Dampak asap tidak terbatas pada paru-paru dan tidak hanya mengenai kelompok rentan. Risiko juga dapat meningkat pada populasi umum, terutama ketika paparan tinggi atau berlangsung lama.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kabut kelabu yang menyelimuti permukiman membuat bahaya karhutla terasa nyata. Namun, ketika langit mulai terlihat lebih terang, kelegaan itu belum tentu sejalan dengan kualitas udara yang sebenarnya.

Kementerian Kesehatan pada 21 Agustus 2026 melaporkan karhutla telah berdampak di 87 kabupaten/kota pada tujuh provinsi, dengan sekitar 3 juta orang di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap.

Salah satu ancaman utamanya adalah PM2.5. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 90 persen massa partikel yang dilepaskan kebakaran berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel sekecil ini dapat mencapai bagian terdalam paru-paru.

Di tengah karhutla, beberapa anggapan yang terdengar masuk akal malah bisa membuat paparan berlangsung lebih lama.

1. Mitos: Kalau asap sudah tidak terlihat, udara berarti aman

Mata dan hidung kamu bukan alat pengukur kualitas udara.

Asap dapat terbawa hingga ribuan kilometer dari lokasi kebakaran. Konsentrasi PM2.5 juga bisa tetap meningkat ketika kabut tidak lagi tampak sangat tebal.

Masyarakat yang terdampak dianjurkan memantau indeks kualitas udara, jangan hanya mengandalkan warna langit atau bau asap.

Jadi, melihat langit sudah lebih cerah belum cukup untuk menyimpulkan kondisi aman untuk berlari, bersepeda, atau beraktivitas lama di luar rumah.

2. Mitos: Masker bedah atau masker kain sudah cukup menahan asap

Partikel PM2.5 sangat kecil. Masker kain, masker bedah, bandana, bahkan kain basah tidak dirancang untuk membentuk segel rapat di wajah dan memberikan perlindungan yang terbatas atau tidak memadai terhadap partikel asap yang sangat kecil.

Jika kamu harus keluar saat kualitas udara buruk, respirator partikulat seperti N95 atau P100 yang terpasang dengan baik memberikan perlindungan lebih besar.

N95 bekerja bukan hanya karena bahan filternya, tetapi karena udara dipaksa melewati filter ketika respirator menempel rapat pada wajah.

Meski demikian, N95 bukan perlindungan sempurna. Respirator partikulat terutama menyaring partikel, bukan seluruh gas berbahaya dalam asap. Karena itu, mengurangi durasi berada di luar tetap menjadi strategi utama.

3. Mitos: Selama berada di dalam rumah pasti aman dari asap

Lahan seluas 673,4 hektare terdampak karhutla di Taman Nasional Way Kambas, petugas gabungan terus berupaya melakukan pemadaman, Kelurahan Kuala Penet, Kecamatan Resort Kuala Penet, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung (21/8/2026). (Dok. BNPB)

Celah pintu, jendela, ventilasi, dan pertukaran udara memungkinkan PM2.5 masuk ke dalam rumah.

Penelitian yang mengukur tujuh rumah selama episode asap kebakaran menemukan infiltration factor PM2.5 sekitar 0,3–0,8. Artinya, menutup rumah memang membantu, tetapi tidak sepenuhnya mencegah partikel dari luar masuk. Penggunaan portable air cleaner berbasis HEPA dalam penelitian tersebut menurunkan PM2.5 dalam ruangan sekitar 48–78 persen.

Saat asap berat, kamu disarankan membuat ruangan udara bersih dengan cara memilih satu ruangan, menutup pintu dan jendela, mengurangi masuknya udara luar, dan gunakan air purifier dengan filtrasi partikulat jika tersedia. Sistem AC yang memungkinkan sebaiknya menggunakan mode resirkulasi.

Aktivitas di dalam rumah yang menghasilkan partikel—seperti merokok, membakar lilin, atau memasak dengan banyak asap—juga sebaiknya dikurangi.

4. Mitos: Asap karhutla cuma berbahaya untuk anak, lansia, dan pasien asma

Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit jantung dan paru memiliki risiko lebih tinggi. Namun, penelitian menunjukkan efek asap juga terlihat pada populasi umum.

Metaanalisis tahun 2025 mencakup 45 penelitian dengan data lebih dari 124 juta orang. Setiap kenaikan 10 µg/m³ PM2.5 dari kebakaran berkaitan dengan sekitar 4 persen peningkatan risiko relatif rawat inap karena penyakit pernapasan dan sekitar 4 persen peningkatan kunjungan ke unit gawat darurat akibat masalah pernapasan. Risiko mortalitas semua penyebab juga meningkat sekitar 2 persen.

5. Mitos: Dampaknya hanya ISPA dan penyakit paru-paru

Batuk, iritasi tenggorokan, sesak, mengi, dan serangan asma memang termasuk dampak yang paling jelas. Namun, PM2.5 juga dapat memicu stres oksidatif dan peradangan sistemik yang berhubungan dengan efek di bagian tubuh lain.

Selain gangguan paru-paru, WHO mencatat paparan asap kebakaran dapat berkaitan dengan palpitasi dan dampak kardiovaskular. Ada pula bukti yang berkembang mengenai dampak particulate matter pada jantung, sistem saraf, mata, kulit, ginjal, dan organ lainnya.

Penelitian juga menemukan hubungan asap kebakaran dengan peningkatan mortalitas kardiovaskular, rawat inap akibat asma, dan kunjungan gawat darurat akibat asma.

6. Mitos: Tetap olahraga di luar tidak masalah asal tubuh terasa kuat

ilustrasi lari (pixabay.com/fotorech)

Saat berjalan cepat, berlari, atau bersepeda, frekuensi dan kedalaman napas meningkat. Artinya, dalam waktu yang sama kamu berpotensi menghirup dosis polutan lebih besar daripada ketika duduk atau beraktivitas ringan.

Sebuah studi menjelaskan peningkatan minute ventilation selama olahraga meningkatkan dosis polutan yang terhirup. Karena itu, keputusan olahraga saat polusi tinggi perlu mempertimbangkan kualitas udara, intensitas, durasi, dan kondisi kesehatan masing-masing.

Sebaiknya batasi olahraga di luar ketika berasap, menurunkan intensitas aktivitas, atau menunggu sampai kualitas udara membaik.

Olahraga tetap penting untuk kesehatan. Yang perlu diubah selama episode karhutla adalah waktu, tempat, atau intensitasnya.

7. Mitos: Begitu api padam, ancaman kesehatan langsung selesai

Asap dapat tetap berada di udara dalam maupun luar ruangan selama beberapa hari setelah kebakaran berakhir. Abu yang tertinggal juga dapat kembali beterbangan ketika terganggu. Karena itu, keputusan kembali beraktivitas normal sebaiknya didasarkan pada informasi kualitas udara terkini.

Hal yang sama berlaku setelah hujan turun. Hujan dapat membantu mengurangi sebagian partikulat di atmosfer, tetapi tidak berarti kualitas udara otomatis dan permanen kembali sehat. Konsentrasi polutan dapat berubah kembali sesuai arah angin, sumber kebakaran yang masih aktif, dan kondisi atmosfer.

Saat kualitas udara memburuk, gunakan masker, batasi aktivitas di luar, jaga udara di dalam ruangan lebih bersih, serta pantau kualitas udara.

Jika muncul sesak napas yang memburuk, nyeri dada, mengi berat, palpitasi, atau gangguan pernapasan yang tidak membaik, pemeriksaan medis diperlukan—terutama pada anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan asma, PPOK, atau penyakit jantung.

Referensi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Menkes: Pakai Masker dan Pantau Kualitas Udara untuk Cegah Dampak Asap Karhutla,” diakses Agustus 2026.

World Health Organization, “Wildfires,” diakses Agustus 2026.

National Institute for Occupational Safety and Health, “How to Protect Workers and the Public from Wildfire Smoke,” diakses Agustus 2026.

Jianbang Xiang et al., “Field Measurements of PM2.5 Infiltration Factor and Portable Air Cleaner Effectiveness during Wildfire Episodes in US Residences,” Science of the Total Environment 773 (2021): 145642, doi:10.1016/j.scitotenv.2021.145642.

Yiyi Wang et al., “Associations of Wildfire-Derived Particulate Matter with Hospitalization, Emergency Department Visits and Mortality: A Systematic Review and Meta-analysis,” Environmental Research 273 (2025): 121221, doi:10.1016/j.envres.2025.121221.

Ying Lei et al., “Wildfire Smoke: Health Effects, Mechanisms, and Mitigation,” Environmental Science & Technology 58, no. 48 (2024): 21097–21119, doi:10.1021/acs.est.4c06653.

Matthew Glick et al., “Counseling Patients About Outdoor Exercise During Air Pollution Events,” Chest, published online June 18, 2026, doi:10.1016/j.chest.2026.06.009.

Editorial Team

Related Article