Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gejala Shin Splints yang Sering Diabaikan Pelari

Gejala Shin Splints yang Sering Diabaikan Pelari
ilustrasi shin splints (freepik.com/aleksandarlittlewolf)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Shin splints muncul akibat stres berulang pada tulang kering dan jaringan sekitarnya, sering disalahartikan sebagai pegal biasa setelah latihan lari.

  • Gejalanya berkembang bertahap, mulai dari nyeri tumpul saat aktivitas yang mereda ketika istirahat hingga rasa sakit menetap bahkan saat berjalan atau aktivitas ringan.

  • Pengenalan dini gejala seperti nyeri menyebar, sensitivitas saat ditekan, dan pembengkakan ringan penting agar intervensi cepat dapat mencegah cedera serius seperti fraktur stres.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ada fase dalam perjalanan lari ketika tubuh mulai memberi sinyal. Bukan lewat penurunan performa, tetapi lewat rasa tak nyaman yang datang perlahan. Salah satu keluhan paling umum adalah nyeri di sepanjang tulang kering, yang sering dianggap sekadar pegal biasa setelah latihan.

Padahal, di balik keluhan itu bisa tersembunyi kondisi yang dikenal sebagai shin splints atau istilah medisnya adalah medial tibial stress syndrome (MTSS). Bukan cedera mendadak, melainkan hasil akumulasi stres berulang pada tulang dan jaringan di sekitarnya. Mengenali gejalanya sejak awal penting agar tidak berkembang menjadi cedera yang lebih serius.

Table of Content

1. Nyeri di sepanjang tulang kering

1. Nyeri di sepanjang tulang kering

Gejala paling khas dari shin splints adalah nyeri di sepanjang bagian dalam tulang kering (tibia). Rasa nyeri ini biasanya tidak terlokalisasi pada satu titik kecil, melainkan menyebar di area yang lebih panjang.

Nyeri pada shin splints sering terasa sebagai sensasi tumpul atau pegal yang berkembang seiring aktivitas. Ini berbeda dengan cedera akut yang biasanya terasa tajam dan tiba-tiba.

Nyeri ini berasal dari stres berulang pada tulang dan jaringan lunak di sekitarnya, termasuk periosteum (lapisan luar tulang). Seiring waktu, inflamasi di area ini memicu rasa nyeri yang makin jelas.

2. Nyeri yang muncul saat aktivitas dan mereda saat istirahat

Pada tahap awal, nyeri shin splints sering hanya muncul saat berlari atau berolahraga. Setelah berhenti, rasa sakit bisa mereda atau bahkan hilang sementara.

Pola nyeri seperti ini adalah ciri khas cedera akibat overuse. Tubuh masih mampu “mengimbangi” stres saat istirahat, tetapi tidak saat aktivitas berulang.

Studi menunjukkan bahwa pola nyeri ini sering membuat pelari mengabaikan gejala awal, karena merasa kondisi tidak serius. Padahal, ini justru fase penting untuk intervensi dini.

3. Nyeri yang makin intens dan bertahan lebih lama

Dua wanita duduk di tangga luar ruangan, salah satunya memegang tulang kering sambil dibantu temannya, menggambarkan nyeri akibat shin splints.
ilustrasi shin splints (freepik.com/pressfoto)

Jika terus diabaikan, nyeri tidak lagi hilang setelah beristirahat. Rasa sakit bisa bertahan lebih lama, bahkan kamu bisa merasakannya saat berjalan atau melakukan aktivitas ringan.

Ini menunjukkan bahwa stres pada tulang dan jaringan telah meningkat. Penelitian menyebutkan bahwa progresi nyeri adalah tanda bahwa jaringan tidak lagi mampu pulih dengan cepat.

Pada tahap ini, risiko berkembang menjadi fraktur stres meningkat. Nyeri juga bisa mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, bukan cuma saat olahraga.

4. Sensitivitas atau nyeri saat ditekan

Gejala shin splints lainnya, area tulang kering menjadi lebih sensitif terhadap sentuhan. Saat ditekan, akan muncul rasa nyeri yang khas.

Nyeri tekan di sepanjang tibia adalah salah satu indikator klinis shin splints. Ini menunjukkan adanya inflamasi pada jaringan sekitar tulang.

Dalam praktiknya, pelari sering merasakan bahwa bagian tertentu di kaki tidak nyaman, bahkan saat disentuh ringan. Ini adalah tanda bahwa jaringan sudah mengalami iritasi.

5. Pembengkakan ringan pada area tulang kering

Pada beberapa kasus, shin splints disertai pembengkakan ringan. Ini merupakan respons inflamasi tubuh terhadap stres berulang.

Inflamasi jaringan lunak dapat menyebabkan perubahan visual seperti pembengkakan, meskipun tidak selalu signifikan. Pembengkakan ini sering tidak terlalu terlihat, tetapi bisa dirasakan sebagai rasa penuh atau tegang di area tulang kering.

6. Perubahan cara berjalan atau berlari

Seorang pelari mengenakan pakaian olahraga hitam berlari di jalan beraspal dengan garis biru di bawah sinar matahari.
ilustrasi orang sedang lari (pexels.com/Kaan Durmuş)

Seiring nyeri meningkat, tubuh secara alami mencoba mengurangi beban pada area yang sakit. Ini dapat mengubah pola berjalan atau berlari.

Menurut penelitian biomekanik, perubahan gait ini dapat memicu masalah baru di area lain seperti lutut atau pinggul. Tubuh mencoba mengompensasi, tetapi sering kali justru menciptakan ketidakseimbangan.

Perubahan ini biasanya tidak disadari, tetapi bisa dilihat dari langkah yang lebih pendek, ritme yang berubah, atau kecenderungan menghindari tekanan pada kaki tertentu.

Kapan harus menemui dokter?

Segera cari bantuan medis jika mengalami:

  • Nyeri yang tidak membaik setelah istirahat beberapa hari.
  • Nyeri tajam di satu titik (bukan menyebar).
  • Pembengkakan signifikan atau kemerahan.
  • Nyeri saat berjalan atau aktivitas ringan.
  • Kecurigaan fraktur stres.

Diagnosis dini penting untuk mencegah komplikasi seperti patah tulang stres.

Shin splints merupakan hasil akumulasi stres yang sebenarnya bisa dikenali sejak awal. Gejalanya berkembang bertahap, dari nyeri ringan saat aktivitas hingga rasa sakit yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Ketika gejala dikenali lebih awal, intervensi sederhana seperti istirahat dan modifikasi latihan bisa mencegah cedera yang lebih serius.

Referensi

American Academy of Orthopaedic Surgeons. “Shin Splints (Medial Tibial Stress Syndrome).” Diakses April 2026.

Maarten H. Moen et al., “Medial Tibial Stress Syndrome,” Sports Medicine 39, no. 7 (June 18, 2009): 523–46, https://doi.org/10.2165/00007256-200939070-00002.

Ashley Larson et al., “Medial Tibial Stress Syndrome,” StatPearls - NCBI Bookshelf, December 30, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538479/.

American College of Sports Medicine. “Overuse Injuries in Athletes.” Diakses April 2026.

Phillip Newman et al., “Risk Factors Associated With Medial Tibial Stress Syndrome in Runners: A Systematic Review and Meta-analysis,” Open Access Journal of Sports Medicine 4 (November 1, 2013): 229, https://doi.org/10.2147/oajsm.s39331.

Maarten Hendrik Moen et al., “The Treatment of Medial Tibial Stress Syndrome in Athletes; a Randomized Clinical Trial,” Sports Medicine Arthroscopy Rehabilitation Therapy & Technology 4, no. 1 (March 30, 2012): 12, https://doi.org/10.1186/1758-2555-4-12.

National Health Service. “Shin Splints.” Diakses April 2026.

Ben Yates and Shaun White, “The Incidence and Risk Factors in the Development of Medial Tibial Stress Syndrome Among Naval Recruits,” The American Journal of Sports Medicine 32, no. 3 (March 15, 2004): 772–80, https://doi.org/10.1177/0095399703258776.

Nigg, Benno M. 1989. “Biomechanics of Running Shoes.” Sports Medicine 7: 1–15.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More