Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mitos atau Fakta: Sakit Kepala saat Puasa Tanda Kurang Gula

Mitos atau Fakta: Sakit Kepala saat Puasa Tanda Kurang Gula
ilustrasi sakit kepala (freepik.com/jcomp)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Sakit kepala saat puasa tidak selalu berarti tubuh kekurangan gula darah, karena penyebabnya bisa lebih kompleks dari sekadar penurunan glukosa.

  • Tubuh orang sehat memiliki mekanisme adaptasi metabolik yang menjaga kadar gula tetap stabil meski tidak makan selama beberapa jam.

  • Faktor seperti dehidrasi, penghentian kafein, perubahan pola tidur, dan transisi metabolik awal puasa sering menjadi pemicu utama sakit kepala.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat berpuasa, baik puasa Ramadan atau intermittent fasting atau tidak makan dalam waktu lama, tidak sedikit orang mengeluhkan sakit kepala, terutama menjelang siang atau sore hari. Kondisi ini kerap langsung dikaitkan dengan “kurang gula” karena tubuh tidak mendapat asupan makanan selama berjam-jam.

Secara medis, kadar gula darah rendah (hipoglikemia) memang dapat menimbulkan gejala seperti lemas, pusing, hingga sakit kepala. Namun, benarkah setiap sakit kepala saat puasa pasti menjadi tanda tubuh kekurangan gula?

Faktanya, penyebabnya tidak sesederhana itu. Selain perubahan kadar glukosa, faktor lain seperti dehidrasi, perubahan pola tidur, hingga penghentian konsumsi kafein juga berperan. Artinya, anggapan bahwa sakit kepala saat puasa selalu berarti kurang gula perlu ditelaah lebih lanjut.

Table of Content

Kenapa tidak tepat?

Kenapa tidak tepat?

Anggapan bahwa sakit kepala saat puasa sama dengan tubuh kekurangan gula darah tidak sepenuhnya tepat.

Secara medis, kadar gula darah yang terlalu rendah memang dapat memicu gejala seperti gemetar, keringat dingin, lemas, jantung berdebar, hingga sakit kepala. Otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi, sehingga penurunan gula darah yang signifikan dapat memicu nyeri kepala.

Namun, dalam kondisi puasa pada orang sehat, tubuh memiliki mekanisme adaptasi metabolik. Setelah beberapa jam tanpa asupan makanan, kadar glukosa memang menurun, tetapi hati akan melepaskan cadangan glikogen dan kemudian beralih ke produksi glukosa melalui glukoneogenesis. 

Pada individu tanpa gangguan metabolik, tubuh mampu menjaga kadar gula tetap dalam rentang normal meski tidak makan selama beberapa jam. Klaim bahwa sakit kepala saat puasa selalu karena kurang gula lebih tepat disebut sebagai penyederhanaan berlebihan. Pada sebagian orang—terutama pasien diabetes atau yang rentan hipoglikemia—itu bisa terjadi. Akan tetapi, pada mayoritas orang sehat, penyebabnya cenderung multifaktorial, bukan semata-mata kadar gula yang turun.

Faktor-faktor penyebabnya

Ilustrasi sakit kepala.
ilustrasi sakit kepala (pexels.com/TBD Tuyên)

Jika bukan karena kurang gula, lalu apa lagi pemicunya? Berikut jawabannya:

  • Dehidrasi

Selama puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan selama berjam-jam. Kekurangan cairan dapat menyebabkan penurunan volume plasma dan perubahan keseimbangan elektrolit, yang pada sebagian orang memicu nyeri kepala.

Dehidrasi adalah salah satu pemicu paling umum sakit kepala saat puasa, bahkan pada individu tanpa gangguan gula darah.

  • Penghentian kafein

Kalau kamu terbiasa minum kopi atau teh berkafein setiap pagi, tidak mengonsumsinya saat puasa dapat memicu apa yang disebut sebagai withdrawal headache.

Secara fisiologis, kafein memengaruhi pembuluh darah otak. Ketika asupannya dihentikan tiba-tiba, terjadi perubahan tonus vaskular yang dapat memicu nyeri kepala.

  • Perubahan pola tidur

Selama Ramadan, waktu tidur sering bergeser karena bangun lebih awal untuk sahur. Kurang tidur dapat meningkatkan sensitivitas terhadap nyeri. Gangguan ritme sirkadian memengaruhi regulasi hormon, termasuk kortisol, yang berperan dalam respons stres dan persepsi nyeri.

  • Respons metabolik awal puasa

Pada fase awal puasa, tubuh mengalami transisi dari penggunaan glukosa ke pemanfaatan cadangan energi seperti glikogen dan asam lemak. Perubahan metabolik ini bisa memicu gejala sementara seperti lemas, pusing, atau sakit kepala, terutama pada individu yang belum terbiasa berpuasa.

Dengan demikian, sakit kepala saat puasa tidak dapat langsung disimpulkan sebagai tanda hipoglikemia atau gula darah rendah. Pada orang sehat, lebih sering keluhan ini dipicu oleh kombinasi dehidrasi, perubahan pola tidur, adaptasi metabolik, dan faktor gaya hidup—bukan semata-mata karena kadar gula darah turun.

Referensi

"9 Potential Intermittent Fasting Side Effects". Healthline. Diakses Februari 2026.

"Why do headaches and fatigue show up during intermittent fasting, and what can you do about them?". Eurekahealth. Diakses Februari 2026.

"The Fasting Headache". National Headache Foundation. Diakses Februari 2026.

"What’s the connection between low blood sugar and headaches?". Zoe. Diakses Februari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More